Netizen yang Kafah Harus Tahu Sosok Squidward, Temannya Spongebob

Netizen yang Kafah Harus Tahu Sosok Squidward, Temannya Spongebob

Squidward (bustle.com)

Pada suatu petang yang cerah, seorang pemuda duduk di depan televisi sambil menyaksikan tontonan serial Spongebob Squarepants yang lazimnya adalah tontonan anak-anak di mata orang kebanyakan.

Tetapi tidak bagi pemuda ini, baginya, serial Spongebob Squarepants cocok ditonton oleh segala usia. Bahkan, menurutnya lagi, serial ini kalau diperhatikan secara seksama, kadangkala berisi sindiran-sindiran.

Sindiran-sindiran itu tak hanya kocak, melainkan sarat nilai-nilai filosofis yang tidak diduga-duga. Tepatnya, serial ini sedikit banyak merupakan karikatur dari perilaku manusia pada kehidupan sehari-hari.

***

Tokoh-tokoh yang ada di serial Spongebob juga punya keunikan tersendiri. Bisa dilihat dari sosok Spongebob yang periang dan kekanak-kanakan; sosok Patrick yang begitu lugu, pandir, dan doyan makan; sosok Mr Krabs yang begitu terobsesi betul terhadap uang.

Selain itu, ada sosok Squidward yang lumayan ‘berbudaya’ dan masih ada beberapa tokoh lainnya. Nah, sosok Squidward ini yang luput dari pantauan, karena orang-orang terlalu fokus pada sosok Spongebob semata.

Memang, apa yang menarik dari seorang Squidward? Ia bisa dibilang mewakili sebagian besar netizen, termasuk yang doyan marah-marah. Jangan mengaku jadi netizen yang kafah, kalau tidak mengenal sosok ini.

Squidward adalah salah satu tokoh yang cukup pintar (bersama Sandy) di serial Spongebob. Pada beberapa kesempatan, ia sering kedapatan sedang membaca buku di tempat kerja dan kamar tidurnya. Ia tahu sejarah dan tentang seni.

Dengan membaca buku, tentu saja Squidward mempunyai wawasan yang luas dan mungkin ini juga yang membuat dia begitu besar kepala; memandang rendah tokoh-tokoh lain.

Squidward begitu gerah ketika melihat kebodohan yang terjadi di sekitarnya. Squidward bekerja sebagai kasir dan Spongebob bekerja sebagai koki di Krusty Krab.

Berbeda dengan Spongebob yang begitu menyukai pekerjaannya sebagai koki, Squidward justru menampakkan wajah yang muram ketika saat bekerja. Ia jadi begitu sinis terhadap orang-orang yang hidup di sekitarnya.

Bahkan, ketika Mr Krabs dan Spongebob mendapatkan kesulitan yang disebabkan oleh ulah Plankton yang selalu berusaha mencuri formula kraby patty, Squidward seolah tidak peduli. Padahal, mereka bekerja bersama. Tapi ia malah menertawakan kesusahan yang dialami oleh Spongebob dan Mr Krabs.

Ternyata, walaupun Squidward seorang pembaca buku yang tekun, berwawasan luas, itu semua tidak dibarengi oleh etiket yang baik. Ia tidak punya empati dan individualistis. Ia begitu berjarak terhadap terhadap realitas.

Ini mengingatkan saya kepada pemuda dalam cerita pendek ‘Manusia Kamar’ karya Seno Gumira Ajidarma. Dalam cerpen itu diceritakan seorang pemuda yang membaca begitu banyak buku, tetapi ia abai terhadap apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Pemuda itu juga memandang rendah orang lain, mengutuk hidup, dan selalu sinis terhadap apapun. Sayang sekali memang.

Kendati demikian, Squidward adalah tokoh yang cukup menghibur. Jika Spongebob membutuhkan satu paragraf untuk melucu; ditambah dengan gerakan-gerakannya yang aneh, Squidward cukup menggunakan satu kalimat saja.

