Kita Butuh Orang yang Sok Pintar dan Ngeyel

Kita Butuh Orang yang Sok Pintar dan Ngeyel

Ilustrasi (pexels.com)

Masyarakat kita itu paling nggak suka sama orang yang sok pintar. Dan, merasa tersinggung jika dipanggil demikian. Orang kita juga sebal sama yang ngeyel, karena orang baik itu cenderung penurut. Kan kita orang timur.

Makanya, jangan sampai kamu dibilang sok pintar atau ngeyel! Ya kan?

Eh tapi, tunggu dulu… Jangan-jangan kita sebetulnya malah butuh orang-orang seperti itu.

Kok bisa?

Begini. Dalam banyak kasus, orang Indonesia sangat alergi dipanggil sok pintar, karena takut terkesan jemawa. Persepsi itu sudah dibentuk sejak kecil. Pada akhirnya, kita tidak terasah menjadi pintar betulan.

Budaya mengasah otak, yang memang harus diawali dengan keingintahuan dan kesokpintaran, sudah diberangus sejak dini.

Ketika kita masih anak-anak, menjawab pertanyaan guru secara aktif saat kelas berlangsung selalu berisiko dijuluki sok pintar. Begitu juga ketika kita mengingatkan teman yang belum mengerjakan PR atau jawaban mereka kurang tepat.

Berinisiatif untuk berpartisipasi dalam suatu tugas juga akan dipanggil sok pintar. Tahu lebih banyak tentang materi yang tidak diajarkan di sekolah juga akan dibilang sok pintar.

Apabila membantah orang yang lebih tua atau menyampaikan pendapat berbeda dengan guru, maka kita bukan lagi menjadi sok pintar atau sok tahu, malah bisa-bisa dibilang kurang ajar.

Menurut budaya ketimuran, orang baik adalah orang yang rendah hati, sehingga kepintaran cenderung disembunyikan. Maka, setelah dewasa pun, orang Indonesia masih merinding kalau dipanggil sok pintar, karena takut dianggap riya.

Akibatnya, banyak orang yang merasa nggak enakan kalau sampai terlihat sering membaca buku (“Aduh, berat amat bukunya!”). Atau, menghindar dari topik-topik yang berat (“Ah gak asik bahasannya bro!”). Bahkan takut mempertanyakan doktrin dan aturan yang ada (“Itu kata guru/orangtua saya”).

Padahal, untuk mengasah kepintaran dan menguji pengetahuan, orang harus membaca, berdiskusi, menulis, menunjukkan karya-karyanya pada orang lain supaya bisa menerima kritikan dan begitu seterusnya. Tapi, ya bagaimana, proses itu sudah dipotong duluan, ketika kita ingin membahas topik yang berat atau ingin memamerkan buah pikiran.

Dengan kata lain, alih-alih menjadi rendah hati, orang kita menjadi tidak pintar betulan.

Nah, hal serupa juga berlaku pada persepsi tentang orang yang ngeyel. Ketegaran mempertahankan pendapat atau sikap, yang sudah diuji melalui berbagai analisa dan didukung oleh argumentasi yang kuat, sering kali disalahartikan sebagai ngeyel.

Kita tidak mau dipanggil ngeyel, karena takut dianggap tidak nurut. Takut dianggap mau menang sendiri, takut dianggap egois, takut dianggap pembangkang, atau apa-apalah itu.

Padahal, tidak seperti persepsi sok pintar yang hampir pasti mitos, ngeyel dalam arti sesungguhnya sering kita jumpai. Ngeyel yang demikian lebih cocok dipanggil bebal. Artinya, orang yang tidak mau mengubah pikirannya, meski bukti-bukti yang ada sudah tidak mendukung.

Namun, yang menjadi masalah adalah ketika kita dipanggil ngeyel saat mencoba berargumentasi dengan logika. Saat kita bertahan menyusuri lorong-lorong analisa, sementara lawan bicara kita kewalahan dan mengeluarkan kartu desperado: “Mungkin pendapat kita berbeda”, tapi tanpa bukti-bukti yang sama kuat.

Saat lawan bicara kita menutup paksa dialog dengan berkata, “Ya pokoknya begitu”, dan kita tetap menolak mengakhiri percakapan karena kesimpulan yang sengaja dikaburkan.

Ngeyel yang baik saat bukti-bukti pendukung argumentasimu sudah kuat. Ngeyel bisa jadi pertentangan kita terhadap status quo. Ketika bukti sudah kuat dan logika dipakai, kita harus ngeyel sejadi-jadinya. Demi kelangsungan akal sehat. Bahkan demi kemanusiaan.

Saat Nazi berkuasa, orang Jerman yang harus sembunyi-sembunyi melindungi orang Yahudi itu adalah orang-orang ngeyel. Orang Indonesia yang berkeras menjelaskan bahwa orang-orang keturunan Tionghoa di sini tidak ada hubungannya dengan komunis adalah orang-orang ngeyel.

Sudah dibilang orang Yahudi itu mesti diperangi, kok ngeyel mau melindungi? Sudah dibilang orang Tiongkok itu komunis, kok ngeyel bilang tidak ada hubungannya? Kok tidak nurut saja sama kesalahan berpikir?

Dengan demikian, menjadi sok pintar dan ngeyel itu perlu di zaman sekarang, apalagi di Indonesia. Rendah hati kita ternyata bukan betulan rendah hati, tapi pikiran yang tidak diasah. Menjadi penurut bukan berarti benar-benar berhati besar, tapi ketidakmampuan bertahan pada sisi yang kita anggap benar.

Ketika si sok pintar sangat yakin bahwa analisanya benar, dia harus ngeyel mempertahankan temuannya itu. Kita mesti menjadi orang-orang yang demikian. Kita harus jadi orang yang sok pinter, yang terus mencari, berdiskusi, dan mengingatkan orang lain akan temuan-temuan terbaru.

Kemudian menghidupkan pengetahuan, kesimpulan, dan pencapaian manusia lewat dialog, tulisan, atau medium lainnya, terus memamerkan buah pikiran untuk menerima kritik, lalu bertanya, bertanya, dan bertanya.

Kita harus jadi orang ngeyel yang kuat mempertahankan pendapat, yang selalu menyodorkan bukti-bukti sahih, serta mempertahankan sikap dan gagasan dalam konteks kebenaran dan kemanusiaan. Jangan sampai ada yang namanya l’exploitation de l’homme par l’homme…

Mari jeung, rebut kembali arti sok pintar dan ngeyel!

  • patriwan stock only

    ini yang nulis gak pernah baca buku sejarah.

    • Abdi

      Coba Mas tunjukkan apa yang kurang dari tulisan ini dari sisi sejarahnya. Saya penasaran betul

  • Herland Firdaussy

    Saya setuju, demi membangun masyarakat yg lbih kritis terhadap setiap masalah yg ad sifat2 seperti ini mungkin hrus dmiliki, nmun penyelsaian mslhnya tdk dilandasi emosi yaah tpi logika dn kenytaan yg ad , peeace