Sepak Bola, Obat Kuat, dan Alat Getar yang Menyenangkan

Sepak Bola, Obat Kuat, dan Alat Getar yang Menyenangkan

allwidewallpapers.com (marco civardi)

Akhir-akhir ini, kita disibukkan dengan berbagai perkara, gejala, dan fenomena yang jadi viral di ruang maya ataupun jadi sekadar teman vokal di kedai kopi biasa. Ihwal-ihwalnya berbanjar. Mulai dari mahligai ruang politik yang bikin berisik, hiruk-pikuk dunia hiburan, hingga cericip lapangan hijau yang tak jarang mengharu-biru.

Sebagai contoh, mulai dari polemik reklamasi Teluk Jakarta, skandal ‘The Panama Papers’, pakaian kegenitan Wakil Walikota Palu Sigit Purnomo alias Pasha Ungu, perihal ukuran BH, hingga euforia dahsyat penggila bola musim ini karena berbagai kejutan dan prestasi tak terpermanai dari tim kesayangan mereka.

Ada yang senang dan tertawa bahagia, karena klubnya berhasil mendapatkan pencapaian prestasi tertentu. Adapula yang sampai nangis-nangis, menyusul mandeknya performa tim, meskipun itu sebenarnya lebih karena kalah taruhan. Dasar fans abal-abal. Taruhan rokok sebungkus saja bikin drama segala.

Kali ini, pembicaraan kita masih seputar sepak bola. Ya, biar pikiran lebih fresh dari kerasnya hidup yang fana ini. Biar amunisi otak kita tetap sehat dan terawat dalam mengamati urusan-urusan politik para elit. Jangan sampai ikut nimbrung tanpa tahu substansi, lalu bingung ketika digugat balik. Sebaiknya seperti mbak Dian ‘Cinta’ Sastro, si anak filsafat yang suka bertanya-tanya itu. Setiap hal yang ia lakoni selalu diwarnai dengan pertanyaan. Ada ini, ada itu? Rangga, kenapa kamu? Apakah ibu-ibu itu…..? dan seterusnya. Abaikan beliau, mari tetap fokus pada sepak bola.

Dunia sepak bola musim ini sedang tersengat sindrom random. Random di sini bukan berarti ngawur, tidak jelas, atau sembarangan, tetapi lebih merupakan sifat yang tak terduga, tak disangka-sangka. Selalu menyajikan parade kejutan, bahkan sulit diterima akal sehat. Itupun kalau kita masih waras.

Kita lihat bahwa hasil-hasil pertandingan begitu sulit diprediksi, meskipun telah dianalisis secanggih mungkin ataupun dengan menggunakan ilmu nujum level 12. Kadangkala sebuah tim melaju cepat tak terbendung. Kadangkala ia tergelincir dan jatuh, lalu bangun lagi, tapi jatuh lagi, bangun lagi, jatuh lagi.

Ada tim yang tampil bak David dalam cerita kitab suci yang secara mengejutkan menumbangkan tim-tim Goliat. Ada juga yang dianalogikan seperti kisah ‘The Myth of Sisyphus’. Terjungkal terus sejak awal musim dengan batu-batu pemain bintangnya. Silakan sebut dalam hati, kalau tidak mau di-bully.

Kita ingat kekalahan Barcelona dari Atletico Madrid dalam tajuk Liga Champions Eropa. Kemudian, Barcelona tumbang lagi di kandang sendiri oleh Valencia dalam lanjutan La Liga. Kita juga tidak lupa lolosnya Manchester City untuk pertama kali ke semifinal Champions League. Juga kemenangan dramatis Liverpool atas Borussia Dortmund dalam Europa League. Ini semakin menegaskan apa yang saya sebut sebagai random syndrom.

Dramaturgi Arsene Wenger yang masih tetap “dipertuanagungkan” dari musim ke musim dengan prestasi Arsenal yang tak seberapalah itu, ataupun raja argumentasi Liga Inggris musim ini bernama Louis van Gaal, yang belakangan ini mulai menunjukkan taji kepelatihannya, juga merupakan bagian dari sindrom random tersebut.

Pada lain hal, jangan lupa sosok magis Claudio Ranieri yang mampu menyulap tim medioker Leicester City duduk di puncak klasemen Liga Inggris. Kita bisa lihat bagaimana Leicester City mendapatkan hasil seri lewat pinalti melawan West Ham United pada injury time. Sungguh sebuah hasil yang begitu signifikan. Dan, ‘The Foxes’ digadang-gadang bakalan juara musim ini. Untuk para fans Leicester dadakan, mohon jangan mencibir tim lain, terutama Manchester United, Liverpool, atau Arsenal.

Naik daunnya Leicester, kekalahan Barca, lolosnya ‘The Citizens’, dan Liverpool yang selalu dramatis tak kunjung habis, serta inkonsistensinya Arsenal ataupun MU, sebenarnya menunjukkan suatu hal. Bahwasanya sepak bola itu seperti vibrator alias alat getar. Vibrator yang memberikan kenikmatan bagi setiap penggunanya. Tapi, kenikmatan itu sebenarnya sangatlah subyektif, tergantung daya tahan masing-masing orang.

Vibrator secara sederhana dilihat sebagai alat untuk menimbulkan getaran, lalu memberikan pijatan pada tubuh. Esensinya ialah menyuguhkan kenyamanan dan kenikmatan. Dengan demikian, sepak bola sejatinya menghadirkan kepuasan batin termaknyus untuk setiap penonton. Barangkali analogi abal-abalnya seperti itu. #FootballForHappiness

Namun, sepak bola sebagai seni berkeindahan itu tak jarang menimbulkan kekecewaan. Misalnya sebuah tim bermain cantik nan ciamik dengan peragaan bola dari kaki ke kaki, tetapi harus kalah dengan skor memalukan. Di sini, tentu ada banyak yang mencemooh, menghina, bahkan memaki-maki. Kadang tim lawan ataupun wasit ditumbalkan sebagai kambing hitam. Kadang pula tim sendiri dicerocor dengan kata-kata yang bikin pening kepala. Pokoknya ekspresi masing-masing penggila bola itu menjadi tak keruan.

