Lagi-lagi Perempuan Harus Cantik, Cobalah Lihat Sisi Gelapnya

Lagi-lagi Perempuan Harus Cantik, Cobalah Lihat Sisi Gelapnya

Ilustrasi (Photo by Brooke Cagle on Unsplash)

Seorang yang dikenal sebagai dating coach dan motivator spesialis asmara dikritik, karena menulis pernyataan di akun Twitter soal perempuan harus tampil cantik agar bisa menarik perhatian lawan jenis dan mendapat pasangan.

Lantas, ia semakin mendapat balasan yang sinis setelah menulis pernyataan yang seolah menyiratkan bahwa jika wanita malas untuk mempercantik dirinya di hadapan pria, maka sah saja bagi pria untuk bermalas-malasan di hadapan wanita. Namun, akhirnya sang motivator mengklarifikasi tentang konteks pernyataannya tersebut.

Pernyataan sang motivator mengenai perempuan harus cantik agar pria tertarik memang terbilang masuk akal, karena nyatanya sebagian pria menyukai perempuan cantik, meski preferensi dalam mencari pasangan pasti tidak selalu berpatokan pada kecantikan semata.

Namun, apakah sang motivator cum pakar kencan itu sudah melihat sisi gelap yang dilakukan sebagian perempuan demi menjadi cantik, sebelum mengeluarkan pernyataan tersebut?

Standarisasi Kecantikan

Menjadi cantik adalah sebuah proses perjuangan tersendiri bagi sebagian perempuan. Tak ayal, pernyataan sang motivator terdengar provokatif bagi perempuan yang begitu memahami bahwa selama ini standarisasi kecantikan bersifat semu.

Penyeragaman definisi kecantikan yang terkait kondisi fisik, genetik, dan keadaan sosial yang berbeda-beda tentu sangat tidak adil. Misalnya, perempuan cantik itu yang berkulit putih atau yang tidak berjerawat. Padahal, warna kulit maupun jerawat dipengaruhi faktor fisikal dan hormonal yang berbeda pada setiap orang.

Namun, tak sedikit perempuan yang masih ingin memenuhi standarisasi kecantikan tersebut, sampai-sampai memakai produk kosmetik ilegal. Berdasarkan data hasil penertiban sepanjang 2016, Badan POM berhasil menemukan 9.071 jenis (1.424.413 kemasan) kosmetik ilegal yang mengandung bahan berbahaya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa sedikitnya ribuan perempuan Indonesia menggunakan kosmetik berbahaya demi memenuhi kriteria dalam standarisasi kecantikan. Mereka seolah tak peduli dampaknya.

Selain kosmetik berbahaya, penggunaan obat pelangsing tanpa pengawasan dokter juga didominasi oleh perempuan. Hal tersebut diketahui dari banyaknya keluhan pasien di forum kesehatan online mengenai penggunaan obat pelangsing, yang mengakibatkan nyeri perut saat dikonsumsi semasa menstruasi.

Berbagai macam risiko yang harus ditempuh seorang perempuan demi mengikuti tafsir tunggal kecantikan ini seolah mengamini istilah beauty is pain yang populer di kalangan beauty enthusiast.

Padahal, fenomena standarisasi kecantikan perempuan itu terbukti berdampak pada pola pikir dan kondisi psikologis. Dampak dari obsesi yang berlebihan itu bisa menjadi pemicu awal terjadinya depresi.

Minim Edukasi

Kontradiksi di dunia kecantikan tercermin pada gagasan mengenai ‘perempuan itu kecantikannya terpancar dari dalam’ yang dibarengi oleh masifnya propaganda kapitalis. Masyarakat pun dicekoki tentang standarisasi kecantikan fisik perempuan melalui berbagai media.

Kalau sudah begini, tentu gagasan mengenai pentingnya inner beauty menjadi tidak efektif untuk mengatasi sesat pikir dalam standarisasi kecantikan yang selama ini begitu menghantui.

Sudah seharusnya media dan berbagai brand kecantikan mengambil peran untuk mengedukasi kaum perempuan agar dapat mempercantik diri dengan benar. Salah satu caranya adalah meningkatkan kesadaran perempuan akan pentingnya mengenal berbagai istilah kimia yang dipakai dalam sebuah produk kecantikan.

