Kehidupan di Stasiun yang Mati

Kehidupan di Stasiun yang Mati

Ancol bukan hanya dunia berisi fantasi. Ia juga potret hidup yang muncul dari sesuatu yang mati. Tengoklah sesekali. Sekedar jalan-jalan menikmati suasana sore, ketika mentari beranjak pulang ke peraduan.

Sejak ditutup tahun 1990-an, sudah tidak ada kereta yang melintasi wilayah ini. Bangunan stasiun masih berdiri kokoh, rel masih terpasang, dan pagar masih menegaskan batas. Namun, selayaknya sesuatu yang mati ia hanya jasad tanpa ruhani.

Stasiun Ancol yang (masih) mati menjadi saksi bahwa kehidupan bisa berganti. Tak ada lagi kereta yang melintasi rel tapi ada manusia yang bisa berjalan di atasnya dan anak-anak kecil yang bisa bermain-main di sekitarnya. Ketika kota ini hanya menawarkan sedikit lahan bermain, rel kereta api menawarkan satu pilihan.

Tengoklah juga Reynal, Geraldy, dan Hendry yang akhirnya punya tempat tongkrongan dan sepasang karib paruh baya menikmati sore selepas bekerja memulung sampah dan sisa-sisa.

Ada juga sepasang muda-mudi yang memadu kasih, berjalan bergandengan tangan ditemani roman mentari sore. Mereka seakan menunjukan sebuah tekad : kita bisa terus bersama bahkan ketika senja menjadi batas bagi usia.

Di Stasiun Ancol yang sudah tidak berfungsi, kita tahu kehidupan tidak lantas menjadi mati.

  • arief fauzy

    sekarang ancol sudah dilewati lagi om, tapi stasiunnya masi mati belum melayani penumpang, kereta yang lewat jurusan jakarta kota – tanjung priuk