Untuk Kamu, Kamu, yang Suka Bicara soal Standar Calon Istri

Untuk Kamu, Kamu, yang Suka Bicara soal Standar Calon Istri

Ilustrasi (aklinizikesfedin.com)

Katakanlah cinta adalah sebuah konsep dan definisi operasionalnya bukan pedekate, ngajak kencan, berlarian ke sana-sini dan tertawa, melainkan kerelaan yang mana hampir mustahil diterapkan kepada sosok gebetan. Maka, korelasi antara variabel cinta dan jodoh itu null hypothesis. Tidak ada hubungannya.

Bisa jadi kamu begitu mencintai doi, tapi demi menjaga keutuhan cinta justru kamu enggan menikahinya, melainkan kamu rela hanya menyimpan senyum maniznya.

Karena kamu sadar bahwa cinta perkara idealis, sementara pernikahan ihwal pragmatis. Berdiskusi soal tagihan listrik dan air, anggaran belanja pokok, asuransi jiwa dan tabungan pendidikan anak-anak, belum lagi berbagi peran parenting, mengatur publik dan domestik, dan lain-lainnya.

Kamu tak rela melibatkan kekasih hati dalam urusan rumah tangga, karena yang material adalah konfliktual.

Bayangkan kalau Jack dan Rose akhirnya menikah dan punya anak-anak, Titanic takkan laku sebagai drama cinta romantis, karena Jack dan Rose akan mengalami cekcok rumah tangga.

Mbak Rose mungkin saja mengalami KDRT setelah misuhin mas Jack yang kepergok ML sama model lukisnya. Atau, mbak Rose bisa saja mengalami beban kerja ganda karena upah mas Jack sebagai pelukis lepas tak cukup menafkahinya dan anak-anak, sehingga membuatnya harus nyambi bakul gorengan.

Jadi, menikah ya menikah saja, tak perlu sok-sokan bawa konsep-konsep cinta. Tak perlu juga rapalan doa di pengujung malam kepada sang pembolak-balik hati. Wong, hati kaum milenial bukan lagi dibolak-balik oleh sang pencipta, melainkan oleh sang pemilik industri drama dan lagu-lagu cinta.

Menikah itu dipengaruhi oleh variabel cantik, tampan, kaya, mapan, sehobi, sekampus, sejurusan, seideologi, separtai politik, seormas, setanah air beta, serah lu dah, sesuai pengetahuan dan keimanan masing-masing, bukan cinta.

Sayangnya, fakta ini seringkali samar oleh para pujangga lewat maklumat-maklumat syairnya. Padahal, itu tak lebih dari seonggok kata-kata yang wangun diselipkan dalam kado pernikahan.

Cinta dan jodoh memang tak saling berhubungan!

Aku pun semakin mantap dengan tesis tersebut, setelah mendengar beberapa pernyataan umum dari teman-teman lelaki tentang persepsi dalam mencari istri. Dari situ, kutemukan pembuktian bahwa memang tak ada unsur cinta dalam pinangan mereka, yang ada standar kriteria. Semakin jelas bahwa rupanya logika perjodohan ini lebih positivistik ketimbang ilmu pengetahuan.

Tentu saja aku tak mengharapkan cinta yang abstrak dalam perjodohanku kelak, mereka membuatku sebagai perempuan lajang milenial yang berdikari, sekuler, mapan, dan mandiri merasa terancam dan resah mengenai prospek perjodohan.

Kemungkinan besar pernyataan-pernyataan itu juga santer di seluruh kalangan lelaki abad 21. Jangan sampai sudah hidup sebagai golongan yang diramal paling banyak menghuni neraka, ditambah pula gagal merasai nikmat perjodohan di dunia, haruskah kulari ke hutan lalu belok ke pantai?

Itu mengapa ingin aku menanggapi satu-satu melalui media publik agar bisa dipertimbangkan ulang, jika bukan ditarik kembali oleh mereka.

Pernyataan 1:

Bagiku, nggak adil memilih istri ketika kita sudah mapan coy, karena dia nggak mendampingi perjuangan kita tuk sampai di titik mapan tersebut.” – AR, 24 th.

Tanggapan:

Jadi, menurutnya, perempuan layak dinikahi hanya jika telah menjadi teman puk-puk sejak masa-masa kegelapannya. Anehnya, memang yang berhak berjuang mencari ilmu dan nafkah diri sampai titik mapan hanya ngana para lelaki?

Kita para perempuan ngapain setelah habis-tanggungjawab orangtua menafkahi sandang, pangan, papan, pendidikan kita? Nduselin para kekasihnya sembari nunggu lamaran?

