Sukses Berbisnis, meski Tak Sekaya dan Sepopuler Selebritis

Sukses Berbisnis, meski Tak Sekaya dan Sepopuler Selebritis

tribunnews.com/pojoksatu.id/liputan6.com

Tak seperti biasanya, hari itu, kerumunan warga dan antrean mengular terjadi sejak pukul 03.30 pagi di Jalan Cihampelas No 120, Bandung. Orang nomor satu di Kota Bandung Ridwan Kamil bahkan rela menyempatkan diri berbaur bersama warga.

Ada apa gerangan?

Pelantun lagu “Sesuatu”, Syahrini ternyata belum puas unjuk gigi dalam dunia bisnis. Setelah membuka tempat karaoke, kini ia merambah bisnis kuliner dengan membuka toko kue yang diberi nama Princess Cake.

Meski, kerap menerima cibiran, tak bisa dipungkiri selebritis yang dikenal dengan gaya centil nan manja ini memang selalu menarik perhatian. Tak terkecuali, saat mengumumkan grand opening Princess Cake Bandung di akun Instagramnya yang sudah memiliki lebih dari 18 juta pengikut.

Dalam postingan itu, Syahrini bahkan menjanjikan bakal berfoto dan makan malam bersama lima pembeli pertama Princess Cake. Alhasil, kehebohan dan membludaknya warga yang ingin mencicipi kue berslogan Kacida raosna” itu tak dapat dihindari. Tak perlu menunggu hingga toko tutup, stok kue sudah ludes pada siang hari.

Meski bukan merupakan barang baru, bisnis kue oleh-oleh kembali mendapat sorotan dan seolah jadi tren belakangan ini, karena banyaknya kalangan selebritis yang menekuni usaha yang katanya tak pernah lekang oleh waktu.

Sebut saja, Laudya Cynthia Bella, Irwansyah dan Zaskia Sungkar, Nagita Slavina, Teuku Wisnu, Dude Herlino, hingga Zaskia Adya Mecca. Sebagian pihak bahkan merasa terancam dengan sepak terjang mereka, karena dianggap mematikan usaha kecil oleh-oleh di daerah.

Para artis atau selebritis yang menggeluti dunia bisnis memang bukan hal baru. Salah satu artis yang juga cukup produktif menciptakan peluang usaha baru adalah Dian Sastrowardoyo.

Wanita lulusan Filsafat dan Manajemen Universitas Indonesia ini tak pernah kehabisan ide untuk membuat inovasi baru, dari mulai menjual perlengkapan bayi, mukena premium, menginisiasi start up Ruang Guru, katering sehat, restoran, hingga jasa fotografi perjalanan.

Dian Sastro juga cukup aktif mempromosikan bisnis dan kegiatannya lewat akun media sosialnya yang kini memiliki lebih dari 5 juta pengikut.

Selain populer, ia juga dikenal sebagai sosialita, terlebih sejak dirinya dipersunting Indraguna Sutowo yang merupakan pengusaha sukses sekaligus cucu dari salah satu petinggi perusahaan minyak pada era Orde Baru.

Tak hanya kuliner rupanya, bisnis fesyen juga menjadi ladang subur bagi selebritis untuk menambah pundi-pundi penghasilan. Sebut saja Luna Maya, dirinya tampak tak cukup puas memiliki butik pakaian yang tersebar di beberapa pusat perbelanjaan.

Maka, sejak beberapa tahun lalu, ia pun resmi meluncurkan kembali lini busana bagi kalangan wanita muda urban. Dengan nama besar seorang Luna Maya, kini akun resmi lini busananya di Instagram sudah memiliki lebih dari 200 ribu pengikut. Angka yang tak mudah dicapai oleh toko online biasa.

Populer dan kaya raya. Benarkah dua faktor ini lantas menjadi kunci sukses kilat para selebritis saat merintis bisnis?

Sebelum merasa jiper, coba kita tengok kembali beberapa bisnis yang pada akhirnya gulung tikar, meski telah digawangi oleh selebritis top sekalipun.

Siapa yang tak kenal Britney Spears? Penyanyi yang dijuluki “Princess of Pop pada akhir 1990-an ini pernah berinvestasi untuk mendirikan sebuah restoran bernama Nyla. Namun, kurangnya pengetahuan dalam perencanaan menu, manajemen, dan isu kesehatan memaksa restoran ini harus tutup kurang dari 6 bulan sejak berdiri.

