Setelah Ahok Tak Ada Lagi

Setelah Ahok Tak Ada Lagi

Ilustrasi (maclean.com)

Seorang teman sempat mengirim pesan, benarkah Ahok kalah? Katanya, saya tahu ia cemas, retorika kebencian rasial dan tawaran untuk membuat Jakarta menjadi kota syariah membuatnya khawatir.

Ini bukan karena ia benci Islam, tidak sama sekali, ia hanya takut bahwa dengan propaganda semacam itu kekerasan terhadap minoritas akan semakin menguat.

Saya berusaha meyakinkan kepadanya bahwa Jakarta akan aman, siapapun Gubenurnya. Ia tahu saya juga cemas, tapi ia percaya, setidaknya untuk sementara. Tapi bisakah Jakarta aman?

Melihat gejala yang ada saya susah meyakinkan diri sendiri. Data yang ada menunjukkan saat kelompok kanan menang, maka kekerasan sektarian juga ikut meningkat.

Usai kemenangan Trump di Amerika gelombang kebencian terhadap kelompok minoritas muslim, hispanik, dan imigran semakin menjadi. Usai kemenangan Brexit di Inggris, gelombang kebencian serupa juga terjadi pada imigran Timur Tengah dan Eropa Timur. Di Jerman, kemunculan Patriotic Europeans Against the Islamisation of the West (Pegida) juga melahirkan serangan terhadap muslim dan imigran.

Masalah pengungsi di Eropa dijadikan alasan untuk melakukan penindasan dan diskriminasi terhadap para muslim di Eropa. Insiden pelecehan massal yang terjadi di Jerman semakin mendiskreditkan muslim sebagai individu dan Islam sebagai agama. Pegida menduga ada upaya sistematis, terukur, dan masif untuk mengislamkan Eropa. Berusaha mengganti nilai-nilai luhur kebudayaan Eropa dengan Islam.

Kelompok pembela HAM berusaha keras untuk mendidik publik bersikap adil. Mereka menyebut bahwa perkosaan, pelecehan seksual, atau bahkan tindak kriminal tidak eksklusif milik muslim. Yang bukan muslim juga ada.

Kelompok pembela HAM lain berusaha menjelaskan bahwa kriminalitas di komunitas muslim Eropa terjadi karena kesenjangan ekonomi, diskriminasi, dan juga akses layanan publik yang relatif susah didapat oleh pengungsi.

Gejala ini tidak hanya ada di Eropa tapi juga di Amerika. Pamela Geller terang-terangan menuduh ada upaya Islamisasi di Amerika. Bahwa Islam adalah ancaman bagi keluarga Amerika dan percaya ada donor yang digunakan untuk membuat Islam besar di Amerika.

Pikiran delusional ini makin besar, karena ia merasa banyak didukung. Kita tahu dia yang memantik acara Islamopobik di Amerika yang menyebabkan serangan bersenjata.

Apakah hal serupa akan terjadi di Indonesia?

Sesaat setelah kemenangan Anies, beberapa kicauan di linimasa saya tentang relasi minoritas dan mayoritas menarik perhatian. Misalnya seruan agar kelompok minoritas (Tionghoa) untuk tahu diri dan menghormati masyarakat muslim, sementara yang lain menganggap bahwa kalau minoritas cari masalah, maka jangan salahkan mayoritas jika ambil tindakan.

Tapi apakah tindakan satu orang merepresentasikan seluruh kelompok? Misalkan apakah yang mengatakan mayoritas tadi mewakili mayoritas sebenarnya? Juga apakah tindakan salah yang dilakukan seorang minoritas merepresentasikan seluruh kelompok masyarakat itu?

Generalisasi memang rumit, ia membunuh dialog dan menghentikan cara berpikir kritis.

Kawan saya itu merasa bahwa sebagai warga Indonesia umumnya dan Jakarta khususnya, ia dibayangi rasa takut dan selalu dalam keadaan waspada terus menerus. Apakah kerusuhan rasial akan terulang? Apakah ia harus mengungsi dan mencari suaka di luar negeri? Di jalan apakah ia akan mengalami diskriminasi rasial?

Privilege adalah satu hal yang membedakan karakter orang dalam merespon satu isu. Menyebut warga keturunan Tionghoa berlebihan dalam merespon pilkada Jakarta adalah salah satunya.

Isu kebencian terhadap Tionghoa ini bukan belakangan saja dihembuskan. Jauh sebelumnya isu ini digunakan untuk memelihara kebencian. Bahwa orang-orang Tionghoa dianggap sebagai pemilik uang dan aset terbesar di Indonesia, mereka disebut-sebut berencana melakukan hal buruk dan membuat keributan.

Di tengah retorika aseng, pribumi, dan bumiputra, identitas seseorang bisa jadi sangat penting. Kita bisa memilih agama yang kita mau, tapi tak bisa memilih identitas ras yang kita inginkan.