Terus kita-kita perempuan yang berproses macam ngana ini, apabila jumpa jodohnya pas sudah mapan lahir batin, ngana bilang tak adil menikah sama lelaki yang sama mapannya sebab kita tak mendampinginya di masa-masa muda? Memangnya siapa juga yang menemani kita ketika di tahap sengsara? Demit? Siluman? Pliz, ini tak seperti Tuyul dan Mbak Yul.

Pernyataan 2:

Cowok itu demen liat perempuan bergamis dan anggun… yang begitu tuh layak dijadikan isteri.” – RW, 26 th.

Tanggapan:

Masya Allah, akhi! Jika bergamis dan berjilbab malah menggoda pandangan akhi, membuat imajinasi liar di pikiran akhi, lebih baik kami para perempuan pakai kostum godzilla atau ultraman saja.

Dengan berujar demikian sesungguhnya akhi telah mengkhianati makna berhijab. Berhijab yang sejatinya membuat perempuan tak lagi bingung memilih alas bedak, warna lipstik, pensil alis dan pelentik bulu mata, apalagi model gamis dan jilbab trendy.

Berhijab yang sejatinya adalah bentuk perlawanan terhadap industri kosmetik dan fashion sekaligus ekspresi pembebasan dari idealitas tubuh perempuan dan dari pandangan penuh nafsu kalian, wahai akhi.

Pernyataan 3:

Yang susah dari tahap pacaran itu sebenarnya membimbing calon kita, coy..” – IA, 26 th.

Tanggapan:

Pernyataan ini dengan lembut ingin mengatakan carilah doi yang penurut. Sebenarnya abang itu mau cari calon istri apa santriwati? Kalaupun abang memang kesusahan dalam membimbing, ongkosi saja adek masuk pascasarjana, biar dibimbing langsung sama profesor.

Itupun kalau kata kerja “membimbing” dimaknai agar kita para perempuan bisa lebih maju dan berkembang secara keilmuan, jangan-jangan dimaknai supaya patuh pada kebenaran tunggal versi suami.

Kecuali, jika berubahnya status lelaki menjadi suami bisa menaikkan derajatnya selevel dengan malaikat, sehingga tiada khilaf dalam dirinya, mungkin relevan untuk mematuhinya secara totalitas. Tapi… abang tetap jelmaan manusia, tempat salah dan khilaf.

Pernyataan 4:

Istri ideal itu ya yang lihai masak, bikinin kopi, ngatur rumah, dan ngemong bayi..” – MR, 25 th.

Tanggapan:

Lhooo, sampeyani iku mau cari istri apa cari Mbok Darmi? Wahai kawanku, kita begitu sama dalam semua, kecuali dalam kriteria. Seandainya kriteria-kriteria di atas menjadi standar universal ke-calon-istrian, tamatlah aku. Jelas – mengutip lagu Iwan Fals – aku bukan pilihan!

Semoga masih ada barang satu atau dua biji di luar sana yang memaknai jodoh bukan sekeadar teman makan, teman bobok, teman jalan dan cipokan, melainkan teman dalam berbenah diri.

Kita rela menerima doi yang kere dan cacingan sebagaimana doi rela menerima kita yang urakan dan mutungan. Tapi, seperti yang dilantunkan oleh mas Tulus: “…tuntutlah sesuatu agar kita jalan ke depan.”

Dengan begitu, kita bisa saling membina agar sama-sama (bukan sepihak saja) jadi pribadi yang lebih bijak, maju, dan berkembang. Tiada dominasi oleh satu pihak, tiada pula regresi terhadap satu pihak.

Begitulah makna SAMAWA yang kusemogakan untukmu. Doakan untukku juga ya, undangan sedang dalam proses cetak… di lauhul mahfudz.

  • Restu Hapsari

    Yeay, akhirnya ada tulisan yang bagus banget dan mewakili persepsi saya soal konsep pernikahan.

  • Lian Balki

    salah cowo punya standar cewe yg inginkan? kalian cewe aja punya standar kok
    bahkan feminis mengakuinya
    https://ageofshitlords.com/shocking-feminist-study-finds-women-want-men-muscles-money

  • Maria Ariyani

    Sebenarnya ending dari artikel ini juga menuntut standar, mencari seseorang yang mau saling menerima dan berbenah diri bersama.

    • Mirna Sadikin

      Hahaha, jd inget kata om tere liye di statusnya, kl mau cari jodoh jgn yg macem2, yang pasti mau aja sama situhh… Lahhh, kita manusia makhluk berbudaya, wajar banget lah punya keinginan 😀

      In the end of the day, jodoh adalah cerminan diri sendiri 🙂