Selamat Hari Film Nasional dari Batman, Superman, dan Captain America

Selamat Hari Film Nasional dari Batman, Superman, dan Captain America

movieweb.com

Rabu pagi, 30 Maret 2016. Linimasa akun media sosial dan beberapa media daring masih tampak sibuk membahas film ‘Batman v Superman’. Ada yang bilang plot cerita terlalu padat dan terkesan dipaksakan lah, ada yang menilai sebuah anti-klimaks duel pahlawan super, dan sebagainya.

Saya pun hanya bisa tersenyum, meski harus tetap berusaha mengunyah sosis bakar sapi lada hitam yang jadi menu sarapan ketika itu. Dalam hati, saya berbicara, “Siapa suruh klimaks buru-buru.” Memang luar biasa promo film ‘Batman v Superman’ sampai orang-orang pasang ekspektasi setinggi-tingginya. Ya kalau ketinggian yang ada hasilnya anti-klimaks.

Farid Firdaus dalam tulisannya di Voxpop berjudul “Konsekuensi Gelap dari Batman v Superman, Siapkah Kita?” juga sudah menyinggung alur cerita yang berjubel alias begitu padat. Dipaksakan, mungkin. Tapi masih mending lah daripada lihat DPR yang memaksakan proyek perpustakaan senilai Rp 570 miliar. Itu mau bikin perpustakaan atau hotel buat bobo siang?

Meski dipaksakan, toh film ‘Batman v Superman: Dawn of Justice’ tetap laris manis. Belum habis itu semua, kini mulai ramai film ‘Captain America: Civil War’. Film ini, entah siapa yang meniru, sama-sama tentang duel pahlawan super. Pada film terbaru Captain America disuguhkan perseteruan antara Captain America v Iron Man cs.

Ini ada apa ya, kok seneng betul ngadu-ngaduin superhero, macam sudah kehabisan penjahat saja. Ya, tidak lain tidak bukan, supaya penggila karakter tokoh superhero ala Marvel, DC, dan kawan-kawannya itu tidak bosan. Termasuk, kamu. Ya kamu, yang menjadi pundi-pundi kapital film Hollywood.

Perseteruan antara superhero sebenarnya tidak baik. Saya khawatir ini jadi inspirasi dan legalitas orang untuk berseteru. Sudah cukup lah kita disajikan Jokowi v Prabowo, Ahok v Lulung, pro v kontra LGBT, gerakan kiri v kanan, hingga drama ojek pangkalan v Gojek cs dan taksi v Uber cs.

Balik lagi soal film ‘Captain America’. Katanya film itu akan tayang di bioskop dan layar tancap di dekat rumah anda pada 6 Mei 2016. Tapi, sekarang ini, lagi heboh ada spoiler terselubung di trailer film tersebut, yang mengisyaratkan superhero mana yang tewas dalam pertarungan Captain America v Iron Man cs.

Ada spekulasi yang mati itu War Machine, yang tergabung dalam tim Iron Man. Tapi ada satu cuplikan adegan dalam trailer terbaru yang memperlihatkan tubuh tak berdaya salah satu superhero. Meski tak ditampilkan secara jelas, namun tubuh tersebut diperkirakan Bucky Barnes alias Winter Soldier, sahabat lama Captain America. Memang paling jago bikin orang penasaran.

Ya begitulah keriuhan film Hollywood yang sampai juga di benak para penikmat film di Indonesia pada 30 Maret ini, sebuah tanggal dimana kita seharusnya merayakan Hari Film Nasional. Kenapa 30 Maret menjadi Hari Film Nasional? Karena pada tanggal tersebut dilakukan pengambilan gambar film ‘Darah dan Doa’ karya Usmar Ismail.

Film ‘Darah dan Doa’ atau juga dikenal dengan ‘The Long March (of Siliwangi)’ ini menceritakan tentang seorang pejuang revolusi Indonesia yang jatuh cinta kepada seorang gadis Jerman yang bertemu dengannya di tempat pengungsian. Film ini dianggap sebagai film lokal pertama yang Indonesia banget.

