Sosok Messi dan Mario Teguh yang Ada pada Kita

Sosok Messi dan Mario Teguh yang Ada pada Kita

techpooch.com

Raut cemas tampak pada wajah pelatih FC Barcelona, Luis Enrique. Sesekali ia berdiri memberi komando kepada anak asuhnya yang tak kunjung mencetak gol kemenangan. Setelah memberi arahan dari pinggir lapangan, Enrique kembali duduk meratapi kecemasannya.

Saat itu, papan skor masih menunjukkan kedudukan sama kuat, 1-1. Enrique semakin cemas, karena anak asuhnya tampak kerepotan membongkar pertahanan kesebelasan semenjana bernama Alaves.

Menit demi menit berlalu. Luis Suarez dan Neymar tak kunjung menceploskan bola ke gawang lawan. Semakin gencar Barcelona menyerang, semakin kokoh pertahanan Alaves. Tak juga menemui kepastian, Enrique terpaksa mengeluarkan senjata pamungkasnya: Lionel Messi.

Publik Catalunya di Camp Nou, kandang Barca, lantas bersorak saat melihat sang juru selamatnya akan turun ke medan pertempuran. Wajah-wajah frustrasi fans Barca selama hampir 1 jam berubah menjadi optimis, meski Messi baru berlari-lari kecil di luar lapangan.

Sorak-sorai pendukung tuan rumah seakan isyarat kalau pertahanan Alaves segera jebol dalam hitungan menit. Kekokohan tembok manusia yang sejak awal berhasil menahan serangan bertubi-tubi pemain Barca pasti bakal runtuh jua.

Messi pun akhirnya masuk menggantikan Denis Suarez. Masuknya Messi membuat para fans Barca, tim pelatih, dan rekan-rekannya tersenyum. Itu menandakan kalau pahlawan super bernama Messi segera menuntaskan apa yang tak bisa dilakukan 11 pemain Barca lainnya.

Messi adalah ancaman nyata bagi lawan-lawannya. Kehadiran Messi berarti kemenangan bagi Barca. Namun, tampaknya, itu tak berlaku bagi tim yang baru promosi ke La Liga bernama Deportivo Alaves. Para pemain Alaves justru makin menambal pertahanan, sehingga Barca makin kerepotan.

Beberapa manuver Messi memang sempat menggoyahkan rapatnya barisan pertahanan Alaves. Segala ancaman Messi tak jarang membuat pelatih Alaves mengelus dada dan memanjatkan doa sebanyak yang ia bisa. Para fans Barca semakin yakin bahwa perolehan tiga poin hanya tinggal menunggu waktu.

Namun, kenyataan berkata lain. Barca justru yang menelan pil pahit, setelah sepakan terukur dari sisi kanan pertahanan Barca menembus gawang yang dijaga oleh kiper anyarnya, Cillessen. Ibai Gomez mampu lepas dari kawalan ketat bek Barca dan mencocor bola dengan akurat. Skor 2-1 untuk keunggulan Deportivo Alaves.

Barca tersengat dan serangannya makin menjadi-jadi. Performa Suarez kurang menggigit. Sementara rambut Neymar lebih terang ketimbang penampilannya. Messi yang digadang-gadang akan membawa perubahan semakin kesulitan memecah kebuntuan. Enrique pun makin terlihat lesu.

Wasit akhirnya meniup peluit panjang, tanda berakhirnya pertandingan. Pemain Alaves kegirangan. Pemain Barca tertunduk malu, karena kalah di kandang sendiri melawan kesebelasan medioker.

Sorotan kamera beberapa kali menangkap raut muka Messi yang tampak kecewa, karena gagal memenuhi harapan fans. Sekali lagi, “Tuhan” sepak bola gagal menjawab doa pengikutnya. “Kesebelasan dari langit” macam Barca harus kembali turun ke bumi.

Manusia tetaplah manusia. Tak ada manusia yang sempurna. Akan selalu ada celah pada manusia, sehingga kesempurnaan hanyalah ilusi belaka. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada Mario Teguh, sang motivator beken, si salam super itu.

Untuk pertama kalinya, Mario Teguh terlihat seperti manusia lainnya. Dalam sebuah acara di TV swasta, Mario tampak seperti pengikut setia yang selalu dirundung masalah. Beberapa kali Mario berkata dengan nada tinggi, seolah ia marah dengan situasi yang menjeratnya.

Wajahnya agak gugup menandakan persoalan yang dihadapi bukan persoalan mudah. Tak bisa dipungkiri bahwa Mario Teguh tampak gelisah, meski ia berusaha menutupi kegundahannya dengan tutur kata sempurna. Pada hari itu, kita melihat Mario Teguh bukan seperti biasanya.

