Yang Menyenangkan dan Menyebalkan dari Para Selebgram

Yang Menyenangkan dan Menyebalkan dari Para Selebgram

thegudanginfo.blogspot.com

Ada selebtwit, ada juga selebgram. Kalau selebgram itu selebriti instagram. Mereka belum tentu artis, tapi beruntung menjadi terkenal, lantaran eksis di kutub medsos bernama instagram. Tapi ada juga yang sengaja mendulang kepopuleran untuk tujuan tertentu.

Fenomena selebgram di Indonesia lagi jadi tren yang membetot perhatian. Sebab, kehadirannya menimbulkan efek yang begitu dahsyat. Untuk menjadi selebgram dibutuhkan perjuangan, trik, maupun strategi. Walau ada juga satu dua yang lagi hoki. Baru bikin akun langsung heboh terus dapet follower yang banyak.

Awalnya khitah dari instagram adalah wadah untuk mengabadikan setiap momen berupa foto untuk disimpan atau dibagikan kepada sesama pengguna instagram. Namun, lambat laun, kegunaannya mulai aneh-aneh. Mulai dari wadah untuk mengkampanyekan aneka kegiatan dengan pendekatan foto berbasis informasi, atau foto dalam artian desain. Instagram juga dimanfaatkan untuk ‘mencari rezeki’ dengan menerima endorse ataupun berbisnis dengan membuka lapak jualan, atau bahasa kekiniannya online shop.

Keragaman manfaat dari instagram adalah keniscayaan yang patut disyukuri, meski banyak pula dampak negatif yang ditimbulkan. Namun, dari sekian banyak dinamika di jagat instagram, selebgram adalah makhluk yang amat mencolok.

Bagaimana tidak, orang biasa-biasa saja yang tidak berprofesi sebagai artis bisa terkenal hanya lantaran instagram. Kasus yang paling jamak muncul ialah mbak-mbak cantik. Mereka bakal sangat gampang terkenal. Situ cantik?

Coba tengok, betapa ranum kedua katup bibirnya yang simetris, alisnya yang distel rapi melalui ritual ngalis-time, belum lagi tatapannya yang bikin dada para stalker sesak gak karuan. Bikin meleleh hati abang-abang yang suka kepo stalking. Para haters juga dibuat tidak berdaya, lantaran rasa iri yang terbilang akut.

Suka atau tidak suka, semua itu menjadi semacam mustika pemikat bagi mbak-mbak selebgram untuk eksis habis-habisan. Sekarang tak hanya mbak-mbak, adek-adek sampai hot mom juga mendapatkan tempatnya masing-masing untuk digandrungi. Segmennya pun variatif. Kalau yang cantik ada macam-macamnya, mulai dari cantik saja, modis, superseksi, unik, atau agamis nan anggun – biasanya hijaber.

Apakah selebgram hanya untuk perempuan saja? Tentu tidak. Laki-laki pun sama, mendapatkan tempat yang sama di bawah bendera instagram. Pedekatannya juga variatif, mulai dari pamer ketampanan, macho, keren, tajir (sering upload barang mewah), unik, inspiratif, nakal, ataupun anak sholeh.

Perempuan atau lelaki sama-sama memiliki peluang untuk menjadi selebgram, tergantung mau atau tidak, serta faktor hoki juga memiliki andil. Akan tetapi, wanita lebih banyak dan sedikit lebih cepat berhasil menjadi selebgram.

Di negeri para narsis ini, menjadi selebgram adalah kebanggaan. Selain dikenal banyak orang, juga dapat menambah pundi-pundi rupiah. Dengan menerima endorse dari pihak pemesan. Harganya variatif, tergantung deal.

Sebagai contoh, Ria Ricis dengan akun ig @riaricis1795. Jumlah follower-nya mencapai 3,9 juta. Bahkan follower-nya mengalahkan Dian Sastro, bintang film AADC yang sampai sekarang masih saja menjadi fantasi cowok-cowok. Follower mbak Dian hanya sebanyak 3,2 juta.

