Siapa Takut Bela Negara?

Siapa Takut Bela Negara?

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dikenal sebagai seorang jenderal tempur, bukan jenderal salon yang lihai berpolitik. Mantan KSAD itu bahkan pernah bilang, “Gua gak mau nyemplung ke politik. Seumur hidup gak akan pernah mau. Gua pasti bego di politik.”

Jenderal yang kakinya pincang akibat aksi stabo – tubuh menggantung di tali yang menjulur dari heli – tersebut sangat patriotik. Tak heran, dia akan merekrut 100 juta kader bela negara dari seluruh wilayah Indonesia mulai awal 2016.

Siap saja yang bakal direkrut? Apakah termasuk Anda?

Program bela negara wajib dilakukan bagi warga yang berusia di bawah 50 tahun. Latihannya fisik dan psikis, tapi bukan seperti wajib militer (wamil). Tahun ini, program tersebut akan dimulai di 47 kabupaten/kota yang berada di 11 Kodam.

Sudah siap?

Kader-kader bela negara bertugas melakukan pertahanan negara, jika sewaktu-waktu negara mendapat ancaman, baik nyata maupun belum nyata. Dengan 100 juta kader bela negara, Indonesia katanya bakal lebih kuat.

Baru-baru ini, Global Firepower (GFP) melansir 100 negara dengan militer terkuat di dunia. Indonesia berada di peringkat 12, terpaut satu level di bawah Israel yang berada di posisi 11. Sedangkan Australia di peringkat 13 atau di bawah Indonesia.

Berarti negara kita sudah kuat? Kalau lihat data terbaru di atas, iya. Apakah perlu dibela? Iya, itu kewajiban warga negara.

Tapi apakah perlu ada program bela negara? Tidak perlu, karena warga akan membela negaranya, kalau negara membela hak-hak warganya. Apakah negara sudah benar-benar membela warganya?

Masalah bela membela ini pernah disentil oleh Gus Dur. Ketika itu, konteksnya agama, tapi masih sama-sama soal patriotisme.

Saat kebanyakan orang saling menunjukkan diri sebagai pihak yang paling garang dan paling ngotot membela agama Tuhan, maka itu sikap yang gegabah. “Tuhan nggak perlu dibela,” ujar Gus Dur saat itu. Lho, bagaimana dengan negara?

Berikut komentar para netizen soal #BelaNegara: