Sosok Ahli Surga yang Tampak pada Mr Bean

Sosok Ahli Surga yang Tampak pada Mr Bean

aceshowbiz.com

Selalu ada yang khas di layar kaca saat perayaan hari besar keagamaan dan libur panjang. Selain acara religi, diputar juga beberapa film yang menghibur. Kita seharusnya bisa beribadah dalam suasana yang riang gembira.

Siapa yang tak bahagia menonton film Dono Kasino Indro ketika Lebaran? Siapa yang nggak ngakak menyaksikan film Home Alone, Sister Act, atau Mr Bean saat Natal dan Tahun Baru?

Khusus Mr Bean, saya bahkan sudah menyaksikan puluhan kali. Maka, sampailah pada satu kesimpulan: beliau adalah seorang ahli surga. Tapi jangan baper, bagaimana pun juga Tuhan yang menentukan.

Mr Bean alias aktor Rowan Atkinson lebih memilih jalan kebajikan untuk membahagiakan banyak orang, meski ia memiliki semua skill untuk menjadi teroris paling ditakuti di dunia.

Umat Islam dan Kristen bahkan bisa duduk damai dan tertawa berjamaah saat menyaksikannya. Melupakan sejenak ribut-ribut atribut Natal dan ucapan Selamat Natal.

Rowan Atkinson, si Mr Bean itu, punya gelar master di bidang teknik elektro. Nggak main-main, dari Oxford University. Kalau beliau menghendaki, tentu bisa membuat bom yang canggih dengan rangkaian kabel paling rumit, sehingga tidak bisa dijinakkan.

Tapi beliau memilih menciptakan ‘bom’ tawa, yang akan meledak tiap kali kita menonton aksinya. Berbanding terbalik dengan seorang ibu dosen bergelar master psikologi di Yogyakarta, yang malah menebar ribuan ‘bom waktu’ di hati dan benak orang banyak.

Rowan Atkinson juga seorang pengemudi handal. Kalian pasti akan geleng-geleng kepala. Mungkin kalian belum pernah dengar bahwa beliau adalah satu dari sangat sedikit orang yang mumpuni mengemudi truk sekaligus mobil balap Aston Martin, bahkan F1 McLaren.

Bayangkan kehancuran sebesar apa kalau ia memilih jadi teroris dan menabrakkan diri di keramaian pasar? Atau melempar bom dari dalam mobil balap super cepat? Sulit dikejar polisi!

Ia juga nggak pernah menyombongkan diri bisa beli mobil seharga 8 juta poundsterling atau sekitar Rp 133 miliar! Kalian lebih familiar dengan Rubicon Rp 1 miliar dan Lamborghini Rp 10 miliar punya seleb tanah air, kan? Tapi Rowan Atkinson justru memilih mobil sederhana, tepatnya mobil mungil nan cupu berwarna hijau untuk mobil dinas Mr Bean.

Dan, alih-alih bikin rangkaian listrik sensor dan alarm canggih untuk melindungi mobilnya, beliau merendahkan diri dengan memakai cara yang sangat konvensional: pasang gerendel gembok dan mencopot setir.

Gaya hidupnya juga sangat irit. Sederhana. Bajunya itu-itu saja. Jas dan celana coklat plus dasi merah. Tak peduli musim apa, acara apa, tahun berapa. Beli hiasan Natal? Cuma satu buah bola gantung untuk satu pohon Natal.

Sementara orang umumnya berlomba-lomba ingin terlihat paling pintar, paling sholeh, paling bahagia, eh beliau malah sebaliknya. Nggak masalah kalau dibilang goblok, idiot, pelit, egois, jorok. Bukan hanya oleh satu-dua orang, melainkan seluruh dunia!

Ketika orang-orang pamer kemesraan kekasih dan citra keluarga bahagia di media sosial, beliau menjadi seorang jomblo yang hanya ditemani boneka Teddy dan bebek karet. Semua itu supaya kita yang merasa lebih pintar, lebih sholeh, lebih ganteng, lebih keren, dan lebih romantis ini, bisa bahagia.

Kalau kalian orang yang rendah hati dan menebar kebahagiaan, orang nggak akan peduli apa agamamu, kan?

Waktu Mr Bean mempermainkan hiasan mainan gua Yesus di etalase toko, tak ada yang memperkarakan penistaan agama. Ketika mainan bayi Yesus tiba-tiba diganggu mainan truk dan T-Rex, tak pernah ada yang berkomentar pedas sambil diakhiri dengan status “Untung saya belajar #sejarah”.

Ya, tak ada orang yang mendadak ingin browsing sejarah lalu bikin cocoklogi sehabis nonton, demi hasrat menjadi trending topic. Semua larut dalam kegembiraan menyaksikan keabsurdan Mr Bean menulis dan mengirim kartu-kartu Natal untuk diri sendiri, mencuri pohon Natal dari tempat umum, serta kekacauan yang terjadi ketika beliau mencoba memasak kalkun.

Tak pernah muncul kedengkian dalam hati orang – lalu ribut menuduh sesat – hanya karena kartu Natal, pohon Natal, dan kalkun tak ada di dalam Alkitab, waktu zaman Nabi Isa.

Apalagi menuding kristenisasi karena mempopulerkan atribut keagamaan, lalu menggalang dukungan untuk memboikot semua film Rowan Atkinson, serta dengan bangga merekam diri sedang menginjak-injak atau membuang DVD-nya ke tempat sampah.

Beberapa dari kalian yang hatinya penuh kenyinyiran mungkin akan berujar, “Bah, apa hebatnya? Cuma modal kelakuan absurd lalu bikin orang sedunia ketawa mah ‘Om Telolet Om’ juga bisa. Masa pencetus virus gerakan kurang gawean gitu langsung jadi calon penghuni surga?”

Duh, jangan meremehkan jasa orang-orang yang tak henti berusaha membuat kita tertawa. Jangankan film-film Mr Bean, video amatir semacam video anak-anak SMA yang pura-pura duduk berbaris dan terbanting-banting seperti di dalam bus itu saja bagaikan oase. Apalagi film Mr Bean, yang tak penah gagal membuat kita tertawa setiap tahun, walau sudah hafal adegan demi adegan.

Tawa bahagia hasil menonton Mr Bean itu efeknya lebih dahsyat dari MLM. Satu orang yang tertawa bahagia setelah menyaksikan film Mr Bean akan berlaku manis, ramah pada orang-orang rumah.

Bagaimana kalau satu keluarga yang menyaksikan? Walhasil, satu rumah bakal bahagia, kemudian menyebarkan kebahagiaan itu pada semua orang di sekitarnya. Dari pembantu, sopir, teman, tetangga, penjaga toko, sampai… polisi lalu lintas. Bagaimana kalau satu negara yang menyaksikan? Kalau seluruh dunia?

Saya kira, tak berlebihan, jika Mr Bean alias Rowan Atkinson dicalonkan sebagai pemenang Nobel Perdamaian atas semua jasa-jasanya. Atau minimal, jadi pahlawan nasional yang fotonya dicetak di uang kertas.

Dialah salah satu orang yang sanggup membuat orang beda agama ikhlas mengucapkan, Merry Christmas, Mr Bean.” Kalau senyum saja ibadah, apalagi tertawa? Berapa banyak orang yang dapat pahala dengan tersenyum dan tertawa gegara Mr Bean?