Sebuah Pesan Penting untuk Selamat Ginting
CEPIKA-CEPIKI

Sebuah Pesan Penting untuk Selamat Ginting

Ilustrasi (indiatoday.intoday.in)

Indonesia ternyata tak butuh lama untuk menemukan sumber kegaduhan baru pasca Ahok dipenjara dan perginya Rizieq Shihab ke Arab Saudi – yang tak tahu kapan pulangnya. Belakangan, media sosial kembali dihiasi oleh perdebatan-perdebatan baru yang tak kalah seru, bahkan beberapa sampai arguasme.

Yang terutama tentang seorang anak SMA bernama Afi Nihaya Faradisa. Yang menyukainya memuji setinggi langit, sementara yang membencinya berusaha membenamkannya hingga ke dasar bumi. Terlebih setelah tulisan Afi di salah satu media daring ditengarai merupakan status lama seseorang yang bernama Mita Handayani.

Perdebatan lain yang tidak kalah ramai adalah tulisan Selamat Ginting di Republika online. Jurnalis senior itu menulis tentang tragedi perkosaan massal tahun 1998. Ada di rubrik suara pembaca, yang artinya tulisan itu adalah opini penulisnya. Opini seorang jurnalis di medianya sendiri. Bingung? Kalau bingung, selamat!

Tapi ngomong-ngomong soal selamat, konon satu-satunya orang Indonesia yang pernah menjejakkan kakinya di bulan bernama Selamat. Kalau tidak percaya silahkan baca koran-koran lama, nanti kalian akan ketemu berita ‘Neil Armstrong Berhasil Menjejakkan Kaki di Bulan dengan Selamat’.

Dia, maksudnya si Selamat ini, bahkan selalu dilahirkan bersama bayi-bayi saat orang tua mereka memberi kabar setengah pamer di media sosial bahwa ‘telah lahir anak kami dengan Selamat’.

Selamat ada di mana-mana kecuali, mungkin, di Jakarta, pada tahun 1998, ketika tragedi perkosaan itu terjadi. Mungkin itu sebabnya Bung Selamat merasa perlu pergi ke India pada 2011 untuk bertanya kepada Pak Andi Ghalib. Saya juga tidak ada di Jakarta waktu itu, lagipula ongkos ke India mahal. Jadi, saya memuaskan diri dengan bertanya kepada Kakek-Segala-Tahu abad milenium: Google.

Menariknya, saya menemukan satu tulisan tertanggal 1 April 2007 – pas banget sama April Mop – dari seseorang yang mengaku bernama Abu Zahra, yang katanya disarikan dari tabloid dua mingguan Suara Islam edisi 17, Minggu III-IV Maret 2007. Nama blognya: fpi-online dot blogspot dot co dot id.

Eits, gak usah buru-buru menghakimi gitu…

Saya tidak bilang tulisan Abu Zahra itu sama persis dengan tulisan Bung Selamat – yang saya tak tahu sudah pernah ke bulan atau belum – tapi beberapa paragrafnya persis seperti saya dengan Hamish Daud, mirip banget. Saya kutipkan satu saja:

Setelah menyelidiki selama dua tahun, pada Senin, 22 November 2004 satuan tugas rahasia pemerintah Amerika Serikat menggelar operasi bersandikan Operation Jakarta. Operasi penangkapan 26 anggota sindikat pemalsu dokumen suaka ini dilakukan serentak di lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat. “Pemimpin sindikat ini adalah Hans Guow, WNI yang dikabulkan permohonan suakanya pada 1999,” kata Jaksa Penuntut Wilayah Virginia, Paul J McNulty yang menangani kasus ini.

Masih ada beberapa paragaraf lagi, tapi kalau saya tulis semua, habis dong jatah ruang tulisan saya di Voxpop. Yang membedakan kedua tulisan itu adalah Abu Zahra tidak perlu jauh-jauh datang ke negerinya Tuan Takur dan Inspektur Vijay, membuka kamus bahasa India, dan makan malam dengan Pak Andi Ghalib untuk membuat tulisannya.

Dalam hal ini, Bung Selamat jelas lebih unggul dan ketat dalam menjalankan kaidah jurnalistiknya. Narasumber utamanya jelas disebut, yah, walaupun cuma satu pihak dan sudah tidak bisa dikonfirmasi lagi, karena Pak Andi Ghalib sudah meninggal dunia kurang lebih setahun yang lalu.

Iseng-iseng saya telusuri nama Hans Guow yang disebut baik di tulisan Abu Zahra maupun Bung Selamat. Saya menemukan beberapa media yang memuat nama tersebut. CNN dan Washington Times memuat berita tentang Hans Guow pada 27 April 2005.

Sementara itu, Gatra yang sepertinya meng-copas berita dari Washington Times, memuatnya pada 1 Mei 2005. Bahkan Liputan6 sudah memuat berita soal itu pada 17 Desember 2004.

Di sana disebutkan bahwa Hans Guow ditahan pihak imigrasi Amerika untuk kasus pemalsuan dokumen imigrasi, pencucian uang, dan merencanakan bisnis penyelundupan PSK dari Indonesia untuk buka praktik di Amerika atau minimal jadi penari bugil.

Masih banyak pertanyaan di kepala saya, seperti misalnya, seperti apa sih tulisan di tabloid Suara Islam yang disarikan oleh Abu Zahra? Bagaimana Abu Zahra bisa tahu soal Operation Jakarta tanpa perlu makan malam bareng Pak Andi Ghalib? Apakah semua korban perkosaan 1998 yang mengungsi ke Amerika menggunakan jasa Hans Guow? Apakah Hans Guow itu cuma memancing di air keruh? Dan lain sebagainya.

Sayangnya, kuota internet saya tidak selamat. Keburu habis. Padahal, saya belum mengunduh dokumen FBI yang disebut Bung Selamat, belum nemu tabloid Suara Islamnya Abu Zahra, belum memeriksa detil hasil laporan Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk pemerintah, belum membaca laporan atau catatan tim relawan, dan lain sebagainya.

Mungkin Bung Selamat sudah, gimana Bung?

Jadi jurnalis ternyata capek dan susah juga, dan… ngabis-ngabisin kuota. Gimana mau dapat Press Card Number One kalau gini caranya? Jadi kalau ada yang percaya bahwa jadi jurnalis atau setidaknya nulis opini itu gampang, maka segera beranguslah pikiran busuk itu!