Surat Balasan untuk Kartini

Surat Balasan untuk Kartini

Ilustrasi film Kartini (jawapos.com)

Bolehkah aku cukup memanggilmu Kartini saja? Tanpa embel-embel Raden Ajeng, Raden Ayu, atau Nyonya/Mevrouw Djojohadiningrat, sebagaimana yang kamu kehendaki dalam surat yang kamu kirim kepada noni Estelle Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 dan dikutip sebagai judul dalam semibiografi ‘Panggil Aku Kartini Saja’ karya Pramoedya Ananta Toer.

Mungkin orang abai dan menganggap gelar serta atribut yang kamu sandang sebagai suatu hal yang remeh, padahal di titik itulah inti perjuanganmu. Kamu berusaha melawan sekat hirarki yang menempatkan kaum perempuan pada bagian terendah dalam strata sosial di lingkunganmu.

Kamu sendiri, meskipun dilahirkan dalam keresidenan sebagai priyayi, putri dari Bupati Jepara RMA Sosroningrat, juga tak luput menjadi korban sistem patriarki. Kamu diharuskan membungkukkan badan sedemikian rupa ketika melewati kakak-kakakmu, begitu pula adik-adikmu saat mereka melintas di hadapanmu.

Kamu juga tidak diperkenankan mengenyam pendidikan tinggi sebagaimana saudara-saudara lelakimu, atau ketika kamu dan adik-adik perempuanmu diperlakukan secara tidak adil dalam adat pingitan yang mengharuskan kalian terkungkung dalam rumah selama bertahun-tahun.

Apakah kami ingat tentang semua perjuanganmu itu?

Tentu. Tetapi jujur saja, kami mengenangmu tak lebih dari sekadar menempelkan potretmu di dinding-dinding sekolah atau sekadar larut dalam perayaan simbolik nan formalitas dalam kontes-kontes sanggul dan kebaya yang diselenggarakan saban tanggal 21 April.

Selebihnya, sedikit dari kami yang mengenalmu bahwa selain sebagai pejuang emansipasi, kamu adalah perempuan yang mengutuk kolonialisme, feodalisme, dan ketidakmajuan.

Lebih dari itu, bersama Tirto Ardi Soerjo dan H Agus Salim, kamu adalah generasi awal dari sejarah pemikiran modern Indonesia. Di tanganmu kemajuan dirumuskan, diperinci, dan diperjuangkan. Organisasi-organisasi kebudayaan, sosial, dan politik yang muncul kemudian adalah pelaksana, penerus, dan pengembangan dari segala konsep yang kamu cetuskan.

Entahlah, kami barangkali generasi yang malas untuk mengingat. Kami lebih suka larut dalam gegap gempita ritual-ritual tanpa mengindahkan esensi dari sebuah perayaaan. Bisa jadi 50-100 tahun yang akan datang, generasi-generasi berikutnya akan melupakan ruh perjuanganmu.

Aku tak peduli pada mereka yang menganggap bahwa kamu hanyalah bentukan kaum penjajah sebagai bagian dari politik balas budi atau politik etis. Tuan JH Abendanon, orang yang pertama kali membukukan surat-suratmu, konon melakukan itu sebagai upaya mempertegas pengaruhnya.

Atau, saat sejarah menyebutkan bahwa pemberian gelar kepahlawananmu pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno tidak terlepas dari intervensi kepentingan dan penilaian secara politis. Atau, saat Orde Baru merekonstruksi namamu, dari Kartini yang identik dengan semangat perubahan menjadi Kartini sebagai panutan ibu-ibu untuk manut dan tunduk.

Aku berusaha mafhum terhadap kecenderungan itu. Bagaimanapun, itu justru menegaskan pentingnya sosok dan besarnya pengaruhmu dalam historiografi Indonesia. Tapi, sebetulnya apa yang kamu keluhkan, kamu tulis, lalu kamu kirim ke para sahabat penamu dapat dengan mudah kami lakukan saat ini.

Yang membedakan hanyalah, kalau kami generasi hari ini lebih banyak menulis tetek-bengek perihal asmara dan ujaran kebencian di beranda Facebook, kamu dengan segala keterbatasan bacaan dan fasilitas justru masih sempat-sempatnya memikirkan dan menulis soal permasalahan dan penderitaan rakyat.

Bagiku, kamu adalah pendobrak zaman, wanita progresif yang sebetulnya tak pantas untuk hidup pada zaman kolot di eramu. Tapi bukankah setiap zaman butuh pendobrak sepertimu? Atau, kalau boleh meminjam kalimatmu, “Dalam setiap zaman ada saja gadis-gadis yang memberontak.” Dari situlah, sejarah memilih dan melahirkanmu, seorang gadis muda yang muncul untuk bangkit dan melawan keadaan.

Tapi Kartini, sejak kepergianmu, selama itu pula kami tidak pernah benar-benar keluar dari zaman kegelapan. Kata ‘terang’ dalam judul kompilasi surat-suratmu ‘Habis Gelap, Terbitlah Terang’ tak pernah benar-benar kami nikmati. Kami seolah-seolah sedang melewati dari satu terowongan gelap untuk kemudian memasuki terowongan gelap yang lain.

Boleh jadi, saat ini, perempuan-perempuan sudah diperbolehkan sekolah setinggi-tingginya, kita sudah merdeka dari penjajahan, tetapi maraknya kasus pelecehan, perkosaan, industrialisasi yang meletakkan seksualitas dan perempuan sebagai komoditi, dan kapitalisme sebagai model kolonialisme anyar adalah problem besar yang kami hadapi saat ini.

Kami perlu Kartini baru. Tentu saja lebih dari sekadar upaya Hanung Bramantyo yang menghadirkan kembali sosokmu dalam tubuh Dian Sastrowardoyo di film biopik tentangmu. Kami perlu lebih banyak Kartini-Kartini yang tak cuma lihai geal-geol di atas panggung dalam sanggul dan balutan kebaya, tapi Kartini-Kartini yang betul-betul mewariskan semangat juangmu.

Demikian surat balasan untukmu, Kartini. Ya, Kartini.