September, Kapan Ceria?

September, Kapan Ceria?

Ilustrasi (rantnow.com)

Mari kita mulai bahasan ini dari Crowley, setan yang merupakan salah satu tokoh dalam novel Good Omens karya kolaborasi Terry Pratchett dengan Neil Gaiman.

Sebagai setan yang sudah bertugas di bumi sejak Adam terusir dari surga, amat wajar bila Crowley pada akhirnya menjadi agak manusiawi. Ia, misalnya, menyenangi mobil Bentley, menggemari makanan enak di restoran terbaik, bermukim di apartemen di pusat London, dan tumbuh menjadi seorang pecinta tanaman hias.

Crowley memiliki beberapa koleksi tanaman hias di apartemen mewahnya. Uniknya, ia memiliki metode tersendiri dalam merawat tanaman, yang sudah pasti tak pernah dicoba oleh pecinta tanaman hias manapun.

Percaya bahwa mengajak berbicara tanaman mampu membuatnya tumbuh subur, Crowley amat sering berbincang dengan koleksi tanaman hiasnya, dan ia melakukannya dengan sangat baik. Misalnya, berhubung ia adalah setan, ia menanamkan rasa takut pada tanamannya dengan pelbagai ancaman verbal.

Dan bila itu dirasanya tak cukup, yaitu ketika tanamannya tetap ngeyel untuk tumbuh dengan tak semestinya, ia akan mengarak tanaman tersebut di depan tanaman lainnya.

Kemudian, ia berpesan agar mereka mengucapkan selamat tinggal kepada temannya yang tak beruntung itu, lalu pergi untuk kembali dengan pot kosong yang ia letakkan di tengah ruangan, semata agar tanaman lain mengerti bahwa itulah nasib yang mereka terima bila menentang Crowley.

Maka, tak heran bila koleksi tanaman hias Crowley adalah yang paling sehat, paling ciamik, paling subur, sekaligus yang paling ketakutan seantero Inggris.

Rasa takut merupakan emosi dasar tiap makhluk yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri atas ancaman atau rasa sakit. Bila alarm ketakutan menyala, maka pilihannya cuma ada dua: berlari menyelamatkan diri atau hadapi.

Dan pilihan yang pertama itulah yang seringnya dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menangguk keuntungan.

Contoh yang paling gampang didapati adalah penanaman rasa takut ke anak-anak agar menuruti perintah orang tua. Modusnya beragam, mulai dari penuturan tahayul, ancaman verbal, hingga kekerasan fisik.

Seorang anak yang enggan tidur siang, misalnya, bisa saja ditakut-takuti dengan cerita siluman penculik anak nakal yang beroperasi di siang bolong, sampai dimarahi dengan intonasi yang meledak-ledak.

Jika ketiban apes punya orang tua yang lebih terampil menggunakan tangan ketimbang mulut, bisa dijewer dan bahkan dipukul. Tak masalah si anak babak belur, yang penting ia mau merem.

Pada lingkup yang lebih luas, metode penanaman rasa takut untuk mencapai tujuan tertentu juga dipakai oleh instansi, organisasi, agama, termasuk negara. Yang terakhir disebut menyebabkan kegaduhan saban bulan September.

Sekitar setengah abad silam, tepatnya pada tahun 1965, Indonesia mengalami salah satu periode terkelam dalam sejarah.

Di Jakarta terjadi perebutan kekuasaan antar-elit, sementara di daerah lain rakyat saling membantai. Jutaan nyawa melayang, semua sendi kehidupan terjungkal, dan efek traumatiknya membekas hingga waktu yang tak mampu diperkirakan.

Tentu bukan kapasitas saya untuk menunjuk siapa yang benar dan siapa yang salah atas kejadian tersebut. Namun, tampaknya menarik bila saya mengajak anda melihat bagaimana negara memanfaatkan tragedi tersebut untuk mempertahankan eksistensinya.

Semua bermula dari era Orde Babe. Setelah menumbangkan rezim sebelumnya dan memastikan bahwa semua musuh politiknya dicukur habis, Orde Babe mulai bekerja besar-besaran membangun negeri.

Misalnya, melakukan restrukturisasi di segala bidang, membuka pintu lebar-lebar untuk investasi asing, dan mengupayakan stabilitas politik dan keamanan. Stabilitas itu diupayakan dengan cara-cara yang membuat orang-orang bergidik.

Setelah mengisi parlemen dengan orang-orang yang kelak pasti memilihnya, serta menambah wewenang tentara untuk mengurusi ranah sipil, Orde Babe mulai menanamkan rasa takut, yang akhirnya berkembang menjadi fobia massal, terhadap komunisme.