Hampir setiap produk kecantikan mengandung zat kimia yang mungkin saja dapat membuat kulit cerah dan sehat, namun mungkin juga mengandung zat berbahaya seperti agen pemicu alergi, zat karsinogenik, bahkan bahan perusak lingkungan.

Edukasi menjadi cantik dengan benar ini perlu dikampanyekan agar perempuan dapat lebih bijak memilih produk kecantikan, sehingga tak lagi dibutakan oleh konsepsi kecantikan yang salah.

Maraknya fenomena beauty influencers pada era digital tentu juga menjadi penyegaran tersendiri bagi dunia kecantikan, dimana mereka biasanya menjaga independensi agar selalu objektif memberikan informasi kecantikan yang tidak menyesatkan.

Selain beauty influencers, kampanye menjadi cantik yang sehat dan benar juga sudah banyak diangkat oleh media dan forum online khusus perempuan, namun lagi-lagi segmentasinya masih sangat terbatas.

Jangan sampai sakit

Sampai saat ini, penggunaan kosmetik ilegal dan berbahaya seperti krim wajah tanpa merek dan tanpa izin BPOM masih marak, terutama krim yang dapat membuat wajah menjadi tampak ‘putih’ dalam waktu singkat. Penjualannya bahkan mudah diakses melalui media sosial.

Bayangkan, setiap hari ada perempuan yang mengolesi racun ke permukaan kulitnya agar menjadi cantik, atau perempuan yang membiarkan dirinya sangat kelaparan demi mencapai standarisasi kecantikan yang terlanjur tercipta.

Merawat penampilan fisik adalah hal yang sangat manusiawi, bukan hanya perempuan, tapi laki-laki juga. Namun, definisi cantik seorang perempuan yang kita kenal selama ini terlalu sempit, sehingga masih ada sebagian perempuan yang merasa kurang cantik lantas berkeras ingin mengubah penampilannya dengan cara yang salah.

Padahal ya, memelihara kesehatan jauh lebih penting daripada sekadar menjadi cantik tapi tanpa sadar justru menyakiti diri sendiri.

Saya tak sepenuhnya menyalahkan pendapat sang motivator spesialis asmara tentang perempuan harus cantik yang heboh tempo hari. Sebab, apa yang disampaikannya berbasis fakta.

Namun, respon keras dari publik rasanya bukanlah hal yang berlebihan, karena di luar sana masih banyak perempuan yang menelan mentah-mentah standarisasi kecantikan hingga terobsesi dan lupa untuk mencintai dirinya sendiri.

Nyatanya, meski telah berusaha tampil cantik pun, penampilan perempuan masih rawan di-bully kan?

“Duh, dandanannya menor kayak mau dangdutan.”

“Duh, alisnya ketebelan kayak ulet bulu.”

“Duh, dia terlalu kurus kayak tengkorak hidup.”

“Ah, dia cantik polesan, kalau make up dihapus juga nggak cantik lagi.”

Betapa melelahkannya jika ingin cantik demi memuaskan pendapat orang lain sekaligus memenuhi standarisasi kecantikan. Dear girls, embrace your flaws and be pretty for your own selves first.

Tak ada yang salah dengan pigmen yang kita punya, jangan pakai hidroquinon apalagi mercury untuk menjadikannya putih.

Merawat kecantikan tentu tidak harus mengubah masing-masing karakter unik yang kita miliki. Selama kita menjaga kebersihan tubuh dan menjalani pola hidup sehat, penampilan akan jauh lebih segar dan tentunya dapat terlihat cantik, since make up is not for everyone

  • Adiza

    Tidak harus cantik sih, yang penting punya daya tarik, banyak kok yang kulitnya gelap tapi manis, yang “overweight” tapi enak diliat, dan lain lain

    suka kutipan akhirnya:

    “Selama kita menjaga kebersihan tubuh dan menjalani pola hidup sehat,
    penampilan akan jauh lebih segar dan tentunya dapat terlihat cantik”

  • Hera Meilyna

    melelahkan memang kalau selalu ingin dinilai oleh orang lain.
    kembali lagi, kalimat klasik dan klise, menjadi diri sendiri dan nikmati aja