Surat Cinta untuk Penulis dan Pembaca Voxpop

Surat Cinta untuk Penulis dan Pembaca Voxpop

figmentsstudio.com

Selasa 26 April, tepatnya pukul 13.20 WIB, mail@voxpop.id menerima sebuah kiriman artikel berpesan, “Dear kang mas, silahken dipelajari.” Terus terang saja – meminjam kata-kata pembuka dalam artikel tersebut – kami belum sempat mempelajarinya.

Ketika itu, setelah menayangkan artikelnya Bram Sitompul berjudul “Politik, Hukum, Sepak Bola. Siapa Jadi Panglima?”, kami sedang membaca-baca sekitar 12 naskah artikel baru yang masuk sejak pagi. Itu berarti, artikel berkode “kang mas” mengganjilkan jumlah naskah baru yang masuk hari itu menjadi 13. Sebuah angka yang kurang asyik dari segi mitos, terutama bagi nasib artikel ke-13 itu sendiri. Ini bisa menjadi alasan paling mudah untuk menyatakan, “Tidak lolos kurasi.”

Namun, si pengirim ini tampaknya memang punya intuisi yang mumpuni. Dia adalah Gege Sureggae, seorang pemuda idaman nan progresif revolusioner asal Garut, Jawa Barat. Dia juga kawan sekaligus seteru abadi Hinayana, pemuda kiri asal Bandung, Jawa Barat. Jangan coba-coba ikut berseteru dengan mereka soal ide-ide dan gagasan. Sebab, di dunia ini, hanya ada satu yang bisa menyatukan mereka, yaitu Persib.

Balik lagi ke soal intuisi. Bagaimana intuisi kang mas Gege ini tidak tajam, tak lama setelah kirim artikel, beliau juga mengirim pesan via BBM ke Jauhari Mahardika. Mungkin kang mas Gege menduga kuat artikelnya bakal tidak lolos. Ada yang mau tahu seperti apa dialog antara Gege dan Jauhari?

Berikut hasil sadapannya:

Gege         : “Kang mas… Ana kirim email tuh… Heuheuuu (13.35)

Jauhari      : “Siaapp…” (15.43)

Gege         : “Sudahkah dibaca kang masku? (16.36)

Jauhari      : “Sbntr, ini msh ngurus kerjaan yg lain, hehe… Nnt klo agak lengang baru dibaca. Klo baca artikelnya kang mas kan kudu penuh penghayatan yg mendalam sedalam segitiga bermuda. (16.46)

Gege         : “Ahahahahahahaaaaa bisa aja (16.49)

Jauhari      : *emoticon tertawa mangap-mangap (17.41)

Gege         : Udah dibaca? (17.42)

Jauhari      : Sabar kang mas hehe (17.43)

Gege         : Hahaaa mohon maap (17.43)

Jauhari      : Msh deadline yg lain ini haha. Siapp… (17.43)

Gege         : Jadi ga tayang ini? (17.45)

Jauhari      : Belum baca kang mas, nnt malem dikabarin hehe (17.46)

Gege         : Oh mangga siap kang mas (17.47)

Bayangkan, sejak pukul 13.35 sampai 17.47 WIB, terjadi komunikasi yang intensif dan begitu manis di antara mereka berdua. Sebenarnya ini lobi saham Freeport atau intuisi sih? Lalu, apakah cukup sampai di situ? Tentunya tidak, wahai peserta sidang sekalian.

Pada Rabu, sekitar pukul 00.17 dini hari, Jauhari terekam membalas email ke Gege. “Haha… Mantap,” ujar Jauhari. Lalu, sekitar pukul 01.15, Gege pun membalas, “Wkwkwk… Iya dong, pasti. Guee… Ahahahhh. Cuma persoalannya… Berani nggak nayanginnya? Wahahahaha…”

Setelah itu, tidak ada komunikasi lagi. Mungkin sudah tertidur pulas, terutama Gege yang selalu dimanja hawa sejuk nan romantis ala ‘Swiss van Java’. Sampai akhirnya artikel berjudul “Antara Pram dan Syekh Siti Jenar (Sebuah Saran untuk Voxpop)” karya Gege Sureggae tayang di situs voxpop.id pada Kamis, 28 April, atau sehari setelah penayangan artikelnya Imam B Carito berjudul “Bersepakat dengan Goenawan Mohamad dan Melupakan Pram” pada Rabu, 27 April.

Intinya, artikel berjudul “Antara Pram dan Syekh Siti Jenar (Sebuah Saran untuk Voxpop)” berisi kritikan saran atau mungkin harapan sebagian penulis atau bahkan para pembaca voxpop.id yang cerdas dan kece-kece. Bagi yang penasaran apa saja saran-saran atau kritikannya, silakan klik judul artikelnya.

Yang pasti, tidak ada penolakan sama sekali dari para punggawa voxpop.id mengenai artikel tersebut, karena situs ini tidak anti-kritik, bahkan sebelum ruhnya ditiupkan. Bukan lagi sejak dalam pikiran. Tidak perlu otorisasi Pramoedya Ananta Toer, Goenawan Mohamad, Wali Songo, Syekh Siti Jenar, atau Nyi Roro Kidul sekalipun untuk menjawab itu semua.

