Apakah Saya Seorang ‘Social Justice Warrior’ atau SJW?

Apakah Saya Seorang ‘Social Justice Warrior’ atau SJW?

Ilustrasi SJW (metalinjection.net)

Sebagai laki-laki, muslim, Jawa, terdidik, dengan penghasilan tetap saya jarang sekali merasa ada yang salah dengan apa yang terjadi di sekitar saya.

Misalnya, kenapa sih sebagian orang Papua marah kalau di film-film mereka dicitrakan sebagai orang barbar atau suku primitif? Kan cuma film. Lagipula, tetangga saya yang papua merasa lucu-lucu aja tuh.

Atau, kenapa sih beberapa orang Bali ngamuk kalau tariannya dipakai buat menyambut bule? Kan kita nggak tahu ternyata ada sakralitas dalam tarian-tarian tersebut. Lagipula, tetangga teman saya yang orang Bali gembira-gembira aja.

Belakangan, lema white washing dan cultural appropriation makin populer. Bukan karena semakin membaiknya mutu kesadaran kita, tapi makin banyak orang yang merasa bahwa saat ini netizen pada sensitif, baperan, dan butthurt dengan jokes-jokes yang ada.

Halah cuma becanda, baper amat sih.”

Dasar SJW, padahal orang papuanya nggak masalah koteka dibuat mainan.”

Wkwkwk butthurt, sok-sok amerika, ngomong nigga aja nggak boleh.”

Yang abai dipahami oleh manusia yang kurang baik dalam berevolusi ini adalah konteks waktu dan ruang. Ada zaman dimana kita, di Indonesia, bisa memaki oh dasar ‘Cina’ kepada orang lain yang kita anggap pelit. Dasar primitif, kepada orang-orang yang menjaga tradisi.

Ah dulu gue nyebut temen gue ‘Cina’, dia biasa aja tuh. Lu aja SJW yang kebaperan.”

Benar. Saya atau siapapun tak bisa jadi juru bicara orang-orang ini. Tapi begini…

Bayangkan kamu hidup dalam rezim berkuasa 32 tahun yang merepresi segala identitas kulturalmu, menganggapmu bagian dari komunis, minoritas, dan kerap kali ditindas karena identitas rasmu. Lalu, ada orang muslim, Jawa, laki-laki yang ujuk-ujuk merasa akrab padamu dan memanggilmu dengan istilah tadi.

Orang yang kita maki-maki mungkin dulu diam saja. Diam, dalam hal ini bukan berarti menerima. Sama seperti orang yang diperkosa atau dilecehkan di jalan. Hanya karena dia diam, bukan berarti dia consent. Bisa saja dia terlalu takut melawan, terlalu trauma bereaksi, sehingga yang bisa ia lakukan hanya diam.

Menarik melihat reaksi orang-orang, terutama anak muda, di internet ini terkait white washing dan cultural appropriation.

Beberapa menyebut bahwa dua lema itu cuma akal-akalan SJW, bikinan orang Amerika butthurt, atau sekadar orang sensitif yang tak bisa menerima lelucon. Btw, sudah tahu istilah SJW atau Social Justice Warrior, belum?

Kita coba deh, bagaimana jika yang sakral bagimu, yang penting bagimu, direbut untuk kemudian dibikin parodi atau digunakan sebagai atribusi yang tidak tepat?

Kamu terlahir sebagai orang Tionghoa, bahasa Mandarin merupakan bahasa keduamu. Tapi, karena kamu hidup di Indonesia, kamu kerap kali dianggap anak orang kaya atau kaya karena mempekerjakan orang dengan murah. Suatu hari, kamu ketemu orang tidak dikenal. Karena sentimen ras, kamu diteriakin, “Woi, balik lu ke kampung lu.”

Apakah kamu akan butthurt atau baper atau akan chill sambil bikin meme?

Kamu orang Papua, melihat seseorang yang bukan Papua di televisi yang dipakaikan kostum dengan nuansa rimba, lalu tubuhnya yang sawo matang dicat hitam. Dalam tayangan itu, ia menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek Papua asal-asalan sembari menjadi tokoh minor yang berfungsi sebagai objek risak dan lucu-lucuan.

Apakah kamu akan butthurt atau baper atau akan chill sambil bikin meme?

Kalau kamu bilang bahwa white washing dan cultural appropriation itu cuma di Amerika, ya problematik. Jika kamu pikir bahwa cultural appropriation itu tidak masalah, itu hakmu dan itu baik-baik saja.

Yang jadi masalah adalah ketika kamu menganggap orang yang mempermasalahkan cultural appropriation sebagai orang yang butthurt, baperan, dan butuh chill.

Misalnya, sebagai orang kulit putih atau orang Madura/Jawa di pedalaman Jelbuk Bondowoso saja, memakai dreadlock ya nggak ada masalah. Jadi masalah kalau misalnya menyebut penggunaan dreadlock itu keren, sebagai fashion statement, dan menihilkan nilai sejarahnya.

Seorang non-teis tidak masalah menggunakan hijab atau burqa. Itu hanya selembar kain. Dalam tradisi Judaisme, Kristen, dan Islam, hijab adalah kain penutup tubuh, ia bisa punya nilai ibadah dan sakralitas.

Ini bisa jadi masalah, jika anda merasa bahwa memakai hijab bisa membuat diri jadi eksotis, tren yang bisa dijual, dan menghilangkan narasi historisnya.

Tentu tidak semua orang tersinggung dengan hal itu. Tapi gini deh, apa anda yakin 2,8 juta orang Jamaika tidak tersinggung dreadlock yang merupakan bagian dari keyakinan mereka dibuat fashion statement?

Anda yakin sekian miliar muslim di dunia tidak masalah, jika hijab dibuat jadi sekadar fashion sembari menihilkan nilai ibadahnya?

Jadi sama sekali nggak boleh pakai tradisi atau budaya orang nih?

Ya nggak juga. Justru sangat boleh dan dianjurkan. Oskar Metsavaht, pendiri dan creative director merek pakaian terkenal di Brasil, Osklen, kerap mengadopsi desain, tradisi, dan visual masyarakat adat di Amazon untuk pakaian yang ia desain.

Pada 2016, ia datang dan menemui suku Ashaninka di Amazon untuk mempelajari warna, desain, dan budayanya. Hasilnya, desain yang diproduksi merupakan bentuk kolaborasi antara Osklen dan Ashaninka.

Tak hanya itu, suku Ashaninka mendapatkan royalti dan penghormatan dalam produk yang dibuat Osklen.

Tapi, kalau seperti saya, yang makai tato mamalia Paus Bungkuk yang suci bagi beberapa kelompok adat di Hawaii cuma buat gaya-gayaan, ya jelas salah. Tentu nggak enak juga menghapus tato segede tangan.

Kemudian yang bisa dilakukan adalah memperbaiki diri sebaik-baiknya. Nggak perlu dipercaya juga. Mau percaya sama saya syukur, nggak ya sudah. Masa peduli dan bersolidaritas harus dipaksa?

Saya sangat bisa salah dan tak punya hak jadi perwakilan peradaban atau juru bicara satu kelompok masyarakat. Memakai dan meminjam bagian dari tradisi masyarakat lain dengan penuh penghormatan adalah apresiasi kita terhadap sejarah masyarakat itu.

Yang perlu disadari adalah privilege kita saat menggunakan hal itu, terutama jika kita meminjam tradisi kelompok minoritas hanya buat gaya-gayaan dan merasa tak ada yang salah karena terbiasa hidup sebagai mayoritas.

Wkwkwk… baper mah baper aja. Jangan bully aku lagi please… 🙁