Sudah Jadi Patung, Kena Pentung, Nasibmu Buntung Tung!

Sudah Jadi Patung, Kena Pentung, Nasibmu Buntung Tung!

pikiran-rakyat.com

Di Indonesia memang hanya ada dua cerita. Kalau bukan cerita lucu, ya tragis. Tapi kadang batas antara keduanya tipis sekali. Contohnya aksi sekelompok orang yang membakar patung Arjuna di Purwakarta, Jawa Barat.

Patung Arjuna memanah yang menjadi spot paling ngehits di Purwakarta itu harus berakhir tragis. Patung yang juga menjadi salah satu ikon wisata di kabupaten tersebut dibakar dalam senyap.

Kenapa dibakar? Karena patung Arjuna dianggap haram oleh majelis urusan halal-haram dan front pembela apa-apalah itu. Tak peduli apakah patung itu disembah atau tidak. Kasihan sekali kau, wahai patung. Sudah jadi patung, kena pentung, nasibmu buntung tung!

Rupanya aksi perusakan patung-patung wayang di Purwakarta sudah terjadi sejak 2011. Ketika itu, korbannya tokoh Amarta, Semar, dan Yudhistira. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sempai terheran-heran, karena tokoh-tokoh itu sarat nilai-nilai kepahlawanan.

Pak bupati pun menyindir dengan senyum kecut. Dia bilang kalau para perusak patung ksatria Pandawa dalam cerita Perang Baratayudha tersebut adalah pasukan pendukung Dorna yang kalah perang. Dorna dikenal sebagai tokoh yang memiliki karakter perusak dan pengadu domba.

Bupati Dedi pun mengklaim bahwa keberadaan patung-patung tersebut tidak pernah mengubah keyakinan masyarakat Purwakarta. Apalagi soal keyakinan tata cara beragama. Sebelumnya, Bupati Dedi dituding syirik oleh pentolan front pembela apa-apalah itu.

Sejak memimpin, pak bupati disebut-sebut berusaha menghidupkan kembali ajaran ‘Sunda Wiwitan’, sehingga menghiasi Purwakarta dengan aneka patung pewayangan, seperti patung Bima dan Gatotkaca. Bahkan ditambah dengan aneka patung Hindu Bali.

Pak bupati juga dikabarkan telah melamar dan mengawini Nyi Roro Kidul, ratu pantai selatan. Selanjutnya, ia membuat kereta kencana yang konon katanya untuk dikendarai sang isteri, Nyi Roro Kidul.

Tapi kita lewatkan saja perdebatan yang bernuansa mistik tersebut. Balik lagi soal penghancuran patung-patung bernilai epik kepahlawanan dalam dunia pewayangan. Suka atau tidak suka, budaya kita memang kental dengan wayang. Bahkan wayang diakui Unesco sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

Penghancuran patung-patung bernuansa budaya itu mengerikan. Bagaimana dengan di Bali, Yogyakarta, Solo, dan daerah lain yang banyak berdiri patung-patung budaya? Haram pak kiai? Apakah harus bernasib sama dengan Purwakarta?

Apakah bapak-bapak majelis urusan halal-haram dan front pembela apa-apalah itu pernah ke kawasan Monas, Jakarta? Kalau belum, bapak-bapak kurang piknik. Kalau sudah, pasti tahu patung kuda Arjuna Wijaya. Itu lho, letaknya dekat salah satu gerbang utama Monas.

Di sana akan terlihat patung kuda berjumlah delapan ekor yang sedang dikendalikan oleh Batara Kresna. Di sebelah Batara Kresna, ada salah satu anggota pandawa dalam cerita pewayangan. Dialah Arjuna, tokoh yang sama seperti di Purwakarta.

Patung kuda Arjuna Wijaya sudah lama berdiri sejak 1987. Indah betul kalau malam hari. Dihiasi lampu dan air mancur. Salah satu lokasi yang ngehits juga buat selfie. Apalagi patung kuda Arjuna Wijaya itu berada di jantung ibukota. Masuk ring 1 pula, karena tak jauh dari Istana Negara.

Jadi, bagaimana, apakah para pasukan pendukung Dorna berani merusaknya? Saya jamin nyali anda-anda ciut. Kamera CCTV ada dimana-mana. Bergerak sedikit, anda digebuk. Bisa-bisa bernasib sama seperti teroris di kawasan Thamrin, yang lokasinya juga tak jauh dari patung kuda Arjuna Wijaya. Masih mau gagah-gagahan?