Siapa Lebih Cantik? Neng, Nara, atau Anya Geraldine?
CATATAN SI NENG

Siapa Lebih Cantik? Neng, Nara, atau Anya Geraldine?

Instagram/Anya Geraldine

Si Abang dapat tambahan libur, setelah dua minggu tugas jaga PON. Neng senang karena dia dapat bonus lembur, eh maksudnya jadi sering nemenin di rumah. Ya, walaupun nggak ngapa-ngapain juga. Mau pergi kencan, hujan terus. Mau belanja, lagi cekak banget habis bayar-bayarin vendor resepsi.

Tapi asal berduaan, rasanya sudah cukup bahagia. Klise banget sih memang. Tapi ya beginilah pasangan muda menjelang nikah. Belum merasakan perang bubat tentang siapa yang paling capek atau siapa yang egonya paling jago. Entah, kalau udah lewat tiga tahun. Oops…

Karena cuma di rumah, jadinya kami hanya mantengin TV dan TL. Bandrek dan ubi rebus melengkapi suasana jadi lebih romantis. Neng pijetin pundaknya dari belakang. Kasihan capek jaga PON soalnya pake ricuh segala.

Sambil merem melek dipijit, tiba-tiba Abang bersuara, “Ya ampun…” Neng kaget, “Kenapa Bang?”

“Apaan lagi itu rame-rame Kanjeng Dimas? Kok masih ada yang begituan di zaman 4G sekarang ini?”

Ah, mungkin si Abang sepertinya yang belum update. Justru fenomena Kanjeng Dimas itu marak di era 4G! Lebih tepatnya contoh karya ‘augmented reality’ (AR). Itu lho, semacam teknologi yang menggabungkan benda maya ke dalam lingkungan nyata 3D, lalu menampilkan benda-benda maya tersebut secara real time.

Buktinya, si ibu ketua yayasan padepokan bilang kalau Kanjeng Dimas bukan menggandakan uang, tapi punya ilmu memindahkan uang melalui tangannya. Caranya? Istigosah. Dimas Kanjeng diyakini sebagai anugerah Tuhan. Negara ini, iya Indonesia, perlu orang-orang seperti dia.

“Abang kok ketawa sih?”

Ibu itu bukan orang sembarangan, lho! Neng aja minder baca CV beliau. Doktor bidang komunikasi lulusan American University di Washington DC. Itu bukan kampus gurem. Di negara maju itu. Kampusnya juga sudah tua, berdiri sejak tahun 1893.

Waktu S3, beliau lulus distinctive. Beasiswa pula dari Pak Habibie sebagai ketua BPPT saat itu. BPPT tahu kan? Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Bukan Teknoklenik!

Pulang dari Amerika, beliau masuk ICMI sebagai sekretaris umum. ICMI masih ingat juga kan singkatan apa? Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. Cendekiawan, bukan Cenayang.

Tapi denger-denger, duit sekamar itu hanya bisa buat membantu orang yang kesulitan. Kalau dipakai keluarga sendiri, mereka akan sakit 40 hari. Kenapa itu nggak dipakai untuk membantu bangsa ini yang lagi kesulitan, daripada mengampuni pajak konglomerat?

Tapi ya itu, Kanjeng Dimas harus diruwat dulu, kudu ganti nama (lagi). Masak Kanjeng Dimas Taat Pribadi, kan kesannya kepentingan pribadi banget. Taat Rakyat gitu. Kanjeng Dimas Taat Rakyat.

“Hahaha… Neng kalo udah nyatir nyinyir gitu seksi banget dah,” celetuk si Abang.

“Kok tumben bilang Neng seksih. Hayoo… abis ngapain nih?”

“Itu lho, lagi heboh juga Anya Geraldine. Cantik, seksi lagi…”

“Abangggg…!”

Saking penasaran, Neng langsung ambil laptop. Meluncur sana-sini di dunia maya. Perasaan seumur-umur jarang banget dia bilang cantik, seksi, apalagi ke Neng. Padahal kurang cantik nan seksi apa coba? Kayak apa sih si Anya itu? *verifikasi umur

Ah, Neng nggak kalah-kalah amat kok, cuma kurang muda aja. Sama glamor. Misalnya, video Anya Geraldine lagi liburan ke Bali. Pacarnya dikasih hadiah ulang tahun seromantis dan sehedonis itu, padahal baru jadian seumur kangkung. Belum tentu naik ke pelaminan, apalagi nanti kalau honeymoon?