Dalam dunia akting dan perfilman Hollywood, nama besar Natalie Portman tak perlu diragukan lagi. Sayangnya, ia belum cukup beruntung dalam dunia bisnis.

Merek sepatu Te Casan yang dirintis Natalie Portman pada 2009 harus menderita kerugian dan tutup pada tahun pertama. Padahal, konsep yang diusung adalah vegan-friendly shoes, yang mana tidak menggunakan bahan kulit atau bulu binatang.

Di dalam negeri, ternyata cukup banyak selebritis yang merasakan pahitnya dunia bisnis. Seleb kondang Raffi Ahmad yang dikenal rajin merambah bisnis baru pun kerap mengalami kegagalan dari mulai bisnis properti hingga restoran.

Jika anda pernah mendengar restoran Sushi Miyabi yang digawangi pesinetron Dude Herlino dan cukup populer pada awal 2010, kini harus mengalami nasib sama.

Bahkan restoran mewah di sebuah mal di Kelapa Gading, Terminale yang juga digawangi oleh artis ternama Revalina S Temat dan rekan artis lainnya tak luput dari kegagalan.

Dunia bisnis memang penuh risiko, tak terkecuali bagi orang yang populer dan kaya raya. Lantas, masihkah kita minder, jika tidak punya kedua modal itu?

Ketahuilah sobat, bahwa entrepreneur sebetulnya bukan merupakan profesi, melainkan sifat yang butuh daya tahan (endurance) dan kekuatan karakter (persistensi).

Di perusahaan besar dan bergengsi, mungkin kita sering mendengar istilah intrapreneur, yakni orang-orang yang bekerja di perusahaan orang lain, namun punya jiwa layaknya entrepreneur, yaitu inovatif, kreatif, pekerja cerdas dan keras.

Lalu, bagaimana kita bisa bekerja inovatif, jika kita sendiri tidak menaruh hati dan percaya sepenuhnya pada apa yang kita lakukan?

Saya pun menyadari hal ini, setelah diperkenalkan oleh pemikiran Simon Sinek, seorang penulis, motivator, dan konsultan pemasaran asal Inggris, saat mengikuti kursus singkat beberapa tahun lalu.

Pria berkacamata yang menerima gelar BA antropologi budaya dari Brandeis University ini mulai dikenal publik setelah meluncurkan buku berjudul “Start with Why” yang kemudian menjadi best seller.

Sinek menjelaskan konsep “why” bersamaan dengan dua unsur lainnya, yakni “what” dan “how”. Konsep why menjadi kepercayaan inti, mengapa sebuah bisnis harus eksis.

Sedangkan what dan how adalah bagaimana perusahaan mampu memenuhi apa yang menjadi keyakinan inti lewat aset yang dimiliki atau strategi pemasaran yang tepat. Namun perlu diingat, aset di sini bukan hanya sebatas materi atau ketenaran, namun juga pengetahuan dan keterampilan.

Terdengar sederhana kan?

Namun, apa yang ditemukan Sinek pada kebanyakan perusahaan saat melakukan kampanye pemasaran adalah mereka sendiri tidak tahu mengapa mereka melakukan itu! Mereka cenderung fokus pada faktor apa dan bagaimana.

Bisnis itu berat sob, kalau kita sendiri saja tidak tahu kenapa orang harus mengonsumsi produk atau jasa kita, lah piye toh?

Sinek pun menyontohkan salah satu brand paling sukses di dunia, Apple. Jika saja Apple seperti produsen ponsel lainnya, mereka akan mengatakan, kami adalah pembuat komputer hebat dan user friendly.

Namun, sebaliknya, mereka justru mengomunikasikan “Kami percaya mampu mendobrak status quo dan kami percaya mampu berpikir berbeda. Untuk itu, kami membuat produk dengan desain modis dan sederhana digunakan”.

Tujuannya, bukan untuk melakukan bisnis dengan semua orang yang membutuhkan apa yang anda punya, namun lakukan bisnis dengan orang-orang yang percaya dengan apa yang anda percaya.

Maka, sebelum memulai sesuatu, ada baiknya kita bertanya:

“Apa yang saya percaya dalam hidup ini?”

“Mengapa saya harus berjuang melakukan ini?”

“Mengapa saya harus bangun pagi tiap hari?”

“Mengapa saya harus berbisnis, jika bekerja di perusahaan orang saja sudah cukup memenuhi kebutuhan saya?”

Dan, mari kita renungkan bersama, sebelum terlambat dan salah melangkah… 🙂