Sudah Adakah Sensus Gay di Kota Anda?

Sudah Adakah Sensus Gay di Kota Anda?

Mengawali artikel ini, saya ingin melontarkan satu pertanyaan. Apakah Jakarta memang sumber dari segala macam masalah, sampai-sampai ibukota negara Republik Indonesia itu dituduh sebagai pemicu maraknya gay atau Lelaki Suka Lelaki (LKL) di Depok?

Adalah pak Herry Kuntowo, sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Depok, yang bilang kalau letak Depok yang berdekatan dengan Jakarta menjadi salah satu alasan kenapa banyak gay di Depok.

Saya sendiri tinggal di Depok, tapi kerja di Jakarta. Jarak Jakarta-Depok kira-kira hanya sekitar 21 km atau sejam perjalanan. Depok itu unik, karena masuk Provinsi Jawa Barat. Mungkin termasuk yang terluar. Jarak Depok ke Bandung, ibukota Jabar, sekitar 162 km atau hampir 3 jam. Itu berarti lebih dekat ke kantornya pak Ahok daripada pak Aher.

Suku asli di Depok juga orang Betawi, sama dengan Jakarta. Jadi bukan Sunda. Itu artinya orang asli Depok kagak ada yang berbahasa Sunda. Makanya anak-anak SD pada pusing, karena di sekolah diajarkan bahasa Sunda. Bukannya nggak mau melestarikan bahasa daerah, kenyataannya anak-anak SD lebih suka diajarin bahasa Inggris daripada bahasa Sunda.

Sebenarnya ada beberapa kesamaan lagi antara Depok dan Jakarta. Misalnya kode area telepon di Depok, kecuali Sawangan dan Bojongsari, sama dengan Jakarta, yakni 021. Pelat kendaraan juga sama-sama B.

Balik lagi soal tuduhan bahwa Jakarta adalah salah satu alasan kenapa banyak gay di Depok. Ya kita tahulah bagaimana kehidupan di kota metropolitan segemerlap Jakarta itu. Tapi apakah kedekatan-kedekatan terutama jarak antara Jakarta dan Depok bisa mempengaruhi perilaku dan kehidupan warga Depok? Tidak segampang itu.

Ilustrasinya begini. Kita punya tetangga tukang gosip. Apakah kita ikut-ikutan gosip? Belum tentu. Tetangga kita yang lain suka pamer barang mewah, lalu apakah kita ikut-ikutan beli? Belum tentu juga.

Atau, contoh yang lebih riil. Kita punya teman gay dan lesbian. Setiap hari, kita bergaul sama mereka. Apakah kita ikutan-ikutan gay dan lesbian? Belum tentu, karena persoalan itu tak semudah main game Duel Otak.

Mungkin orang-orang yang menuduh kehidupan di Jakarta adalah biang keladi banyaknya gay di Depok adalah orang-orang yang suka main game Duel Otak. Sampai-sampai keluar data bahwa jumlah gay di Depok sebanyak 5.791 orang.

Wah, data yang rinci sekali. Apakah sudah pernah ada sensus gay di Depok? Setahu saya tidak ada, karena saya tidak pernah lihat petugas sensus datang ke rumah-rumah. Darimana datanya bisa rinci begitu?

Dari Depok lalu merembet ke Bogor, masih Jawa Barat juga. Di ‘Kota Hujan’ itu jumlah gay sebanyak 2.672 orang. Datanya juga rinci sekali. Padahal, kata teman saya, mendata lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) itu juga bukan perkara mudah. Orang yang tidak punya ‘radar’ katanya sulit mengetahui dia itu gay atau bukan.

Jadi, kiranya data yang diambil KPA soal jumlah gay di Depok dan Bogor berdasarkan jumlah korban pengidap penyakit HIV/AIDS. Di sini sebenarnya ada batas tegas, tapi disamar-samarkan. HIV/AIDS sudah pasti tergolong penyakit menular. Tapi LGBT apa masih harus perlu banget diarahkan ke jenis penyakit menular?

Kalau begitu, setelah sensus-sensusan gay di Depok dan Bogor, mungkin nanti juga ada di Bekasi dan Tengerang. Lalu, kapan di Jakarta yang dikatakan sebagai sumbernya? Pasti jumlahnya lebih uwow. Dan, sekali lagi, rinci tanpa harus sensus segala.

Kita tidak perlu memikirkan efek dari ekspos data yang sahih itu, apakah itu bisa bikin resah orang tua atau tidak. Kita tidak perlu peduli kepada anak-anak SD atau SMP yang di-bully, karena dianggap kebanci-bancian.

Dan, kita juga tidak perlu memikirkan masa depan mereka, yang terdiskriminasi bahkan kehilangan haknya di negara sendiri. Sebagian orang lebih suka berpikir seperti itu, bukan?

Laskar “Pelangi”

Saya sebenarnya bertanya-tanya dimana simpatisan atau pendukung LGBT, saat ada reaksi keras dari netizen terhadap foto pernikahan Joe Tully dan Tiko Mulya di Bali tersebar di dunia maya? Kedua pasangan ini hanya merayakan pernikahan mereka yang sebelumnya sudah diresmikan di New York, AS.

Polisi pun harus turun tangan menyelediki kebenaran foto-foto tersebut. Belum lama ini, polisi lagi-lagi harus repot menyelidiki dugaan pernikahan sesama jenis lelaki yang dilakukan warga Kecamatan Musuk, Boyolali.

Foto yang menampilkan Ratu Airin Karla alias Darino dengan pasangannya, Dumani, ketika mengenakan busana pernikahan jadi bahan penyelidikan polisi. Tapi, Ratu Karla sudah menampik kabar tersebut. Dia bilang, acara yang diselenggarakan itu merupakan syukuran atas usaha warungnya yang meraup untung.

Kasihan, tidak banyak yang membela Ratu Karla kecuali keluarga dekatnya. Media massa terlalu fokus terhadap tindak pidana pernikahan sesama jenis di Indonesia. Tidak ada dukungan “pelangi” terhadap Karla. Apalagi dukungan dari lembaga internasional. Mungkin kasus Karla terlalu lokal alias tidak ada unsur barat-baratnya.

Teman saya pernah bilang, laki-laki yang nggak punya wajah tampan lebih baik jangan memilih menjadi gay. Katanya, gay itu harus siap mental, karena diskriminasi juga terjadi di antara kaum LGBT sendiri.

Yang paling gampang diingat adalah kehebohan terhadap foto Naparuj Mond Kaendi dan Thorsten Mid yang bergandengan tangan di dalam Sky Train Bangkok. Mungkin banyak cewek normal yang berkomentar nyinyir. “Kok bisa cowok bule itu doyan sama cowok alay Bangkok yang rambutnya diwarnai blonde?”

Netizen yang habis-habisan nge-bully Naparuj akhirnya harus rela menerima kenyataan bahwa Thorsten resmi menjadi suami Naparuj. Di foto pernikahan, rambut Naparuj sudah dicat hitam. Banyak yang kasih selamat, tapi ejekan juga tetap mengalir.

Saya pun berasumsi, dukungan semacam profil “pelangi” di media sosial itu bersifat musiman dan mungkin pilih kasih. Bisa jadi hanya terjadi satu tahun, dua tahun, lima tahun, atau 10 tahun sekali.

Sementara itu, di luar sana, banyak anak-anak yang setiap hari berangkat ke sekolah dan harus rela diolok-olok soal pilihan orientasi seksualnya. Kemanakah wahai engkau, laskar “pelangi”?

Foto: fastcocreate.com