Sisi Lain dari Markobar yang Tersembunyi

Sisi Lain dari Markobar yang Tersembunyi

Saya sebenarnya enggan menyinggung soal Martabak Kota Barat alias Markobar yang lagi berkibar. Kenapa? Saya nggak mau ikut-ikutan jadi agen promosi. Bukan karena nggak dikirimin martabak gratis, tapi Gibran Rakabuming – pemilik Markobar yang juga anak sulung Presiden Jokowi – sudah menyandang sabuk hitam untuk urusan promosi. Saya? Mau naik dari sabuk putih ke kuning saja susah betul.

Markobar pun sudah tenar, apalagi Kaesang Pangarep – adiknya Gibran – ikutan promosi. Tapi, kali ini, saya tak ingin membahas lagi soal gaya promosi dan heboh Markobar di media sosial. Saya hanya ingin tunjukkan bahwa Markobar bukan hanya martabak.

Entah ini kebetulan atau tidak, entah ini kode alam atau bukan, setelah bisnis martabak anak Jokowi bernama Markobar itu mencuat, Markobar ikut ngetren di kalangan elit politik saat ini. Maksud saya, Markobar di sini adalah ‘Mari kompromi bareng-bareng’.

Kenapa saya sebut Markobar itu ‘Mari kompromi bareng-bareng’? Karena satu-persatu partai anggota Koalisi Merah Putih (KMP), koalisi pendukung Prabowo saat pilpres, beramai-ramai mulai mendukung Jokowi, meski tak masuk Koalisi Indonesia Hebat (KIH), koalisi yang katanya setia kepada Jokowi.

Yang lagi heboh adalah manuver Aburizal Bakrie yang terang-terangan menyatakan bahwa Partai Golkar mendukung Jokowi. Sebelumnya, Zulkifli Hasan bersama partainya, Partai Amanat Nasional (PAN), lebih dulu nyeberang ke Jokowi.

Sudah menjadi tradisi politik kalian kita bisa nyeberang sana-sini. Berkuasa itu memang nikmat sodara-sodara. Kenikmatan apa lagi yang sanggup anda dustakan? Peduli amat sama etika dan fatsoen politik. Peduli kok sama amat. Etika dan fatsoen politik itu hanya untuk adik-adik mahasiswa yang lagi kuliah pengantar ilmu politik.

Tentu ada yang beranggapan kalau kompromi politik ini demi kestabilan supaya pembangunan berjalan lancar? Bahkan ada yang bilang kalau ini tanpa ada deal jatah menteri atau syarat apapun sebagai kompensasi. Yaelahh bro, sis… Masih aja? Mumpung sebentar lagi mau ada reshuffle kabinet, gurih bukan?

Lalu apakah hanya PAN dan Golkar yang pindah ke lain hati? Ya tidak. Bukan ‘Mari kompromi bareng-bareng’ namanya kalau cuma dua partai. Denger-denger Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga sedang digoda ya? Kata siapa? Mas Fahri Hamzah. Beliau curhat, kalau motif desakan pencopotannya dari pimpinan DPR, karena PKS juga mau mendukung Jokowi.

Bisa jadi nanti partai-partai yang pro Jokowi ada 8 partai. PDI-P, PKB, Nasdem, Hanura, PKP, PAN, Golkar, dan PKS. Kok mirip ya sama Markobar, martabaknya anak Jokowi yang terkenal sedap betul dengan pilihan 8 rasa? Ada Nutella, KitKat Green Tea, Ovomaltine, Milo, TimTam Red Velvet, Silverqueen, KitKat Cokelat, dan Cadbury.

Lalu bagaimana dengan nasib Gerindra, PPP, dan PBB. Dua partai terakhir, PPP dan PBB bisa saja ikutan, namanya juga politik. Martabak Markobar tentunya juga akan menambah unggulan rasa supaya pelanggan nggak bosen.

Partai pro Jokowi juga demikian agar tercipta apa yang saat ini disebut sebagai kestabilan. Kalau itu terjadi, Gerindra bakal menjomblo alias sendirian lagi. Tapi nggak perlu khawatir, menjomblo itu mulia, kalau kata ustadz Felix Siauw.

Kalau nyatanya partai-partai dan para elitnya suka sekali Markobar alias ‘Mari kompromi bareng-bareng’, mau bagaimana lagi? Yang lucunya, lovers dan haters Jokowi masih saja ribut-ribut asal nyebut di media sosial. Mungkin belum cicipin Markobar kali? (bukan promo)

Yang kemarin gerrrr soal kecebong dan kodok. Nah, ini juga entah kebetulan atau tidak, kodok masih berhubungan sama politik di Tanah Air. Kode alam lagi? Bisa jadi.

Maksud saya, kodok di sini adalah ‘Kompromi dong kita’. Begitu juga kecebong, yang katanya plesetan untuk menyebut Jokowi lovers. Tapi maksud kecebong di sini adalah ‘Kecele bong!’ Eh, maksa ya?

Foto: 123hdwallpapers.com