Siapa yang Sukses, Siapa yang Ngenes

Siapa yang Sukses, Siapa yang Ngenes

Selalu ada cerita di balik perayaan Lebaran, terutama saat kumpul keluarga di rumah. Banyak cerita yang membahagiakan, tapi tak sedikit yang menyesakkan dada. Bukan, ini bukan soal ditanya “kapan nikah” atau “calonmu mana” atau “kapan wisuda”, tapi lebih pada momen penegasan diri dalam strata sosial.

Mereka yang selama ini bersusah payah memanjat ke level sosial tertentu (social climber) – apalagi dengan cara-cara instan – menganggap Lebaran sebagai hajatan terpenting untuk meletakkan derajat kehidupan. Dan, materi masih menjadi ukuran siapa yang sukses, siapa yang ngenes, terutama bagi kaum urban.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa penjualan mobil dan sepeda motor rata-rata meningkat menjelang Lebaran. Yang penting ambil dulu, cicil kemudian. Kalaupun berat, karena juga harus menyicil KPR, tak ada masalah jika nanti ditarik oleh leasing.

Selain kendaraan bermotor, penjualan yang biasanya naik menjelang Lebaran adalah bahan bangunan. Mulai dari cat tembok sampai kebutuhan barang untuk renovasi rumah. Belum lagi penukaran uang receh yang setiap tahun bikin repot Bank Indonesia.

Anda tahu berapa yang disiapkan BI untuk penukaran uang menjelang Lebaran tahun ini? Jumlahnya mencapai Rp 167 triliun!

Uang tersebut bisa membangun dua kota setara Jakarta, karena APBD ibu kota Indonesia itu hanya, lho kok hanya, Rp 70,1 triliun. Apalagi dibanding Sumatera Barat yang APBD-nya cuma Rp 6,2 triliun.

Tapi ada yang bilang, “Itu kan bagus untuk pemerataan kekayaan.” Iya, kalau memang kaya beneran. Tapi kalau cuma sekadar pencitraan? Lagipula itu cenderung situasional alias dadakan alias sporadis, artinya bukan solusi jitu pemerataan.

Dalam kondisi masyarakat yang kapitalistik seperti itu, sulit rasanya bicara soal idealisme. Bahwa menjadi kelas menengah itu sungguh berat. Maksud hati tak ingin konsumtif, tapi apa daya nalar tak sampai.

Apalagi kalau liat baju yang lucu-lucu, lupa kalau limit kartu kredit sudah menipis. Mau bagaimana lagi, diskonnya sudah tak waras. Benar kata orang: “Di hadapan diskon, semua orang sama. Sama-sama lemah.”

Tapi masa iya, baju baru saja tak terbeli? Mau pakai baju Lebaran tahun lalu? Kelas menengah macam apa? Tak sadar kelas.

Lalu, apa kata keluarga di kampung? Apa kata teman-teman sekolah dulu yang berdagang di kota besar dan rela tinggal di rumah petak kontrakan, tapi di kampung punya rumah gedong, empang, bahkan sawah?

Ya mau tidak mau, dicukup-cukupkan lah uang tunjangan hari raya alias THR yang selalu menjadi dambaan itu. Kalau bicara cukup atau tidak, pasti tidak akan cukup. Tapi sudah tahu begitu, masih saja nyinyirin buruh yang aksi menuntut kenaikan upah.

Lho, apa hubungannya dengan buruh? Ya kalau dulu tidak ada perjuangan kaum buruh, tidak bakal ada kewajiban pemberian THR yang sekarang menjadi hak seluruh pekerja, termasuk anda. Eh tapi, pekerja itu buruh juga bukan? Kalau karyawan?

Maka, jangan heran bahwa menunggu Tambatan Hati Raisa THR terkadang lebih mendesak daripada Lailatul Qadar. Belanja baju baru dan segala macam perniknya lebih penting dibanding salat tarawih dan i’tikaf pada hari-hari terakhir puasa.

Ya, semua itu apalagi kalau bukan demi ‘naik kelas’ pada hari Lebaran. Baju baru, motor baru, mobil baru, dan oh ya jangan lupa uang recehnya. Seorang teman pernah berbisik, “Kalau Lebaran nggak mau repot, nggak usah mudik.”

Wah, itu namanya menyelesaikan kerepotan dengan menambah kerepotan. Seharusnya tanpa kerepotan baru, kayak jargon Pegadaian: ‘Menyelesaikan masalah tanpa masalah’. Ngomong-ngomong, kenapa Pegadaian begitu ramai menjelang Lebaran?

Jadi, opsi tidak mudik itu sesuatu yang nggak banget. Sebab, mudik di Indonesia sudah seperti ritual selama Ramadan. Yang ini namanya segmen hubungan manusia dengan manusia, hablum minannas. Biarlah ‘nggak pulang-pulang’ itu hanya milik Bang Toyib.

Soal Bang Toyib, dari dulu saya penasaran banget. Beliau pergi ke mana sih? Bisa jadi beliau memang berada di luar negeri. Mungkin di Arab Saudi, karena konon ia punya visa tak terbatas.

Wah, asyik dong bisa belanja-belanji tanpa harus keluar uang tunai. Lho, ini visa yang mana? Yang alat pembayaran non-tunai, bukan? Maklum, kelas menengah.

Jadi, mudik lah sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, dan semacet-macetnya. Siapkan diri anda agar tidak terlempar ke strata paling bawah. Semua ini karena adanya persepsi yang membentuk tatanan sosial di negeri ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila’ ini. Sebuah tatanan yang masih memandang kelas.

Hari Raya Idul Fitri seharusnya menjadi hari kemenangan setelah berjuang melawan hawa nafsu selama sebulan berpuasa. Nafsu duniawi, nafsu yang mengagung-agungkan materi. Pada hari kemenangan seharusnya tak ada kelas yang kalah.

Dalam agama Islam bahkan selalu ditegaskan, Idul Fitri adalah kembali ke fitrah. Kembali suci seperti bayi yang baru lahir. Kembali ke nol, bukan cuma kembali ke kilometer nol.

Tapi entah kenapa, sepertinya hanya para sufi yang bisa memahami hikmah puasa dan Lebaran dalam tindakan nyata. Adalah kembali pada kebijaksanaan hidup, menjaga hubungan yang hakiki antara manusia dan Tuhan, dan menghargai manusia seutuhnya.

Tabik.