Sukaria Raden Mandasia: Petualangan yang Mencuri Hati

Sukaria Raden Mandasia: Petualangan yang Mencuri Hati

bhmpics.com

Salam tapir!

Sebelum memulai, patut saya catatkan terlebih dahulu bahwa tulisan ini sama sekali bukan iklan untuk menggenjot penjualan ‘Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi’. Jika iya pun, salahnya di mana? Perlu saya garisbawahi pula, ini bukan tulisan akademik nan njelimet yang hendak menganalisis dengan aplikasi teori literatur paling mutakhir. Sebaliknya, tulisan ini berasal dari rasa senang. Kebahagiaan yang timbul karena membaca buku yang bagusnya jahanam betul.

Pembaca buku yang terhormat pasti sudah tahu cara untuk mengenali buku yang bagus. Gampang. Cukup baca saja paragraf pembukanya. Apakah menarik hati? Apakah menusuk tepat jantung baca anda? Apakah membuat matamu berpendar, sehingga anda tak sabar untuk membalik halaman-halaman berikutnya? Jika tidak, maka penulisnya gagal. Namun, jika anda yang tak bisa mengenali paragraf pertama yang apik, anda harus membaca lebih banyak.

Nah, novel perdana Yusi Avianto Pareanom ini juga memiliki a killer opening. Paragraf pembukanya langsung membangun mood. Meskipun pembukanya tidak merepresentasikan substansi cerita, sang pengarang berhasil menyelipkan pesan untuk pembaca: Ayo bersenang-senang! Penulis ‘Rumah Kopi Singa Tertawa’ ini tahu betul cara menggelitik syaraf penasaran pembaca.

Sejatinya, kisah ini bukanlah mengenai Raden Mandasia semata. Sang pangeran adalah sahabat dari protagonis sekaligus narator novel yang didaulat sebagai dongeng kontemporer ini. Lucunya, meskipun protagonis di novel ini adalah Sungu Lembu, dia terlihat seperti sidekick dari Raden Mandasia. Mirip hubungan master-apprentice John Watson dan Sherlock Holmes karangan Sir Conan Doyle.

Awalnya, kehidupan Sungu Lembu berjalan baik hingga sebuah penyerangan oleh prajurit Gilingwesi ke rumahnya di Banjaran Waru meluluhlantakkan hidupnya. Berbekal amarah dan duka, Sungu meninggalkan kampung halamannya untuk menuntaskan dendamnya pada Raja Gilingwesi bernama Prabu Watugunung.

Di tengah perjalanannya itulah, ia bertemu dengan Raden Mandasia, yang merupakan anak dari Watugunung. Dalam sebuah kejadian, Sungu dan Mandasia bersepakat untuk melakukan pengembaraan bersama-sama. Sebuah awal yang akan mengubah hidup dan pandangan Sungu Lembu yang berusia sembilan belas tahun saat kisahnya dimulai.

Berdua mereka melakukan perjalanan dari Kepulauan Rempah-Rempah hingga Kerajaan Gerbang Agung. Dua protagonis memiliki motif yang berbeda. Satu membawa dendam kesumat dan ingin menyelamatkan orang terkasihnya dan satu pangeran Gilingwesi yang hendak mencegah perang besar antar dua kerajaan besar. Perjalanan mereka dipenuhi oleh kejadian-kejadian menarik nan kocak; terkadang merupakan sebuah plesetan hasil main-main Yusi terhadap kisah-kisah yang dapat kita temukan di kitab suci, misalnya.

Yusi Avianto Pareanom (whiteboardjournal.com)
Yusi Avianto Pareanom (whiteboardjournal.com)

Paduan karakter unik dari Sungu dan Mandasia membuat kisah petualangan ini sangat menarik. Sungu, yang suka mengumpat, namun sebenarnya memiliki empati tinggi dan wawasan luas, dan Mandasia yang santai serta suka mencuri daging sapi tapi suka damai, membuat kisah ini mendebarkan. Oh ya, tentang mengapa dia suka mencuri daging sapi, anda harus baca sendiri kisahnya.

Cerita petualangan ini pun diperkaya oleh karakter-karakter menarik dari setiap orang yang mereka temui dalam perjalanan. Ada Loki Tua, koki muda berkepala penuh uban; Raden Langkir, yang digambarkan narator sebagai tukang merancap, tapi sebenarnya pecinta ulung; Putri Tabassum, yang suka berteka-teki dan memiliki kecantikan yang mampu memecahkan cermin; serta Nyai Manggis, pemilik rumah judi yang progresif dan terlibat dalam gerakan pemberontakan. Adapula si Manis, anjing yang suka makan kotoran kawannya, lalu berakhir dalam perut majikannya sendiri.

Dalam dongeng ini, banyak ditemui peristiwa seru sekaligus menegangkan. Tak lupa pula pergolakan batin beberapa tokoh yang mencirikan perkembangan karakter, yang mana merupakan unsur penting dalam sebuah cerita. Plot-nya pun ringan. Dialog-dialog jenaka yang menjadi ciri khas Yusi pun sangat terasa dalam umpatan-umpatan seperti ‘tapir buntung’, ‘simbahmu koprol’, dan banyak lainnya. Deskripsinya – terutama ketika berbicara soal makanan – mengundang fantasi berujung pada lelehan liur.

Bahasa yang digunakan sang penulis pun, meski kaya dan lugas, sama sekali tidak mengintimidasi. Justru kosakata yang tak biasa seperti melambari, marwah param, rungsing, mengetuk keingintahuan dan mengajak membuka kamus. Dengan begitu memperkaya kosakata medioker saya. Yusi pun menggunakan istilah-istilah tak biasa dalam menyebutkan rentang waktu atau ukuran, seperti sepenanakan nasi dan setebal tiga tombak. Mengajak imajinasi saya untuk menari liar.

Satu hal yang membuat saya menyukai cerita Yusi karena tulisannya irit pesan moral, bahkan tak ada. Tampaknya penulis lebih fokus kepada cerita, bukan pada tendensi untuk menyebarkan injil. Karena itu, saya sedikit menyayangkan karena novel ini kurang tebal, padahal begitu seru.

Maksud saya, pada bab-bab terakhir, ada perang besar antar dua kerajaan yang sama kuatnya. Walaupun Yusi tak lupa memberikan detilnya, seperti pada bab-bab sebelumnya, namun ada yang terasa tanggung. Padahal itu saat-saat yang menentukan bagi Sungu yang membalaskan dendamnya pada Watugunung. Ada pula cerita yang seolah terpotong, ketika Sungu kembali ke Pulau Padi, tempatnya dan Nyai Manggis pertama kali bertemu.

Namun, terlepas dari itu semua, membaca ‘Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi’ adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Novel ini patut menghiasi rak-rak buku pembaca. Niat saya untuk tak beriklan memang gagal sudah. Namun, persuasi ini murni datang dari niat tulus: Saya hanya ingin berbagi kebahagiaan.

  • Sukses meracuninya nih Ken 😉
    Sayang batal datang ke peluncuran bukunya di Coffeewar minggu lalu.

  • Sukses meracuni nih Ken. Novel irit pesan moral itu menyenangkan 😉
    Sayang batal datang ke peluncuran bukunya di Coffeewar kemarin.