Tapi rupanya Hari Film Nasional sudah diinvasi oleh para superhero macam Batman, Superman, dan Captain America. Ini bukan Xenofobia, toh industri film kita juga malas lambat berbenah, meski ada beberapa film Indonesia yang tak kalah menarik.

Bagi para remaja tahun 1980-an, pasti pernah happy ketika menonton ‘Catatan Si Boy’, yang melambungkan nama Onky Alexander, Meriam Bellina, Lydia Kandou, Paramitha Rusady, Desy Ratnasari, dan Didi Petet. Namun, setelah era itu, industri film nasional lesu.

Lalu, muncul film-film mistik nan horor yang mana kru film menjadi lebih sibuk dibandingkan aktor atau aktrisnya. Bagaimana tidak, kru film terutama bagian properti tidak boleh kehabisan stok dupa dan harus mencari kembang dan air dari tujuh penjuru mata angin.

Ketika itu, orang hanya kenal Suzzanna Martha Frederika van Osch, ‘the queen of Indonesian horror’. Suzanna yang kebetulan cantik nan semok di eranya itu sangat populer membintangi sejumlah film mistik, tapi sedikit hot. Sebut saja ‘Ratu Ilmu Hitam’, ‘Sundel Bolong’, ‘Perkawinan Nyi Blorong’, dan sebagainya.

Film sedikit hot itu mungkin saja menginspirasi produser untuk membuat film layar lebar yang hot beneran. Tapi levelnya masih agak di bawah film semi-semi gitu deh. Misalnya ‘Ranjang yang Ternoda’, ‘Gairah Malam’, ‘Puncak Kenikmatan’, ‘Kenikmatan Tabu’, ‘Penyimpangan Sex’, dan kawan-kawannya. Siapa yang tak kenal Sally Marcelina, Inneke Koesherawati, Febby Lawrence, Malfin Shayna, dan Kiki Fatmala?

Tapi entah kenapa, film-film itu satu-persatu tumbang seiring era reformasi. Maka muncul lah, film bioskop bernuansa lain pada tahun 2000. Miles Film merilis film ‘Petualangan Sherina’. Film ini menandai awal-awal kebangkitan kembali film nasional.

Dan, pada 2002, lagi-lagi Miles Film meluncurkan film ‘Ada Apa dengan Cinta?’. Film AADC meledak seakan menjadi tonggak kebangkitan kembali film nasional. Jumlah penonton film yang melambungkan nama Dian Sastro itu tembus 2,17 juta penonton.

Selanjutnya muncul film-film nasional lainnya yang juga berkualitas, seperti ‘Laskar Pelangi, ‘Ayat-Ayat Cinta’, dan ‘Habibie & Ainun’. Industri film nasional kemudian merambah film-film biopik yang juga menarik, antara lain ‘Sang Pencerah’, ‘Sang Kiai’, ‘Soekarno’, dan ‘Guru Bangsa: Tjokroaminoto’. Denger-denger ada yang mau bikin film bioskop Tan Malaka. Tapi apa iya berani, wong pementasan monolog Tan Malaka saja dilarang-larang.

Yang terkini ada film ‘Surat dari Praha’, ‘A Copy of My Mind’, dan ‘Comic 8: Casino Kings Part 2’. Sebenarnya ada harapan baru dari film nasional, yang setidaknya bisa melepaskan sedikit pikiran kita dari bekapan Batman, Superman, dan Captain America.

Pilihannya tersisa pada film AADC 2 yang bakal tayang pada April 2016. Tapi apakah film yang melambungkan nama Dian Sastro itu mampu mengulang kesuksesannya, yang pernah menjadi tonggak kebangkitan kembali film nasional pada 14 tahun lalu?

Lagi-lagi, kita harus bersandar di pundak Dian Sastro sambil berbisik, “Kamu pasti akan kembali dalam satu purnama.”