Sudahkah Anda Menebar Kebencian Hari Ini?

Sudahkah Anda Menebar Kebencian Hari Ini?

zoom-comics.com

Siapa di antara kita yang sering menebar kebencian atau bahkan ancaman? Saat ini, kebencian seperti bola yang siap ditendang ke mulut gawang siapa saja. Kita jadi tidak kritis. Reaksioner tanpa filter. Hantam sana-sini tanpa akidah.

Kita barangkali lupa. Sebelum mengurusi ketidakberesan orang lain, sebaiknya urus diri sendiri dulu. Kecuali, anda memang ingin menjalani profesi sebagai pemain bola kebencian. Kalau saya sih pemain bola penuh cinta. Bukankah Fair Play dalam sepak bola itu adalah keniscayaan bagi perdamaian, seperti yang dikatakan Philip Noel Baker, pemenang Nobel perdamaian?

Memang, pada era reformasi yang berbarengan dengan kiblat perkembangan zaman, segala hal seringkali menjadi terbuka. Tapi bukan berarti pakaian renang Shizuka di film kartun Doraemon dan adegan bocah memerah susu sapi di TV ikut diblur, keleus…

Balik lagi soal terbuka-terbukaan. Ya, segala hal yang seringkali menjadi terbuka saat ini, langsung dikritisi, bahkan dalam parade berlawanan disulap jadi konvensi paksaan. Kita mudah sekali tergiur dengan pemberitaan sana-sini. Memakannya, mengunyah, dan menelannya bulat-bulat. Seolah-olah mulut kecerdasan dan lidah yang bijak itu penuh dengan suapan-suapan informasi yang tak bisa dipilah lagi.

Terlebih, perkembangan informasi juga deras melaju. Kehadiran internet sebagai candu baru manusia sekarang ini menyajikan begitu banyak hidangan. Dari yang paling busuk sampai paling harum mewangi, dari yang paling nikmat penuh rintih sampai yang paling bising penuh derita. Kita lupa diri. Internet adalah ruang penuh gincu yang siapa saja boleh bersolek. Lalu, bencana itu pun muncul.

Kebencian tampil ketika ada informasi yang punya maksud memantik. Provokasi (pancingan), agitasi (hasutan), dan bisa juga putrefaksi (pembusukan). Orang berkumpul dan berserikat dalam tata ibadah tertentu dikatakan sesat. Padahal, tidak ada kepentingan agama tertentu yang dirusak.

Orang memutuskan untuk memilih orientasi seksual tertentu dikatakan bejat. Selagi tidak ada ikon kemanusiaan yang dilanggar, ruang privat semacam itu tidak patut dicampuri. Judith Butler, filsuf feminis, dalam tesisnya mengatakan bahwa seksualitas bahkan gender itu sendiri adalah ekspresi. Sehingga itu musti tertunjukkan dalam cangkang kebebasan, bukan pemaksaan. Pasti ada yang bilang, “Itu kan filsuf barat. Barat itu cenderung pro-LGBT.” Benci kok buta begitu. Yang boleh buta itu cuma cinta. Love is blind.

Lalu, ada orang berkumpul untuk menambah wawasan dan pengetahuan soal gerakan kiri, tapi didefamasi menjadi tidak taat pada negara. Pada titik ini, ada yang linglung, bingung, bahkan rusak pemikirannya. Otak menumpul. Berpikir kritis menjumud.

Sepertinya kebencian adalah cara menciptakan rasa nyaman dalam koridor yang salah kaprah. Kebencian adalah rasa nyaman yang terhipnotis oleh ketakutan itu sendiri.

Barangkali argumentasi Paul L Thomas, seorang pakar pendidikan, menemukan titik sahihnya. Dia bilang bahwa teknologi dapat menjadi penghambat, ketika kita mau menumbuhkan kemampuan baca-tulis, menghitung, dan berpikir kritis. Tentu kita bisa membantah gagasan ini. Namun, dalam konteks ini, Thomas benar. Ambivalensi wajah teknologi sedang kita rasakan dan saksikan sendiri.

Kebencian bersama teknologi lalu melesat cepat digiring oleh penghakiman. Padahal, manusia yang dikarunia akal budi itu harusnya tak cepat terjerumus. Manusia, makhluk paling luhur cum istimewa cum mulia, musti larut dalam refleksi, tunduk pada kejernihan pikirannya sendiri. Sebab, sebelum keputusan – keberpihakan diambil, kematangan diri adalah fatwa utama. Sudah barang tentu halal hukumnya.

Dan, ini musti diingat bahwa tidak semua item bisa masuk dalam ranah kaji kita. Ada hal-hal tertentu yang tidak perlu ditanggapi. Pemberitaan-pemberitaan di luar gerowong nalar kritis hanya bikin otak cepat semrawut bila dipersoalkan.

Jika kita adalah manusia yang telah dimanusiakan – penegasan balik atas tesis HAR Tilaar dalam ‘Manifesto Pendidikan Nasional’ tentang tujuan pendidikan yakni memanusiakan manusia – menanggapi hal-hal cetek minim verifikasi adalah noda ketercorengan paling fatal yang kita buat terhadap proses pendidikan itu sendiri. Dan, sekali lagi, kebencian boleh jadi menjelma secepat kilat dalam jagad informasi, terutama internet.

Pada akhirnya, kebencian pada diskursus yang lebih kompleks hanyalah menimbulkan apa yang dikatakan Bung Hatta sebagai persatean, sebuah antitesis dari persatuan. Ini karena pada prinsipnya, persatuan timbul dari kesadaran. Bukan dipicu oleh paksaan.

Persatean merujuk pada daging sate yang dipaksa bersatu dalam lidi. Pastinya, menjalani bangsa ini hanya untuk mengganggu, memaksa, dan membenci orang lain sangat menunjukkan betapa bobroknya nasionalisme kita.

Ya sudah, kalau memang anda kurang piknik, sebaiknya banyak-banyak baca buku. Bukan komentar dan membagi tautan berita abal-abal yang penuh kebencian. Atau, anda ingin tamasya ke kampung saya di Flores, NTT? Pasti tahu Danau Kelimutu kan? Danau yang airnya berbeda-beda warna? Mungkin, setelah ke Danau Kelimutu, pikiran anda menjadi lebih berwarna.

Salam damai dari timur Indonesia…