Sudah cukup lama kita melihat sosok pria tua dengan rambut tipis itu sebagai sosok yang inspiratif. Lewat lantunan kata-kata indah dan sempurna mampu membuat kita termotivasi, mungkin. Ia mampu dengan mudah menyederhanakan hidup dalam beberapa kalimat saja.

Kegelisahan seputar hidup berupa pertanyaan-pertanyaan bisa diatasinya seperti membalikkan telapak tangan. Dalam kamus Mario Teguh, tak ada yang sulit dalam hidup ini. Namun, kemunculan pria bernama Ario Kiswinar dalam sebuah acara talkshow beberapa waktu lalu membuat semuanya terkaget.

Ario menegaskan dirinya adalah anak dari Mario Teguh, yang sejak lama tak diakui. Ario merasa dibuang oleh ayahnya. Kemunculannya adalah tanda permintaan pengakuan dirinya sebagai anak dari sang motivator.

Persoalan semakin rumit, ketika Mario menolak mengakuinya. Ia tetap pada pendirian bahwa Ario bukan anak biologisnya. Dengan percaya diri, Mario pun menjawab  tantangan Ario untuk melakukan tes DNA untuk menyakinkan semua orang bahwa dirinya benar.

Terlepas dari itu semua, apa terjadi di antara Ario Kiswinar dan Mario Teguh adalah bukti bahwa masalah selalu hinggap kepada siapa saja. Perbincangan dan hebohnya respon terhadap persoalan Ario dan Mario menunjukkan bahwa ada sesuatu dalam tatanan sosial.

Sebagian dari kita mungkin terlalu memuja Mario Teguh, sehingga membuatnya seolah-olah sempurna. Kita terhipnotis oleh untaian indah yang keluar dari mulut Mario hingga menutup mata bahwa ia sama seperti kita. Sebagian orang tak percaya dengan apa yang terjadi, karena Mario sudah dianggap sebagai “dewa” pemecah masalah kehidupan.

Munculnya Mario Teguh dan motivator-motivator lainnya tak terlepas dari betapa malasnya kita untuk berpikir menyelesaikan masalah sendiri. Kita lantas melupakan akal hingga sulit menyederhanakan persoalan hidup pribadi. Muncul lah Mario Teguh yang menawarkan jawaban instan atas problematika kehidupan.

Kita pun memohon kepada Mario Teguh lewat petuah-petuahnya untuk membereskan masalah yang dihadapi. Susunan kata-kata Mario Teguh pun seolah layak dipercaya. Banyak dari kita yang merasa baik-baik saja setelah mendengar ucapannya.

Selama ini, kita begitu sulit mencari celah dari Mario Teguh. Ia begitu sempurna. Kemunculan komedian-komedian yang memparodikan tingkah Mario Teguh menjadi bukti bahwa kita muak juga dengan sosoknya yang selalu terlihat tanpa cacat.

Kini, dengan persoalan yang tengah melanda dirinya, kita tersadar bahwa Mario Teguh adalah manusia biasa. Segala persoalan sulit juga dialaminya dan bahkan ia sampai saat ini belum bisa mengatasinya. Mario Teguh tak ubahnya seonggok daging yang diberi nyawa sama seperti kita.

Ia tidak kebal akan masalah. Dibalik ucapannya yang sempurna ada borok yang tersembunyi. Ocehannya memang sempurna, tapi tak sesempurna hidupnya. Di titik itu, kita diingatkan untuk berpikir dua kali bahkan lebih untuk percaya apa yang dikatakan oleh para motivator.

Sama halnya dengan Lionel Messi. Ia bukanlah ‘Tuhan’ sepak bola yang bisa melakukan apapun sesuai kehendaknya. Selihai apapun kaki-kakinya menari di atas lapangan hijau, Messi juga mengalami kesulitan seperti apa yang dialami pesepakbola lainnya.

Tak selamanya Messi mampu menjawab harapan semua orang. Kekalahan atas Alaves membuat Barca tak lagi jumawa. Kesebelasan yang disebut-sebut berasal dari langit juga bisa kalah dari tim semenjana. Barca bukan lah kumpulan alien atau manusia super dari Planet Krypton.

Messi dan Mario Teguh adalah wujud dari manusia yang selalu ada celah menganga. Memanusiakan mereka adalah pilihan tepat. Sebab, segala kekurangan milik manusia dan Dorce Gamalama. Sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah. Kalau sempurna milik Andra & The Backbone. Mungkin bisa ditambah Chelsea Islan biar lengkap.