Serdadu Lunatik dan Pertempuran Hebat di Republik Twitter

Serdadu Lunatik dan Pertempuran Hebat di Republik Twitter

Media sosial terutama Twitter kini menjadi medan pertempuran opini. Hashtag war lebih dahsyat dibanding twit war. Sekalinya menjadi trending topic, maka efeknya langsung mendunia.

Hashtag war tergolong pertempuran berat, karena melibatkan banyak personel dan armada. Perlu beramai-ramai bikin tanda # plus kata-kata yang eye catching dan bikin gemes, langsung boom!

Apalagi, warga Republik Twitter Indonesia termasuk serdadu paling tangkas dan responsif. Kabar baik atau buruk bisa langsung dilesatkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

#JokowiNoHope sempat menjadi trending topic pada 29 September 2015. Siapa persisnya yang memulai? Entahlah… Siapapun komandannya, dia paham betul momen yang pas untuk memancing kehebohan dunia maya.

Menjelang senja, Paket Kebijakan Ekonomi Jilid II diumumkan oleh pemerintah. Persis pukul 16.00 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih melayang pada level Rp 14.691.

Warga Twitter yang paling responsif cenderung melihat ini sebagai korelasi menarik, meski mengabaikan waktu. Yang penting cepat saja dulu.

Presiden Jokowi akhirnya menjadi sasaran tembak. Sebagian warga kecewa, karena ekonomi belum membaik. Hashtag #JokowiNoHope adalah bentuk sindiran dari sampul depan majalah TIME edisi 27 Oktober 2014. Ketika itu tertulis ‘A New Hope, Indonesian President Joko Widodo is a force for democracy’.

Sehari setelah serbuan #JokowiNoHope, warga di dunia nyata ternyata tidak sepesimis dunia maya. Pada penutupan perdagangan sore hari, pasar saham dan rupiah justru kompak menguat.

Namun, pertempuran kembali berlanjut. Kali ini pakai amunisi baru dan lebih maju. Pada 1 Oktober diluncurkan #FarewellJokowiJK. Kubu pro pemerintah juga tidak mau kalah. Dilepaskannya rudal tandingan #SupportPresidenRI.

Dari hari ke hari, pertempuran ini semakin seru saja. Saya meyakini ada kekuatan alam yang ikut bermain di sini. Ini beneran lho, bukan mistik. Segala sesuatu yang terjadi di alam, efeknya bisa langsung dirasakan oleh manusia yang hidup di dunia.

Penampakan gerhana bulan merah darah (blood moon) pada 28 September 2015 sepertinya turut mewarnai pertempuran di Republik Twitter. Kemungkinan efeknya masih terasa sampai beberapa pekan ke depan. Sialnya, efek paling kuat ada di Indonesia.

Kabarnya, sesuatu yang berhubungan dengan fenomena bulan membuat perasaan seseorang menjadi lebih sensitif. Lunatik alias sikap berlebihan seakan menjadi virus yang mewabah di otak dan tangan para pengguna akun Twitter. Latah ikut-ikutan bikin hashtag, yang penting bisa eksis.

Bunuh Diri

Mengingat sesuatu yang lunatik, saya jadi ingat kumpulan cerpen karya penulis muda, Rio Johan. Sebanyak 12 cerpen tentang 12 manusia dibungkus dalam satu buku berjudul ‘Aksara Amananunna’.

Cerpen Rio Johan memiliki sisi liar dalam berimajinasi. Tapi, yang pernah baca, pasti tahu imajinasi yang gila itu masih berpijak pada suatu realita.

Pada awal buku ‘Aksara Amananunna’, pembaca sudah dibuat tergelitik dengan cerpen Undang-Undang Anti Bunuh Diri. Berkisah soal Perdana Menteri Negeri R pada zaman XXX yang kelimpungan menghadapi warganya yang hobi bunuh diri.

Dalam proses membuat Undang-Undang Anti Bunuh Diri, parlemen tidak benar-benar membantu Perdana Menteri Negeri R. Demonstrasi pun sulit dibendung. Harapan meyelamatkan negara seketika hilang.

Tren bunuh di Negeri R bukan lagi sekadar perkara depresi. Bunuh diri sudah berubah menjadi fenomena lunatik kolektif masa kini, yang daya tularnya ternyata lebih kilat dari dugaan.

Balik lagi ke warga Republik Twitter yang lunatik atau berlebihan itu, eh maksud saya unik. Pintu kebebasan berpendapat memang dibuka selebar-lebarnya. Tapi berlebihan dalam menanggapi realita bisa jadi sebuah tindakan bunuh diri, negeri sendiri…

Foto: goodwp.com