Sudah Waktunya untuk Mengharamkan Selfie

Sudah Waktunya untuk Mengharamkan Selfie

Selfie adalah candu. Begitulah doktrin dari narsisme, sebuah ideologi kekinian yang melampaui kemasyhuran kapitalisme, komunisme, sosialisme, nasionalisme, anarkisme, maupun isme-isme lainnya di dunia ini.

Selfie menjadi semacam kehendak revolusioner yang membebaskan umat manusia, karena orang bisa memfoto dirinya sendiri tanpa harus ada campur tangan orang lain. Negara dan agama bahkan tidak bisa mengintervensinya. Luar biasa.

Kedahsyatan selfie yang dibantu oleh revolusi di bidang teknologi digital menjadi sebuah keniscayaan sejarah. Sekarang ini orang bisa melakukan selfie lebih dari tiga kali sehari atau melampaui kebutuhan makan, apalagi seks. Bahkan ada orang yang selfie lebih dari lima kali sehari, melebihi sholat lima waktu.

Uniknya, untuk melakukan selfie, orang tak perlu dandan setengah mampus supaya bisa tampil prima sesaat di-upload ke media sosial atau jadi foto profil. Muka amburadul mirip zombie atau bibir monyong pun jadi. Pasti menuai banyak like dan love. Wong nggak ada fitur unlike dan hate.

Istilah selfie sebenarnya pertama kali dikenal di Australia pada 2002. Kata ini muncul pertama kali dalam sebuah forum internet Australia (ABC Online). Di Indonesia sendiri, selfie baru berkembang pesat dalam tujuh tahun terakhir, seiring munculnya handphone yang memiliki fitur kamera.

Tapi lama kelamaan, aktivitas selfie seakan tak terkendali. Roh kebebasan yang ada selama ini terbang entah kemana. Kebebasan yang berujung pada kebablasan. Bahkan selfie bisa berubah menjadi alat baru penindasan.

Masih ingat insiden rusaknya taman bunga Amarilis di Gunungkidul, Yogyakarta? Sebagian bunga-bunga di taman itu mati ditindas dan hancur akibat berfoto selfie dengan cara-cara yang tidak patut.

Bahkan ada yang selfie sambil tidur-tiduran semacam Syahrini yang berguling-gulingan di hamparan bunga-bunga di Eropa. Entah apa maksudnya, saya pun gagal paham.

Setelah Amarilis, kini giliran eceng gondok di Dusun Karangasem, Bantul, Yogyakarta. Sekarang banyak alay menyerbu hamparan eceng gondok, yang kebetulan sedang berbunga. Tak ada bunga Amarilis, bunga eceng gondok pun jadi. Semua dilakukan demi si selfie.

Tapi untungnya, eceng-eceng gondok itu tumbuh di sawah yang penuh air. Alhasil, para libertarian selfie tidak merangsek masuk ke tengah hamparan. Kalau nekat bisa kecebur. Alih-alih ingin selfie di eceng gondok, malah jadinya sama kodok.

Contoh lain gegara selfie yang semakin tak terkendali adalah insiden seorang pemuda bernama Erri Yunianto. Ia harus menjemput ajalnya, karena terpeleset dan jatuh ke dalam jurang setelah sempat ber-selfie. Tentu masih banyak lagi contohnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu.

Sebenarnya masih banyak efek buruk dari selfie bagi masyarakat luas khususnya para pemuda-pemudi. Misalnya mengandung unsur Riya’, Takabur, dan Zina.

Untuk itu, saya menyarankan agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) segera mengeluarkan fatwa haram selfie dan merekomendasikan selfie syariah sebagai penggantinya. Bukannya MUI memang spesialis untuk urusan haram dan halal? Belum afdol, kalau selfie nggak kena fatwa, nggak kekinian.

Tapi jangan sampai itu mengalihkan isu si papa minta saham, seperti pemberitaan Nikita Mirzani cs yang terjerat kasus prostitusi artis.

Usulan

Selfie syariah atau SS – bukan inisial menteri – tentu bisa menjadi angin segar buat abi-abi dan ummi-ummi, sehingga tak perlu khawatir lagi kalau putra-putrinya kecanduan selfie. Toh, sudah ada label halal untuk selfie syariah. Jadi aman dan dijamin berkah.

Berikut cara-cara selfie syariah yang saya usulkan:

1. Riya’

Riya’ berarti pamer atau ingin memperlihatkan atau menunjukkan sesuatu untuk sekadar mendapat imbalan berupa pujian orang lain. Supaya terhindar dari perbuatan riya’, caranya gampang. Anda cukup berfoto secara alami tanpa editing apapun semisal aplikasi 360. Anda juga tak perlu bertingkah kelewat aneh.

Atau, cara yang paling masuk akal adalah sedikit memblurkan wajah di foto selfie. Minimal menutup sebagian wajah anda saat selfie. Lalu tulis caption-nya: “Muka sedang dalam renovasi”. Sudah pasti anda tetap akan menuai like atau love, bahkan tertawaan. Tentunya tanpa anda bermaksud untuk riya’.

2. Zina

Zina berarti hubungan fisik antara laki-laki dan wanita yang belum terikat pernikahan. Kalau dua orang berbeda kelamin saling berdekatan atau bersentuhan saat selfie, itu bisa disebut sebagai perbuatan mendekati zina. Haram.

Untuk menghindarinya, caranya mudah. Saat selfie, posisi pria berada di depan memegang kamera dan posisi wanita sedikit berada di belakangnya. Tulis caption-nya: “Ada penampakan di belakang.” Yang ini saya juga jamin pasti meraup banyak like atau love, bahkan candaan. Tentunya anda pun terhindar dari zina.

3. Takabur

Orang-orang yang selfie juga punya kecenderungan memiliki sifat egois yang besar, yang tak jarang berujung pada sifat takabur atau menyombongkan diri sendiri. Mereka ini menyakini kalau dirinya itu lebih baik daripada orang lain.

Selfie syariah sebenarnya juga bisa menekan efek egois itu. Tapi ini caranya agak repot. Anda jangan foto sendiri atau berdua. Itu namanya monopoli dan duopoli. Cenderung egois.

Lakukanlah beramai-ramai, tapi anda tetap berada di depan dan memegang kamera. Lalu tulis caption-nya: “Penampakan di belakang makin banyak.” Yang ini juga bakal memancing like dan love, tanpa harus takabur. Paling anda ditinggal kabur sama teman-teman anda.

Semoga saja usulan selfie syariah ini bisa diterima masyarakat. Agar lebih matang dan konkret, harus ada juga rekomendasi Facebook syariah, Twitter syariah, Instagram syariah, dan medsos-medsos syariah lainnya supaya lebih afdol selfie syariahnya. Wassalam…

Foto: huffingtonpost.co.uk