Kecintaan terhadap suatu klub bola semestinya memperhatikan daya tahan tersebut. Tahan banting maksudnya. Sama seperti menyatakan dukungan kepada Ahok, Yusril, ataupun Sandiaga Uno dalam Pilgub DKI Jakarta. Pastinya dengan sederet gagasan yang indah permai, terlepas dari kata-kata Ahok yang setajam cutter ataupun Yusril itu seorang Mickey Loverz, juga Sandiaga yang disebut-sebut si ‘Panama Papers’. Dan, saya hanyalah seorang tukang nyinyir mediokerz. Harap anda jangan jadi haters. Bisa gawat brothers and sisters

Namun, yang sangat disayangkan ialah kecintaan seseorang terhadap tim atau figur tertentu menjurus kepada fanatisme sempit. Fanatisme sempit inilah yang akan menguji daya tahan atau kekuatan anda dalam analogi sepak bola pada risalah ini. Bisa tidak kita tahan banting dan tetap kuat bila tim kesayangan kalah? Kalau tidak, saya sarankan anda segera beli obat kuat. Anda bisa beli di pinggir jalan atau situs belanja online yang sedang kasih diskon di luar kewarasan.

Siapa tahu, para fans yang klubnya kedodoran musim ini bisa berpikir jernih untuk menerima kemalangan nasib. Misalnya, penggemar Chelsea sudah siap batin, bila timnya kelak tidak bermain di Liga Champions musim depan, sembari menaruh harapan besar pada calon manajer baru, Antonio Conte. Begitu juga fans Arsenal ataupun Manchester United yang barangkali siap membuat petisi pemecatan pelatih tua mereka.

Balik lagi soal daya tahan dan vibrator. Apabila daya tahan untuk digumuli vibrator bola itu kuat, masing-masing orang tentu bisa menerima kegagalan. Toh, suatu saat orgasme kesenangan akan tiba pada waktunya. Sama seperti Leicester City, yang sebelumnya selalu jadi pesakitan di Liga Inggris, kini akan naik ke tangga juara. Juga Manchester City, yang beberapa musim belakangan selalu jadi spesialis perempat final Liga Champions, sekarang sudah merangkak lebih jauh. Mereka menikmatinya bukan?

Di sini, daya tahan menjadi penting. Ini demi membendung risiko-risiko dari fanatisme sempit termaktub. Fanatisme sempit didapuk sebagai kecintaan berlebihan terhadap suatu klub hingga meremehkan yang lainnya. Bahkan, melihat yang lain sebagai musuh dan lawan dengan pelbagai ujaran kebencian yang menistakan.

Kalau dalam persepakbolaan Indonesia, hal itu bukan barang baru. Kerusuhan antar suporter seringkali terjadi dan menyayat hati. Mungkin sepak bola kita, yang baru-baru ini mendapat bahasan serius oleh sang Presiden bersama para pemilik klub dan pengurus PSSI provinsi, butuh lebih banyak tim-tim bentukan TNI dan Polri. Biar aman, minim konflik. Dengan begitu, tesis “sepak bola sebagai bahasa perdamaian” ujaran legenda Brasil, Pele, menemukan kesahihannya.

Namun, jika sepak bola dikatakan sebagai miniatur kehidupan, fanatisme sempit sesungguhnya banyak ditemukan dalam realitas itu sendiri. Fundamentalisme agama, absolutisme ideologi kelompok, dan persekongkolan garis keras merupakan segelintir bentuk fanatisme sempit dalam tata panggung kehidupan.

Sampai pada titik ini, daya tahan itu sendiri merujuk pada apa? Dia sebenarnya adalah kebijaksanaan pikiran manusia. Pikiran yang sehat, cerdas, dan kritis. Itulah obat kuat untuk kaum fanatisme sempit. Daya tahan abal-abal berarti pikiran anda kurang sehat. Misalnya dalam sepak bola, ketika tim yang dikagumi tergelincir jatuh, anda lantas menjelma seperti badut kesetanan. Nyinyir dan benci sana-sini.

Terus yang dibutuhkan apa? Ya, anda masih butuh obat kuat agar daya tahan anda bisa prima. Daya tahan yang kuat itu merujuk pada ketetapan hidup dalam prinsip dan pilihan tanpa menghakimi pihak lain sebagai kambing hitam. Yang utama ialah refleksi dan instropeksi diri dulu. Mengapa gagal? Mengapa menyukai Dian ‘Cinta’ Sastro dengan cara saksama dan dalam tempo empat belas tahun penantian AADC2?

Jadi, kalau kita menyukai ataupun mengagumi sosok Ahok, menyembah tim berkelas seperti Barcelona, atau mengagungkan ideologi hidup tertentu, haruslah disertai dengan suatu komitmen dan konsistensi yang sehat. Jangan sampai anda terlalu menikmati vibrator-vibrator yang diagung-agungkan sampai lupa diri keenakan.

Lantas, ketika vibrator-vibrator itu tidak memberikan efek kenikmatan seperti yang diharapkan, anda bingung harus ke mana mencari pelampiasan. Lalu, orang lain jadi korban. Sebaiknya kita punya daya tahan yang perkasa. Itu saja, selanjutnya terserah. Saya pasrah…