Satu kalimat itu berisi kata-kata yang ringkas dan sarkastis, yang bisa membuat kita tertawa terpingkal-pingkal. Benar-benar tipikal tokoh yang ‘berbudaya’, bukan?

Squidward sebetulnya pribadi yang santai. Walaupun tidak menyukai Mr Krabs yang serakah dan Spongebob yang berisik, Squidward mau tidak mau harus tetap menjalani pekerjaannya yang membosankan sebagai kasir di restoran yang dikelola Mr Krabs itu.

Sepertinya Squidward tidak punya pilihan. Tampaknya ia juga tidak ingin mempunyai pekerjaan yang sulit. Cita-citanya menjadi seniman andal sudah layu sebelum berkembang.

Betapa banyak orang yang terjebak dalam keadaan seperti ini. Sudah terlanjur terjebur dalam rutinitas pekerjaan yang tidak begitu disukai, tetapi anda tidak punya pilihan karena masih memerlukan uang dan gaji yang lancar setiap bulannya. Dan merelakan diri dalam keadaan kondisi psikologis tertekan dari waktu ke waktu.

Sebagaimana orang-orang yang berbudaya di era media sosial yang sangat beradab ini, Squidward juga tak kalah narsistik. Itu bisa dilihat dari karya lukisan-lukisan di dinding rumahnya.

Kalau orang lain memancakkan beraneka macam lukisan, Squidward hanya memajang lukisan mukanya sendiri – hampir di setiap sudut dinding, hanya wajahnya sendiri. Kalau saja ia bisa menyamar jadi manusia, rasanya ia sangat cocok jadi selebgram.

Squidward juga suka melukis, walaupun lukisannya tidak pernah diapresiasi orang lain. Orang di sekitarnya tidak mengerti dengan ‘seni’ Squidward, entah itu ketika ia bernyanyi, bermain klarinet, bahkan menari.

Seni Squidward dianggap terlalu tinggi untuk dimengerti oleh orang-orang awam. Tapi, ia tetap jemawa menganggap dirinya sendiri sebagai ‘seniman sejati’.

Ambisi besar Squidward untuk menjadi seniman sejati agaknya tak didukung oleh lingkungan sekitarnya. Bikini Bottom bukanlah lingkungan yang artistik. Squidward bagaikan Leonardo da Vinci yang dicampakkan Tuhan di pelosok antah-berantah. Dan, itu semua tidak mendukung pekerjaan ‘budaya’-nya.

Ketika membaca sejarah perdebatan seni dan sastra Indonesia paska kemerdekaan, terlepas dari pergolakan perbedaan ideologi realisme sosialis dan humanisme universal pada saat itu, saya malah jadi teringat Squidward.

Ternyata bukan zaman kini saja banyak ‘Squidward’, tetapi zaman dulu juga. Gejala ini masih awet sampai sekarang. Satu pihak mengklaim bahwa kubu mereka saja yang paling seni dan sastra, kubu lain tidak.

Dan lagi, menganggap ideologi mereka sajalah yang paling benar, yang lain tidak. Karya mereka sajalah yang bernilai seni tinggi, yang lain tidak. Begitu terus sampai kiamat.

Yang membedakan Squidward dengan para ‘seniman elitis’ itu – baik yang hidup sekarang maupun yang dulu – adalah ia mampu menertawakan dirinya sendiri.

Walaupun cita-citanya menjadi seniman andal yang diimpikan-impikan tidak tercapai, ia mengakui ketidakbecusannya menjadi seniman dan menertawakan diri sendiri dengan betah bekerja sebagai kasir bersama kawan yang berisik, Spongebob.

Sungguh, sebuah puncak kebijaksanaan! Dan, karena itulah, Squidward adalah simbol dari tokoh yang ‘berbudaya’, saudara-saudara.