Semua akan Jadi Penjajah di Jalan pada Waktunya

Semua akan Jadi Penjajah di Jalan pada Waktunya

Ilustrasi (voaindonesia.com)

Pejalan kaki di Jakarta sekarang ini ibarat makhluk langka. Bagaimana tidak, untuk jarak dekat saja, orang lebih suka naik motor dan mobil. Apalagi saat ini marak ojek online dengan ongkos murah, nggak update banget kalau masih jalan kaki.

Tapi giliran harga BBM naik, mengeluh. Giliran turun, dibilang kurang banyak. Kalau kena macet di jalan, bawaannya senewen. Susah memang kalau baru naik jadi kelas menengah.

Biasanya kalau jam-jam kantor, pengendara sepeda motor hobi banget nyerobot trotoar. Supaya lancar katanya, kan di jalan raya macet. Lho, bagaimana dengan hak pejalan kaki? Syedih…

Lantas apa mental penjajah di jalan itu sudah tak bisa diperangi? Mengapa saya sebut penjajah, karena mereka sudah merampas hak orang lain, hak pejalan kaki. Teriak-teriak anti-penjajahan tapi teriaknya sambil naik motor di trotoar, gitu ya?

Maka, tak heran, segelintir orang memilih cara ekstrem untuk memerangi mental penjajah di jalan itu, dengan berkampanye soal penggunaan trotoar yang baik dan benar sesuai ejaan yang disempurnakan.

Mereka, Koalisi Pejalan Kaki atau KoPK, rela tiduran di trotoar untuk menghadang pengendara motor yang nyerobot hak pejalan kaki. Aksi mereka tentu berisiko, karena tidak menggunakan pemeran pengganti atau stuntman!

Bukan cuma berisiko, tapi juga harus tahan malu, karena diteriakin orang kurang kerjaan, stres, sampai dikatain orang gila. Bahkan Alfred Sitorus, ketua Koalisi Pejalan Kaki, pernah ditodong pisau saat beraksi.

Waktu itu tahun 2012. Kejadiannya di depan kantor Kementerian Hukum dan HAM di Kuningan, Jakarta Selatan. Alfred hanya tanya ke juru parkir, “Siapa yang kasih izin parkir di sini?” Juru parkir itu malah mengancam dan menodong Alfred pakai pisau.

Tapi sadar atau tidak, pejalan kaki juga sering melakukan kesalahan. Seperti berjalan di bahu jalan, meskipun trotoar kosong. Yang lebih ekstrem, tentu saja menyeberang tanpa melalui zebra cross dan jembatan penyeberangan.

Jika berjalan di bahu jalan dan diklakson mobil, bawaannya langsung emosi. Mentang-mentang merasa sebagai makhluk yang tidak berdaya dan tak pernah salah di jalan.

Sama seperti haters Jokowi, bawaannya selalu harus pemerintah yang salah. Ketika pemerintah melakukan sesuatu yang positif, harus cari argumentasi lain yang membuktikan bahwa itu bukan hasil pemerintah.

Saat rupiah melemah terhadap dolar AS, semua haters membuli pemerintah habis-habisan. Saat rupiah menguat, bukan pemerintah yang membuat itu terjadi, tapi kondisi ekonomi global.

Saya salut kepada Alfred. Banyak masyarakat yang mengeluh soal hak pejalan kaki yang dirampas di trotoar, tapi tidak banyak yang melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan. Bukannya Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya?

Insyaf lah wahai penyerobot trotoar… Bagaimana kalau pacar atau pasangan Anda diserobot orang? Sakit kan? Apapun nantinya bisa bawa-bawa perasaan alias baper.

Kalau kata guru spiritual saya, setidaknya ada lima pantangan yang kalau dilanggar bisa dikutuk sama orang. Nyerobot rezeki orang, nyerobot lampu lalu lintas, nyerobot trotoar, nyerobot antrean, dan nyerobot pacar orang!

Masih hobi nyerobot trotoar? Siap-siap saja pacar Anda diserobot! Sakitnya dimana? Di trotoar, cuy…