Bahwa orang-orang terkaya di Indonesia sebagaian berasal dari kalangan etnis Tionghoa tidak linier dengan mengatakan bahwa seluruh etnis ini punya kekuasaan dalam bidang ekonomi. Dalam sejarah kita tahu bahwa masyarakat Tionghoa di Indonesia merupakan salah satu kelompok paling rentan.

Mereka mengalami berkali-kali kekerasan, mulai dari diskriminasi rasial hingga pembantaian sipil. Kecurigaan sebagian masyarakat juga diperparah dengan sentimen ras terhadap etnis Tionghoa yang dianggap terlalu kaya, sementara para pribumi terlalu miskin.

Memotong Mata Rantai Kekerasan

Sampai hari ini, stereotype Tionghoa pasti kaya tetap dipelihara. Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan pernah menyebut, disparitas kemakmuran antara orang Islam dan non-Islam sangat jauh. Ia secara spesifik menyebut bahwa di Indonesia kebanyakan orang kaya adalah Tionghoa yang beragama Khonghucu atau Kristen.

Ucapan itu tentu tendensius dan berdasar prasangka rasial. Jika statemen itu dimodifikasi, maka pelaku kejahatan, korupsi, dan teror di Indonesia sebagian besar adalah umat Islam, ini berdasar rata-rata jumlah narapidana kejahatan tersebut.

Prasangka akan melahirkan kecurigaan dan kecurigaan akan membiakkan kebencian. Ini pernah terjadi pada mereka yang dituduh komunis. Label adalah reduksi dan penyeragaman tanpa sadar.

Sekali anda dituduh syiah, maka otomatis segala perkataan anda adalah dusta dan sedang taqiyah. Sekali anda disebut simpatisan ide khilafah, maka anda otomatis dituduh pendukung teroris dan tak berhak punya hak sipil. Sekali anda dilabeli sebagai liberal, maka anda pasti suka seks bebas, membenarkan semua agama, dan sebagainya dan sebagainya.

Stereotype dan propaganda adalah mesin keji yang membenarkan kebengisan. Misalnya, sebut saja buronan BLBI kebanyakan adalah orang Tionghoa, maka seluruh Tionghoa di Indonesia adalah pengemplang uang negara. Satu orang menghina pribumi, maka seluruh Tionghoa perlu bertanggung jawab.

Kita mungkin tak bisa mengubah hasil pilkada, tapi kita bisa membuktikan bahwa warga Jakarta (juga Indonesia) tak akan kalah dengan perilaku fasis dan intoleran.

Kepedulian adalah hal yang sangat kuat, kata-kata sederhana seperti “Kamu tidak sendiri” atau “Aku akan membela kamu” saat yang lain berteriak ganyang dan gantung, seperti oase teduh di tengah Jalan Fatmawati yang macet.

Kamu tak harus turun ke jalan atau protes untuk menunjukkan kepedulian, sesederhana menunjukkan empati bisa jadi hal yang penting bagi mereka yang membutuhkan.

Selalu ada pihak yang berkomentar miring, memaki, membenci, dan mencari ruang untuk kesalahan. Maka saat ini yang penting adalah menjaga akal sehat dan merawat kewaspadaan. Kita bisa berserikat, berjejaring, saling menjaga, mendukung, dan belajar untuk membela diri.

Kebencian memang tak bisa dilawan dengan kebencian, kebencian hanya bisa ditawarkan dengan pemahaman dan pendidikan. Sampai itu tiba yang perlu kita lakukan adalah menjaga diri sendiri dan orang yang kita sayang.

Komitmen menjaga pluralisme dan hak asasi manusia bisa dilakukan dengan mulai melawan perilaku rasis, fasis, dan intoleran. Kemenangan sesungguhnya adalah saat kamu berkuasa dan bisa menghukum orang yang kamu benci, tapi lebih memilih melakukan rekonsiliasi serta mewujudkan perdamaian. Klise? Jelas. Penting? Tentu saja.

Memaafkan adalah atribut pemenang, dendam hanya dimiliki oleh orang-orang kerdil. Ini berlaku pada siapapun.

Usai Ahok, yang bisa kita lakukan adalah menjamin bahwa gubernur baru setelahnya bisa melaksanakan janji selama kampanye, lebih dari itu, menjadi gubernur seluruh warga Jakarta bukan hanya satu golongan belaka.

Komitmen itu perlu diuji dan dijaga. Salah satunya menjamin hak dasar warga Jakarta melalui rasa aman, serta memberikan mereka kepastian bahwa – terlepas dari identitas ras yang dimiliki – mereka bisa tinggal dan hidup di kota ini tanpa rasa takut akan mengalami diskriminasi.

Retorika kebencian ras mesti diakhiri dan pekerjaan besar sudah menunggu…

  • cimpro dot

    ngak ada bagus2nya tulisan mu ini dan. Sudahlah, kamu ngetwit aja. itu sudah ok.