Selamat Tinggal, K-pop!

Selamat Tinggal, K-pop!

trivia.id/missa.jype

Pada suatu malam, saya mencoba mendedah lagi sebuah hobi lama: Korea-nan. Jika tema ini terasa membosankan, tolong pikirkan kembali. Sebab, segala hal yang berbau kapitalistik itu selalu seksi, bukan?

Ini semata karena ada kesenjangan yang amat lebar antara penonton dengan tayangan yang sejernih air, seputih kapas, dan sebening embun itu. Dan, kesenjangan ini mungkin menjadi keresahan bersama.

Saya adalah seorang kpopers sejak dalam pikiran, eh maksudnya SMA kelas 1. Itu kira-kira enam tahun yang lalu, karena terinfeksi oleh kawan-kawan cewek pemuja otot bisep dan kulit mulus. Jangan kira saya tidak jejeritan ketika menonton setiap video Superjunior, bahkan SNSD pun tak lepas dari histeria.

Tak cuma itu, acara gathering fans pun disamperin. Lalu ada festival Korea, beli pernak-pernik yang berbau artis-artis Korea, beli handuknya hingga gantungan kunci. Sampai-sampai emak saya harus jejeritan saat memergoki anaknya, yang begitu anteng di depan komputer demi melihat cewek-cewek mulus dan cowok-cowok ganteng yang terpancang.

Dulu, kpopers bahkan juga disibukkan membuat fanfiction tentang rekaan kisah dirinya dengan sang idola. Biasanya, kita akan direpresentasikan dengan tokoh seorang ulzzang. Coba teman-teman cari di Google, dijamin akan terpesona dengan mata besar, wajah mungil, bibir merah bak boneka porselin. Ariel Heryanto menyebutnya sebagai kenikmatan.

Ketika memasuki bangku kuliah, kebiasaan untuk Korea-nan sedikit berkurang. Bukan karena mendadak jadi idealis, tapi lebih karena tugas yang menumpuk. Boro-boro menonton video, untuk sekadar main ke luar saja sulit. Itu dulu, ketika awal-awal masih rajin kuliah.

Beranjak ke semester tua, rasa-rasanya kok ingin menyerah saja. Menyerah dengan keadaan yang tidak membuat maju secara pikiran. Maka, sedikit-sedikit mulai ikut berorganisasi. Sibuk ini-itu, kenal sana-sini. Maka, Korea-nan pun sedikit tertinggal. Kali ini bukan karena sibuk, tapi murni kebosanan dan merasa tidak mendapat manfaat apa-apa.

Namun, hingga detik ini, saya masih menyimpan video-video Korea, bahkan memiliki beberapa drama Korea juga. Mengapa? Karena sebenarnya masih ada rasa sayang untuk membuangnya. Sesekali kangen juga. Tampilan artis-artis Korea itu seolah menjadi candu.

Hingga tiba suatu malam, saya menonton video singkat berjudul Likeness yang dibintangi oleh Elle Fanning. Bukan sebuah video panjang, hanya kira-kira delapan menit. Tapi harus diakui, video tersebut membuat saya paham bahwa kecantikan dan ketampanan merupakan konstruk sosial dan budaya.

Dalam video Likeness, mereka yang cantik direpresentasikan dengan kulit mulus dan tubuh yang begitu kurus. Tayangan di video artis-artis Korea juga begitu. Seolah sudah menjadi semacam standar umum, kalau cantik itu ya harus putih, mulus, dan langsing.

Seperti Likeness, seperti juga Elle, harusnya saya lebih sadar. Saya adalah saya. Menonton artis-artis Korea tidak lantas menjadikan saya atau anda secantik mereka. Sampai-sampai saya merasa kasihan kepada mereka yang tubuhnya dijadikan alat produksi.

Ya kapitalisme, teman-teman… Sistem ekonomi yang telah meluas dan menjadi tidak manusiawi hingga menjadikan tubuh manusia sebagai sebuah tawaran. Jadi jangan heran banyak operasi plastik, implan payudara, sulam alis, dan sejenisnya.

Jurnal Wacana yang diterbitkan oleh Insistpress pernah membahas tentang kuasa korporasi yang menjalar seperti ular dan menggurita di setiap sektor. Tentang homogenisasi rasa dan hegemonisasi pikiran. Pada akhirnya, kapitalisme membuat kita merasa nyaman dan mengizinkannya terus bertumbuh.

Kuasa Tuhan dalam tubuh ini pun berusaha dipermak habis-habisan lewat salon dan produk-produk kecantikan. Mengonsumsinya secara rutin sebagai bagian dari gaya hidup kekinian. Dan, dibalik itu semua, ada keuntungan yang diraup perusahaan secara besar-besaran.

Terus bagaimana dengan kita, eh saya? Sebagai konsumen akan menangis njongkrok, karena uang habis dan perubahan yang dijanjikan produk-produk itu tak kunjung datang. Maka, yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan terjebak dalam lingkaran tidak berujung. Sebab, kapitalisme mengejar keuntungan semata.

Lewat video Korea, ia ciptakan jarak yang begitu menganga antara saya dan mereka, para artis tersebut. Ketika mereka sedang bernyanyi dengan wajah segar full make up serta pernak-pernik yang berkilau, saya mungkin baru saja bangun tidur dengan muka awut-awutan, berpikir bagaimana menjalani hidup hari ini.

Atau, ketika menonton reality show yang menampilkan kebahagiaan mereka dipuja-puja fans, saya mungkin sedang dibentak-bentak emak karena tugas rumah terbengkalai.

Saya tidak sedang mengutuk video dan film Korea. Tapi mengonsumsi kedua hal tersebut sebagai hobi ternyata tidak memiliki efek apa-apa, kecuali khayalan liar untuk mencapai standar para artis-artis tersebut. Saya selayaknya harus segera bertobat, berhenti bermimpi mendapatkan tubuh sintal dan wajah bak patung Yunani.

Di balik kesenangan yang ditawarkan oleh tayangan-tayangan ala Korea tersebut, ada uang kuliah yang menuntut untuk segera dibayarkan, buku-buku yang menuntut untuk segera dibeli, utang-utang yang menuntut dilunasi, dan nilai-nilai yang harus diperbaiki – jika tak mau berakhir menyedihkan. Tayangan tersebut seakan menutupi realita yang ada, menjadikannya seakan tiada.

Kesenjangan memunculkan fatamorgana bahwa hidup ternyata semenyenangkan itu. Saya, ataupun kita lupa, hidup adalah lotre. Tentang menang dan kalah. Ketika kalah, satu-satunya cara adalah berusaha lagi dan lagi. Dan, sepertinya, saya harus lebih tabah, berusaha menghapus koleksi video Korea.

Annyeonghi gyeseyo..!

  • Saya orang yang tidak suka dengan KPOP sih. Dari dulu saya tidak suka. Kenapa? Karena saya melihat kesenjangan sangat jauh antara film dan kenyataan. Makanya saya tidak suka.

  • Kevin91

    K-POP memang cenderung entertainment sih, jd lbh enak dilihat drpd didengar hihihi…