Simulakra Generasi 90-an dalam Reproduksi Bisnis Seks dan Ketakutan

Simulakra Generasi 90-an dalam Reproduksi Bisnis Seks dan Ketakutan

blog.4fini.com

There was a child went forth every day,

And the first object he look’d upon, that object he became.

(Walt Whitman)

Malam semakin larut. Seorang gadis usia awal belasan tahun belum juga berhasil mengatupkan mata, tidak pula berani mematikan lampu kamarnya. Ia memandang sunyi ke jendela kaca. Nampak kain penutupnya bergerak lirih, namun angin dingin justru merembet hingga ke belakang lehernya.

Bulu kuduknya meremang. Ia alihkan pandangan ke poster wajah Kurt Cobain di dinding, yang identik dengan latar sampul buku Heavier than Heaven. Ia menatap tajam mata vokalis band Nirvana yang telah almarhum pada tahun yang sama dengan kelahirannya itu.

Tatapannya semakin tajam, lebih tajam, tajam lagi, dan lama-lama bola mata terlepas dari tempurung kelopaknya! AAAAAAAA! Gadis usia awal belasan tahun itu bermimpi buruk hingga pagi menjelang.

Peristiwa semacam itu adalah gambaran pengalaman sebagian remaja yang lahir awal tahun 90-an. Apakah pengalaman otentik itu anda alami sendiri, adik anda, atau barangkali anak-anak anda?

Televisi swasta pernah giat-giatnya menayangkan film-film bertema hantu lokal seperti pocong, genderuwo, kolor ijo, tuyul, dan kuntilanak. Bahkan ada yang sengaja mengimpor hantu dari luar negeri, seperti drakula dan suster Jepang.

Film-film Suzanna yang kadang berwujud hantu sundel bolong atau siluman macan putih bersaing terputar dengan acara reality show semacam Dunia Lain dan Uji Nyali. Suara presenter Torro Margen yang berteriak bariton “uka-uka” berdenging-denging sepanjang hari di telinga, dan menjadi pengalaman mistis tersendiri ketika anak-anak melewati tempat-tempat sepi atau sekadar pergi ke kamar mandi.

Itulah simulakra semesta remaja generasi Z. Generasi X dan Y, yang lahir pada era 70-an dan 80-an, juga hampir pasti memiliki simulakranya sendiri.

Situs filmindonesia.or.id merilis laporan bahwa film Gairah Malam ditonton oleh 269.804 penonton dan menjadi film terlaris ketiga tahun 1994. Judul-judul semacam Gadis Metropolis dan Akibat Hamil Muda yang mempopulerkan nama Sally Marcelina hingga Inneke Koesherawaty adalah dunia pertama yang membentuk gairah erotika generasi sebelum reformasi.

Muhidin M Dahlan menggambarkan serunya mencuri tiket masuk bioskop yang memutar film semi esek-esek tersebut pada novelnya Jalan Sunyi Seorang Penulis. Era kejayaan bisnis imaji seks dalam layar tersebut muncul bersamaan dengan terbitnya kepustakaan Enny Arrow, legenda novel erotis Indonesia, yang karya-karyanya terakui menjadi inspirasi berharga bagi karya-karya sastrawan Eka Kurniawan.

Di sisi lain, komik surga-neraka yang mewacanakan siksa perih perempuan-perempuan yang rambut panjangnya digantung dengan mulut memuntahkan darah dan nanah, serta punggung yang disetrika menjadi peristiwa sejarah bagaimana anak-anak mengenal agama pada masa lalu. Agama yang penuh dengan ancaman.

Para penjaga neraka kemudian digambarkan seperti tukang jagal dan malaikat bersayap yang sedia mengawasi dan mencabut nyawa kapan saja. Komik surga-neraka, pada zamannya, pernah sama larisnya dengan wacana beragama manusia hari ini, yang giat memberikan label halal dan syar’I pada semua produk: perumahan islami, jilbab halal, dan susu syariah.

Lalu mengapa akhir-akhir ini kata ‘simulakra’ makin marak dibicarakan mulai dari paper ilmiah serius hingga artikel sekali duduk semacam judul yang anda baca ini?

Sesungguhnya bahasan simulakra bukanlah hal baru. Dunia fantasi serta surreal dalam film, televisi, dan fitur komputer adalah tipikal semesta kebudayaan Barat di era pasca perang dunia kedua.

Dunia itu lalu diramaikan oleh simulakra, seperti sejarah mistis Abad Pertengahan St Catherine, pelukis abad kemajuan Heronymous Bosch, pengarang dongeng fantasi seperti Grimm Brother dan Hans Christian Anderson, artis surealis Salvador Dali dan Joseph Cornell, juga pengarang science fiction semacam William Gibson.

Lain zaman, lain strategi. Tetapi, seperti kebudayaan Amerika yang tetap bertahan pada warna fantasi dan surrealis, budaya pustaka dan layar Indonesia juga seperti tidak beranjak dari reproduksi bisnis seks dan bisnis ketakutan.

Para praktisi SEO mencatat tiga topik yang menempati rate tertinggi mesin pencari di Indonesia, yakni kata kunci yang terkait seks, kecantikan, dan gaya hidup. Tiga kata kunci inilah yang memiliki perputaran bisnis gigantik pula pada banyak cabang-cabangnya.

Kita kemudian dapat memahami mengapa di tengah-tengah berita perpolitikan yang panas, kemudian selalu ada berita skandal kehidupan malam selebriti. Atau, wabah virus mematikan dari hewan yang begitu menakutkan dan memakan korban, meskipun belum jelas statistiknya. Kemudian munculnya fenomena mistis-nirnalar seperti dukun Ponari atau pohon dan batu ajaib.

Itulah alasan mengapa saya tidak tertarik meneropong Awkarin dan tokoh-tokoh generasi SWAG lainnya lewat sudut pandang diagram Maslow. Moral dan nilai selalu menjadi perkara purba yang baku sekaligus relatif. Kebakuan yang meliputinya senantiasa sama: hitam dan putih, tetapi masing-masing zaman memiliki karakternya sendiri.

Orang mungkin lupa bahwa fenomena seks bebas bisa dan telah terjadi bahkan sejak zaman penjajahan. Demikian pula peristiwa kekerasan seperti bullying. Setiap zaman mereproduksi setiap peristiwa budaya yang meliputinya.

Fenomena Awkarin dan Young Lex nampaknya merujuk arus budaya baru generasi Z yang semakin terbuka pada keran informasi. Ini adalah zaman di mana channel seluruh dunia dapat kita nikmati tanpa batas, juga kanal-kanal hiburan gratis dapat terakses demikian mudahnya.

Simulasi arus deras digital yang membentuk pola budaya baru mungkin sekilas nampak mengerikan dan menakutkan. Namun, sesungguhnya, masyarakat sebagai subjek budaya selalu memiliki cara-cara eksistensial untuk mempertahankan hidup yang ia inginkan. Nilai-nilai baru akan bertumbuh dan sekaligus melahirkan standar moral yang baru…