Seperti orang tua yang kerap menggampar anaknya agar rajin belajar, begitulah metode yang dipilih oleh Orde Babe. Komunisme dan paham kiri lainnya tak hanya distigma buruk, melainkan juga direpresi dengan kekerasan.

Hingga pertengahan dekade 70-an, masih terdapat laporan mengenai pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh komunis. Mereka yang terlahir dari keluarga yang ‘tak suci hama’, dikunci nasibnya sehingga kesulitan mencari penghidupan.

Dan, janganlah membayangkan menggelar diskusi tentang paham kiri; memakai kolor bermotif palu arit saja sudah cukup mengantarkan seseorang ke Pulau Buru.

Dengan represi masif model begitu, sudah barang tentu rakyat Indonesia menjadi ketakutan. Paham kiri kemudian pelan-pelan dianggap biadab. Fobia kiri merajalela. Dan, Orde Babe memanfaatkan ketakutan tersebut untuk melanggengkan kekuasaan.

Sembilan belas tahun sudah Orde Babe tumbang. Kebebasan dalam pelbagai bidang telah kita raih. Kini rakyat bisa mengkritik seorang jenderal, dan jenderal bisa mengkritik presiden, tanpa takut menghabiskan masa tua di penjara.

Namun, ketakutan terhadap komunisme dan paham kiri lainnya tak kunjung hilang. Hal itu memunculkan pertanyaan: tak bisakah ketakutan kolektif disembuhkan?

Tentu saja bisa. Ketakutan, bagaimanapun, bakal surut bila dihadapi. Membangkitkan kesadaran kritis melalui pendidikan yang transformatif merupakan salah satu cara yang bisa digunakan.

Melalui pendidikan tersebut, kata sosiolog pendidikan Deb J. Hill, kita bisa memeriksa cara-cara di mana pemahaman kognitif kita selama ini dibatasi dan dikebiri, serta kepedulian sosial dan etika dilemahkan secara bersamaan.

Dengan begitu, kita memahami apa-apa yang merepresi kita, sehingga tahu apa saja yang harus diperbuat untuk terlepas darinya.

Namun, meski Orde Babe sudah lama tamat, mengapa rezim-rezim yang menggantikannya seolah enggan menghilangkan ketakutan kolektif kronis tersebut?

Dalam Living in a State of Fear, Linda Green menjelaskan bagaimana rasa takut adalah motor yang efektif (dan afektif) bagi negara-negara yang menindas, dan bagaimana pembungkaman menjadi mekanisme kontrol yang kuat yang ditegakkan melalui ketakutan.

Ketakutan traumatis terhadap komunisme yang ditanamkan Orde Babe sudah menjadi common sense pada mayoritas rakyat. Jika sudah dianggap begitu, jangankan mengobati traumanya, sebagian besar orang bahkan tak merasa dirinya sedang mengidap trauma.

Hal ini diungkapkan dengan baik oleh Andre Vltchek dalam bukunya yang berjudul “Indonesia: Archipelago of Fear”. Rakyat Indonesia, terang Vltchek, sangat disiplin dalam ‘tidak memahami’.

Meskipun informasi tersedia secara online dan dalam buku yang baru diterbitkan, sebagian besar memilih untuk tidak mengetahuinya, tidak mencari dan tidak mempertanyakannya.

Berhubung tidak ada ketakutan kolektif yang semasif dan sedestruktif ketakutan terhadap komunisme, maka negara hingga hari ini masih merasa tak perlu menghapuskannya.

Bagaimanapun, negara membutuhkan ketakutan untuk mengontrol atau sekurang-kurangnya membuat keberadaannya dibutuhkan oleh rakyat sebagai tempat berlindung.

Jadi, tak usah heran bila negara mengizinkan edo-tensei terhadap film propaganda, yang sebenarnya sudah masuk peti sejak era reformasi bermula.

Penggunaan jutsu terlarang itu mengindikasikan satu hal: negara berusaha memperbaiki kontrol atas rakyat yang dirasanya mulai renggang akhir-akhir ini. Dengan dibangkitkannya film tersebut, ketakutan yang mulai berguguran diharapkan bersemi kembali.

Tentu tak usah belingsatan pula, bila tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, kita masih mendapati kebisingan di segala media saban bulan September. Segala keributan itu, sekarang anda tahu, adalah acara rutin untuk mempertahankan eksistensi.

Namun, jika anda mulai bosan dan muak dengan rutinitas di bulan September, dan mulai bertanya-tanya kapankah bulan September bisa dijalani dengan keceriaan, maka jawabannya sudah jelas.

Jawabannya, hingga menemukan ‘hantu’ berikutnya yang lebih menakutkan dari komunisme. Itu artinya, kira-kira, hingga waktu yang tak terbayangkan.