Selamat Pagi Indonesia, Sudah Diet Seperti Mbak Puan?

Selamat Pagi Indonesia, Sudah Diet Seperti Mbak Puan?

Saya terkikih. Ternyata memang benar kata Deddy Mizwar. Negeri ini benar-benar lucu. Setiap hari, kita dibuat terpingkal-pingkal, bukan hanya hiburan dari para komika di stasiun televisi, tapi juga para pejabat negeri ini.

Setelah Menristek dan Dikti M Nasir yang melontarkan pernyataan melarang lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) masuk kampus, karena alasan merusak moral – sudah dibahas oleh penyuka sepak bola dan senyummu, kak Alief Maulana di voxpop.id – kini lontaran tak kalah lucu datang dari Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, mbak Puan Maharani yang anggun dan ayu.

Mbak Puan, pernyataan mbak yang menanggapi mahalnya harga beras di Bali itu kok dapet banget gerrr-nya ya? Itu lho, yang bilang, “Tolong kalau bisa, jangan banyak-banyak makan, coba diet sedikit itu kan nggak apa-apa.”

Mbak kok paham sekali bagaimana caranya menenangkan rakyat yang sedang lapar, karena sulit membeli beras. Pantas saja kinerja mbak di atas rata-rata menteri yang lain.

Mbak sudah mengajarkan kebiasaan masyarakat kelas menengah atas yang sok rajin diet, yang nggak pernah ribut soal harga beras. Siapa tahu ya mbak, dengan diet – ketat lagi kayak rok mini – warga miskin bisa naik kelas, karena gaya hidupnya sudah mirip-mirip kelas menengah atas.

Mbak Puan pasti sudah tahu kalau Bali sedang krisis pangan. Bagaimana tidak? Bali kan salah satu basis terkuat PDI-P. Itulah mengapa Bali meminta tambahan alokasi beras untuk para rumah tangga miskin. Indeks kemiskinan di Bali sudah naik menjadi 5,2% dari 4,7%.

Itu baru di Bali. Coba mbak googling deh. Berapa banyak masyarakat kita yang mengalami busung lapar? Di Nusa Tenggara Timur, medio tahun lalu, ada kabar yang menggemparkan. Di sana, gubernurnya dituntut, karena lalai atasi busung lapar atau gizi buruk selama 15 tahun kepemimpinannya.

Di Papua mbak, puluhan anak meninggal tak wajar pada November tahun lalu. Usut punya usut, mereka meninggal lantaran kemarau panjang, perubahan cuaca, dan kelaparan.

Kasus yang juga menggemparkan datang dari seorang bocah bernama Reki Gading Mahesa di Cilincing, Jakarta Utara. Akhir tahun lalu, media memberitakan Reki mengalami gizi buruk. Tapi, kenapa neneknya sehat dan gendut begitu? Ini cerminan saja, mbak. Sama seperti mbak Puan mengatakan rakyat harus diet, sedangkan mbak? Ah, sudahlah.

Katanya pemerintah kita ada program kedaulatan pangan. Kabinet kerja, kerja, kerja yang Nawa Cita banget ini bahkan mencanangkan program swasembada pangan. Targetnya 3 sampai 5 tahun. Toh, sekarang beras juga masih impor dari Vietnam dan Thailand. Masih numpuk 900 ribu ton di gudang Bulog.

 

Mbak mungkin lupa kata-kata Soekarno, kakek mbak Puan. Kata belio dulu, persoalan pangan adalah persoalan hidup mati bangsa kita di kemudian hari. Itu belio sampaikan saat peletakan batu pertama di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia – kini Institut Pertanian Bogor (IPB) – pada 27 April 1952.

Pidato kakek mbak Puan ini dikenal dengan ‘Antara Hidup atau Mati’. Hebat ya pak Karno. Pada masa itu, di negeri yang baru saja lepas secara penuh dari kolonialisme, belio sudah memikirkan pentingnya ketahanan pangan.

Ada tiga poin yang belio sampaikan. Pertama soal pentingnya masalah pangan yang sedang dihadapi. Kedua, soal urusan pangan yang harus dituntaskan secara teknis dan komitmen politik. Ketiga, masalah solusi menanganinya.

Nah, daripada nyuruh masyarakat yang sudah kurang makan dan gizi ini untuk diet, mending mbak saja yang diet. Mbak Puan pasti tambah cantik nan segar. Mau salad mbak? Yogurt? Apel? Bakso? Nasi uduk? Pecel lele? Mie Ayam?

Foto: beritadaerah.co.id