Tapi, kalau dipikir-pikir, kadang keterlaluan juga orang-orang yang mencerca Anya. Itu anak masih kuliah, tapi lumayan lah udah punya duit sendiri. Dulu, waktu kita seumur dia, masih minta sama orang tua. Memang nggak gampang jadi model dadakan. Kudu langsing, pose lekuk harus artistik. Kalau cuma modal cantik, Neng juga bisa jadi model profesional.

Jadi orang kayak Anya itu juga harus luwes, sanggup menjawab bully-an dengan senyum manis wajah inosen, kalau perlu nangis terngehek-ngehek. Ngerti fesyen dan cekatan dandan minimalis. Juga kuat megang tongsis sepanjang liburan, dari pantai, meja makan, sampai ke ranjang. Neng sih nggak sanggup dah.

Anya seharusnya belajar dari Kanjeng Dimas! Bukan, bukan masuk padepokannya. Seperti di atas tadi, Kanjeng Dimas nggak cocok memakai embel-embel ‘Taat Pribadi’, cocoknya buat Anya. Lengkapnya, Anya Geraldine ‘Taat Pribadi’. Namanya juga konten pribadi, cocoknya dikoleksi saja. Sama dengan mengoleksi JAV. Itu ngapain diputar di videotron jalan raya segala?

“Hahaha… Neng kalo begini makin seksi deh, cantik pula,” ujar Abang sambil tertawa, tapi mata mulai menatap nanar.

“Ah, Abang pasti ada maunya. Anya itu cantik banget ya, Bang? Mirip personel girlband Korea gitu kan?”

Yang ditanya malah tersenyum, memamerkan sebelah lesung pipi, lalu berbisik, “Kamu lebih cantik. Jauh lebih seksi. Seperti moto kontes, kamu punya beauty, brain, and behaviour.”

“Basi bang…”

“Beneran… Kalau mau mesra-mesraan berdua, nggak perlu bikin sirik sedunia. Kalau mau pamer, pamer prestasi. Tuh, kayak Nara Masista Rakhmatia, si diplomat muda itu. Cantik, tegas.”

Hmm… Ini si Abang dari tadi kok manas-manasin terus. Kurang panas apa, Neng? Eh? Tapi pantas lah dia suka Nara. Normal namanya. Cowok mana yang nggak kesemsem? Wajahnya asli Indonesia, kayak Dian Sastro. Identik dengan gaya polos sederhana, plus aura perempuan berkarakter kuat.

Nara adalah tipe istri ideal. Siapa lagi yang harus diandalkan jadi garda depan pembela kehormatan rumah tangga dan kebijakan luar negeri Indonesia? Nara juga terlihat cerdas, pasti paham semua persoalan dalam dan luar negeri, termasuk Papua.

Tapi, persoalan HAM di Papua lebih realtime reality. Layak dibela. Beda banget sama fenomena Kanjeng Dimas yang cenderung ‘augmented reality’ alias absurd. Tapi, mau bagaimana lagi, Nara tak berdaya. Sebagai diplomat berbendera Merah Putih, NKRI adalah harga mati! Bukan begitu?

Sama kayak Abang yang kadang nggak setuju dengan kebijakan atasan. Misalnya, strategi “mengamankan” para separatis yang sebetulnya saudara kita juga. Atau, menyita segala buku dan membubarkan segala diskusi yang bernafaskan “Marxisme”. Padahal, buku itu adalah salah satu kitab pegangan Bung Karno dan Bung Hatta dalam memperjuangkan kemerdekaan negara ini.

Si Abang langsung menoleh. “Kamu ini lama-lama kok pinter juga ya. Tampang sih manis inosen kayak Anya, tapi dalemnya garang kayak Nara. Dasar singa berbulu kelinci!”

“Jadi Neng lebih cantik daripada Anya dan Nara, kan?”

“Cantik. Kamu itu punya beauty, brain, and behavior kayak ratu sejagad.”

“Basi lagi alasannya, Bang.”

“Ya memang cuma itu alasannya. Nggak ada lagi. Tapi suka, kan?”

  • Wahaha menghibung bangat. Semua hal yang masih eksis sekarang dijadiin jadi satu cerita yang sangat apik menghibur, dan informatif. Saluuutttt 😀

    • Sisca Guzheng Harp

      Makasiiihhh… Konsep serian ini memang demikian: satir hot topics yang dibungkus kisah cinta manja Abang & Neng 😉

  • Neng sama Abang relationship goals nih hehehe…