Tidak perlu juga memakai paradigma dekonstruksi Derrida untuk meyakinkan Gege Sureggae, Hinayana, Imam B Carito, termasuk Fandy Hutari, Elvan De Porres, dan Wahyu Alhadi (Awang Blackdog). Cukup dengan perasaan kecintaan kami terhadap para penulis dan pembaca di seluruh pelosok negeri.

Perasaan cinta kami rupanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ada sebelah kiri, ada pula kanan. Ini patut dirayakan dengan tepuk tangan yang keras. Segala kritikan apalagi pujian tentunya, kami anggap sebagai cinta yang bersambut. Cinta yang tumbuh di dalam sebuah rumah besar bernama, voxpop.id.

Voxpop.id adalah rumah besar yang didedikasikan sepenuhnya untuk para penulis independen, komunitas, dan tentunya para pembaca. Kami pun menerjunkan putra-putri terbaik untuk mengelola rumah tersebut.

Sebut saja, Jauhari Mahardika. Pengalamannya sebagai jurnalis selama lebih dari 13 tahun tak perlu diragukan lagi. Beliau matang di lapangan maupun di balik meja. Mulai dari peliputan spesialis daerah bencana alam, daerah konflik, investigasi, sampai arena liputan di hotel berbintang lima yang sejuk membawa kantuk.

Berbagai desk sudah ditempatinya, mulai dari perkotaan, politik, maupun ekonomi. Pemahamannya terhadap isu-isu strategis di dalam negeri sebenarnya sudah terbentuk sejak kuliah di Jakarta sekitar 1997-1998. Dia aktif di lembaga kajian pemikiran kritis dan menjadi salah satu simpul pergerakan mahasiswa di Jakarta melawan rezim Orde Baru.

Selain Jauhari, ada juga Kokok Dirgantoro. Siapa yang tak kenal blio? Mantan jurnalis cum selebtwit cum pengusaha sukses. Kokok sudah terbukti bagaimana membangun bisnis mulai dari nol sampai membuahkan hasil yang terasa manis. Bagaimana dia membangun Opal Communication dalam tempo tiga tahun, sehingga menjadi sebuah perusahaan jasa komunikasi strategis ternama saat ini.

Di voxpop.id, Kokok pun didapuk sebagai CEO, yang fokus pada pengembangan usaha dan mitra strategis. Kami juga dibantu oleh enam orang lainnya, yang berprofesi sebagai jurnalis, penulis, kartunis, fotografer, dan ahli teknologi informasi.

Tak berlebihan, kalau kita ikut mendukung mereka agar berhasil. Toh, hasilnya akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk para penulis dan pembaca, yang kami anggap sebagai sebuah keluarga yang tinggal dalam sebuah rumah besar.

Sebagai sebuah rumah besar yang didedikasikan untuk publik, maka voxpop.id harus independen. Tidak melakukan framing untuk kepentingan satu ideologi atau pihak tertentu. Dia haruslah multi-perspektif, sehingga tidak terjebak ke dalam sektarianisme.

Siapapun penulisnya, entah itu yang mengaku kiri, tengah, kanan, atau yang tidak ke mana-mana, bebas bernarasi dan menjadi pengendali wacana. Tentu semua itu tidak keluar dari koridor pengayaan intelektualitas. Kalaupun ada proses seleksi, itu hanya bagian dari pengendalian mutu (quality control) demi kepentingan pembaca.

Itu sebabnya kami pilih nama voxpop yang merupakan akronim dari ‘Vox Populi’ yang berarti suara rakyat. Lalu, rakyat yang mana? Semua lapisan masyarakat. Bukankah semua orang berhak menyampaikan pendapatnya? Mulai dari problem negara sampai persoalan hidup sehari-hari, termasuk urusan asmara.

Peneguhan voxpop.id sebagai sebuah rumah juga tampak pada gaya tulisan. Gaya yang dipakai ringan dan renyah, khas percakapan sehari-hari. Ada yang lucu, serius, kadang garing, jayus, nyeleneh, dan lain-lainnya. Ya itulah kita. Tapi bukan berarti abai terhadap kualitas konten. Jadilah kerupuk salmon, biar renyah tapi tetap bergizi.

Untuk urusan itu, salut kepada Bram Sitompul, Isidorus Rio Turangga, Alief Maulana, Katondio Bayumitra Wedya, Arif Utama, Asta Purbagustia, Indra Darmawan, Nugraha Eka Putra, Ganang Nur Restu, Ichsan Maulana, Abdu Rizal S Syam, Ariesadhar, Kennial Laia, Ledian Lanis, Efi Yanuar, dan lain-lainnya.

Tentu salut dan kagum juga kepada Rausyan Fikry, Farid Firdaus, Saliki Dwi Saputra, Hidayat Adhiningrat, Antonia Timmerman, dan Eko Rio Wibowo, yang juga ikut mendirikan voxpop.id.

Tulisan-tulisan mereka tak hanya menghibur, tapi juga sarat makna. Tidak menutup kemungkinan memiliki elan pembebasan yang menjalar ke jalan dan menggedor sebuah sistem. Dan, ketika ‘Vox Populi’ bertemu dengan saudara kembarnya, ‘Vox Dei’, percayalah… itu akan menjadi sebuah keniscayaan sejarah…