Semua Karena Cinta, Dek… (Ketika Orang Kampung Berpikir Metro)

Semua Karena Cinta, Dek… (Ketika Orang Kampung Berpikir Metro)

houseideasdsgn.webcam

Agak lebay juga saat saya baca artikel dek Ariesadhar di voxpop berjudul Bukan Warga Jakarta Kok Berisik?. Alih-alih mendamaikan suasana, menurut saya pernyataannya itu malah bikin suasana tambah berisik. Kalau baca judul dan isinya provokatif banget. Ini jelas nyinyiran jelang Pilkada DKI Jakarta pada 2017.

Terus terang saya tersindir, mengingat belakangan ini saya jadi agak cerewet soal Pilkada Jakarta. Saya memang bukan warga Jakarta. Secara administratif pun saya tidak pernah tercatat sebagai warga di sana. KTP saya aseli Garut, Jawa Barat.

Tapi saya pernah tinggal dan bekerja di Jakarta. Biasa lah, kaum urban. Sama halnya dengan jutaan orang lain yang tiap hari hilir mudik mencari nafkah di ibukota kita tercinta itu. Bikin macet? Tentu saja. Salah saya? Salah teman-teman saya?

Jakarta memang selalu memiliki magnitude yang kuat bagi orang kampung macam saya. Daya tariknya kenceng, meski di kampung sangat tenang, sejuk, dan nggak seberisik, sepanas, dan semuacet Jakarta. Tapi ya itu tadi, Jakarta selalu menarik perhatian banyak orang. Desa mengepung kota.

Dulu, pak Jokowi datang jauh-jauh dari Solo ke Jakarta bukan untuk berjualan mebel atau bakso. Tapi untuk bekerja jadi gubernur, pelayan rakyat Jakarta. Masa sih? Entah setelah itu beliau jadi presiden, pastinya tetap mangkal di Jakarta. Bukan di Garut, meski kita tahu Garut itu ‘Swiss van Java’.

Saya pun pernah tinggal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Tepatnya Tebet Utara. Nggak jauh-jauh dari Boarding House 15 C di Jalan Tebet Utara I, yang sekarang sudah dibongkar. Itu lho, kos-kosannya Deudeuh Alfi Sahrin alias Tata Chubby. #Ehm

Daerah itu sebetulnya nggak terlalu hot panas. Tapi, kalau dibandingkan kampung saya, ya tetep lebih panas. Agak lama juga saya tinggal di Jakarta. Kalau nggak salah, saat itu Jakarta tengah berada dalam masa transisi kepemimpinan dari Bang Yos ke Bang Foke.

Waktu itu, saya sempat tidak terlalu peduli siapa gubernur Jakarta. Bagi saya nggak penting juga, ada atau tidak ada gubernur. Jakarta tetap macet, bising, dan polusi. Waktu itu, birokrasi di Jakarta juga rumit sekali. Sangat kompleks dan mahal. Itu yang membuat saya mengurungkan niat untuk bikin KTP Jakarta.

Saya sempat heran Jakarta kok seperti ini? Sungguh benar pepatah bilang, ibukota lebih kejam dari ibu tiri. Benar-benar saat itu saya rasakan sendiri. Belum lagi banjir yang selalu jadi pelanggan tetap. Kalau pelanggan bawa duit sih cihuy, tapi kalau ini malah tekor.

Saya berada di Jakarta saat banjir besar pada 2007. Setidaknya berdasarkan data resmi Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), kerugian akibat banjir saat itu mencapai Rp 5,16 triliun. Uang yang besar kan? Seharusnya bisa dipakai untuk bangun waduk, kanal-kanal, termasuk bersihin gorong-gorong yang banyak kulit kabelnya.

Selain kerugian materi, banjir ketika itu juga menelan korban jiwa. Sekitar 45 orang tewas dan ribuan orang lainnya mengungsi. Saya pun melihat dengan mata telanjang bulet, betapa lambannya penanganan banjir.

Sistem peringatan dini tidak ada, evakuasi korban betul-betul tidak terkoordinasi dengan baik, dan sebagainya. Bahkan ada banyak orang yang baru bisa dievakuasi, setelah berhari-hari terjebak di loteng rumah dengan hanya mengandalkan persediaan makanan yang minimalis.

Lalu, orang-orang seantero Jakarta dan bahkan negeri ini ramai bersuara. Entah itu di televisi, koran, radio, atau warung kopi. Mereka dan juga saya sibuk bertanya-tanya, “Ini gubernurnya ke mana sih?” Sementara pak gubernur waktu itu tetap berkesimpulan, banjir parah terjadi akibat siklus banjir 5 tahunan. Banjir kok musiman?

Itu salah satu pengalaman buruk saya di Jakarta. Ketika itu, saya sebetulnya sudah ingin segera minggat dari Jakarta. Tapi demi tetap mengepulnya periuk nasi di kampung, niat itu kemudian saya urungkan. Mau makan apa anak istri saya kalau saya berhenti bekerja? Dan, sialnya itu di Jakarta. Setiap saat, saya mengutuk. Ini gubernurnya mana? Terus saja seperti itu.

Sekarang saya sudah tidak lagi tinggal di Jakarta. Sudah pulang kampung. Syukurlah doa saya terkabul. Saya bekerja di kota yang tidak terlalu jauh dengan kampung halaman. Tapi, setelah sekian lama saya tinggalkan Jakarta, entah kenapa setiap mendengar namanya disebut (media massa), hati ini berdegup kencang. Nafas pun tersengal-sengal. Ini apa sih?

Ya, mungkin saya korban pemberitaan media atau bisa juga korban ‘kekejaman’ Jakarta dan birokrasinya dahulu kala. Entahlah. Yang pasti, saya begitu lebaynya sekarang, dengan sok-sok perhatian gitu sama Jakarta. Merasa baper, jika dengar kata banjir, panas, macet, dan kawan-kawannya.

Apakah ini yang disebut benci-benci tapi cinta? Halah… Yang pasti, dari dulu, saya selalu berpikir bahwa Jakarta itu miniatur Indonesia. Jakarta adalah ibukota negara kita. Jakarta itu jendelanya Indonesia. Terlebih, Jakarta itu tempat di mana banyak orang menggantungkan hidupnya. Salah sendiri kenapa perputaran uang hanya terfokus di Jakarta? Kenapa tidak di Garut?

Jadi wajar, jika semua perhatian banyak tercurah padanya. Apalagi menjelang Pilkada DKI saat ini. Pasti panas dan berisik. Lagipula, kita semua kan bertetangga dalam satu kompleks perumahan yang bernama Indonesia. Warga Jakarta juga pernah berisik mengomentari Aceng Fikri, bupati Garut ketika itu.

Seluruh bangsa ini ingin melihat ibukotanya dipimpin oleh gubernur yang betul-betul mau bekerja untuk kepentingan warga dan kemajuan kota. Entah itu yang kafir, muslim, musisi, pengusaha tajir, ataupun yang emas-emas itu.

Kami titipkan Jakarta pada kalian, wahai warga yang punya hak untuk memilih. Ya termasuk kamu dan warga (urban) lainnya yang sukses ber-KTP Jakarta. Sudah cukup beban berat yang harus ditanggung ibukota saat ini. Jangan lagi menambah berat bebannya dengan kesalahan memilih pemimpin.

Demikian pesan kami, dek Ariesadhar. Kami tidak lupa urusan daerah masing-masing kok. Jadi, maklumi saja kami yang orang kampung tapi berpikir metro ini. Semua ini memang karena cinta, dek… Karena cint… Jritt stoppp dah ah! Makin lama makin baper aja gue…