Berawal dari selebgram lah kemudian Ria Ricis dikenal dan mulai mengepakkan sayapnya di jagad industri seni dengan menjadi artis, serta memandu salah satu acara “Gen Why” di salah satu stasiun TV swasta. Ria Ricis adalah bukti bahwa dengan menjadi selebriti instagram membuka peluang untuk menjadi selebriti sungguhan.

Instagram dengan fenomena selebgram di dalamnya memberikan corak warna-warni yang terus saja bisa diulas. Pada hakikatnya, sudah menjadi fitrah manusia memiliki sifat ataupun sikap narsis menurut kadar masing-masing, dan instagram memberikan ruang untuk mengekspresikan narsisme.

Namun, ada baiknya instagram menjadi tempat untuk menjinakkan narsisme kita-kita ini yang kadang terbilang kelewatan. Modernisme dengan segala keglamorannya acapkali menggiring siapa saja untuk gagah-gagahan dengan sindrom pamer yang keterlaluan.

Hal ini terjadi di instagram yang kerap kali kita lakukan, tetapi seolah-olah pura-pura tak tahu. Memang, tidak ada sebuah batasan tertentu untuk dapat mengukur kadar narsis dan pamer yang baik itu bagaimana. Tetapi, selaku manusia yang berakal, rasa-rasanya kita paham sejauh mana batasan itu baik untuk dipenuhi.

Jangan sampai instagram menjadi tempat bagi kita untuk beronani kepameran atau narsisme sampai titik klimaks. Karena pada akhirnya hanya akan melunturkan citra seorang selebgram ataupun dapat menghilangkan esensi berinstagram itu sendiri.

Menjinakkan ego dan narsisme patut dilakukan sebagai manifestasi pemberdayaan diri sendiri. Perkara yang paling lazim terjadi ialah betapa gengsinya seorang selebgram ataupun pengguna instagram untuk mem-follow back seseorang.

Memang, suka-suka si pengguna lah mau follback atau tidak. Tapi persoalannya adalah kadang obsesi untuk memdapatkan follower dengan jumlah banyak dan demi pengakuan telah melukai hati orang lain yang boleh jadi menyukai galeri kita atau menjadi fans.

Kenapa begitu naif, apakah dengan mem-follback orang lain takut dibilang tidak keren sekali? Apakah akan mengganggu pencitraan? Sudah di-follow, tapi tidak mau follback. Eh, giliran ikut kontes entah itu kecantikan, duta-dutaan, atau apapun itu malah tanpa rasa bersalah dan malu menyuruh orang lain, “Tolong vote yaa..”

Sesungguhnya jenis tolong atau mohon model begini hanyalah modus belaka. Terlepas adanya pembelaan, “Kalau tidak mau nge-vote atau nge-love ya sudah, kan enggak dipaksa.” Pembelaan semacam itu tidak sepenuhnya salah, tetapi menjadi rancu, jika kemudian dihadapkan dengan, “Kok giliran ada perlunya, mendadak ramah dengan para relawan follower yang bertepuk sebelah tangan ya?” Sungguh, miris betul nasib teman-teman kita yang digituin.

Kadang saya bingung, apakah atas nama gengsi dan jual mahal di instagram seolah-olah kasta sosial seseorang bisa naik? Padahal, pada tataran yang lebih jauh, perkara demikian merupakan tamparan bagi peradaban media sosial itu sendiri.

Mari selamatkan instagram sebagai medium saling berbagi dan wadah untuk belajar. Berbagi momen, kisah, hingga cerita yang terangkum dalam sebuah peristiwa dan diabadikan melalui foto. Sedangkan caption adalah narasi yang baik untuk mengulas sesuatu hal yang relevan dengan foto.

Belajar juga menjadi manusia yang mendingan, karena follback bukan suatu yang diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Budaya sok jual mahal juga sebaiknya ditinggalkan. Atau, kita perlu bawa timbangan untuk mengukur berapa gram otak para selebgram?