Menjadi Sekutu Feminis Tanpa Harus Dicap sebagai SJW

Menjadi Sekutu Feminis Tanpa Harus Dicap sebagai SJW

Ilustrasi (The Daily Beast)

Cyin, serem nggak sih denger kata feminis? Ada yang bilang kalau feminis bertentangan dengan agama, bahkan ada yang menganggapnya sebagai upaya perempuan untuk mengambil alih dunia!

Padahal, itu adalah perubahan yang dinanti sejak lama. Dengan adanya gerakan feminis, perempuan akhirnya bisa mendapatkan haknya sebagai manusia. Mungkin terdengar aneh, karena nggak semua orang mau menerima perubahan begitu saja.

Tapi, kalau kita lihat perkembangannya, perempuan di Indonesia masih dipandang sebagai warga negara kelas dua. Berbeda dengan laki-laki. Beberapa keluarga bahkan merasa belum afdol, kalau belum punya anak laki-laki.

Terus yang paling parah, perempuan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu seksual laki-laki. Tolong ya, mau puas jangan nyusahin orang lain. Ada perempuan diperkosa bukannya prihatin, malah nanya memangnya pakai baju apa?

Jadi gini ya, mungkin bagi kalian, feminis adalah gerakan berbahaya dengan alasan yang bermacam-macam itu. Tapi bagi orang lain, bisa jadi feminis adalah gerakan yang membolehkan mereka untuk bisa bebas.

Bukan berarti hidup bebas tanpa aturan. Tapi bebas bisa memilih pekerjaan apa saja yang diinginkan, bebas memilih pakaian apa saja yang ingin digunakan, bebas memilih makanan apa saja yang disuka, dan bebas memilih apa saja sesuai haknya sebagai manusia.

Sebab, bagi beberapa perempuan, keinginan mereka hanyalah sebatas keinginan karena terbentur dengan norma-norma sosial, yang melarang mereka untuk mengejar apa yang diinginkan.

Lalu, bisakah kita mendukung gerakan feminis tanpa harus menjadi seorang feminis? Bisa, bisa sekali. Sama seperti kita yang nggak harus jadi presiden untuk mendukung program-program seorang presiden, atau seperti kita yang nggak harus jadi hewan untuk mendukung hak-hak hewan.

Mau mendukung gerakan feminis tanpa menjadi seorang feminis? Atau, mau mendukung gerakan feminis tapi masih belajar dan tidak mau dilabeli feminis karena takut kalau berbuat sesuatu yang salah bisa menjelekkan nama feminis? Tenang, kamu bisa menjadi sekutu feminis!

Lalu apa itu sekutu feminis? Sekutu feminis adalah, hmm, mereka yang mendukung pergerakan feminis. Duh! Ada yang menganggap sekutu feminis adalah laki-laki yang mendukung pergerakan feminis. Menurut KBBI sih, sekutu itu rekanan. Bisa ke Google aja kalau kurang paham, takut malah salah menjelaskannya.

Tapi bagi saya, sekutu feminis adalah orang yang masih belajar tapi berusaha untuk mendukung gerakan feminis.

Oke, lalu bagaimana cara jadi sekutu feminis? Mudah. Yang paling penting adalah kalian harus berpikiran terbuka, dan menerima kalau perbedaan pendapat itu wajar. Apalagi kalau kalian laki-laki, karena sebetulnya laki-laki itu sangat diperlukan.

Tanpa mendiskreditkan semua feminis dan semua perempuan yang berjuang untuk hak-hak mereka, tanpa didukung oleh laki-laki, gerakan feminis hanya akan dianggap sebagai sebuah tindakan rebelious.

Berikut ini beberapa cara agar kita bisa jadi sekutu feminis. Tolong dipahami kalau saya bukan ahli di bidang ini. Saya hanya seorang sekutu feminis. Bagi saya, gerakan ini bukan hanya untuk perempuan. Feminis juga peduli pada hak-hak minoritas. Jadi, ya, ini bukan MLM kok, tenang saja. Yuk disimak…

1. Belajar dengan banyak membaca tentang feminis. Apa itu gerakan feminis? Apa itu perilaku seksis? Apa itu misoginis? Dan, apa yang menjadi masalah sampai-sampai gerakan ini bisa muncul.

Kalau nggak tahu kenapa feminis ada, dan apa itu feminis, percuma. Sama saja seperti kamu mau jadi artis, tapi nggak tahu kenapa artis bisa muncul di TV dan film.

2. Ketahui kalau permasalahan dan gerakan ini rumit dan lebih besar dari kalian. Logikanya, kalau permasalahan yang dihadapi nggak rumit dan mudah untuk diperbaiki, masalah ini sudah bukan jadi masalah lagi sekarang.

3. Kalian bukan pahlawan. “Hey look, I’m a feminist ally, without me you’re nothing.” Jangan gitu lah ya. Janganlah kalian dukung gerakan ini hanya karena kalian ingin dikenal. Jangan. Cari alasan yang lebih baik, misalnya supaya ibu kalian bisa mendapat uang pensiunan yang besarnya sama dengan uang pensiunan ayah kalian.

Atau, supaya saudara perempuan kalian bisa bekerja dan pulang malam tanpa takut akan jadi korban kekerasan seksual. Atau, mungkin supaya anak perempuan kalian nanti bisa jadi presiden tanpa harus dipandang rendah hanya karena dia perempuan.

4. Jangan dukung gerakan ini kecuali kalian memang peduli. Beneran. Nggak sedikit loh yang ngaku jadi feminis atau sekutu feminis hanya karena mereka ingin punya pacar. Geli nggak sih dengernya? Kenapa nggak ke Tinder aja gitu ya kalau mau cari pacar? Kenapa harus pura-pura dukung feminis?

5. Pahami kalau feminis bukan hanya tentang mendukung hak perempuan. Feminis juga mendukung hak suku minoritas, agama minoritas, orientasi seksual minoritas, dan melawan keras stereotip gender. Jadi kalian benar-benar harus berpikiran terbuka dan menerima kalau memang feminis ini rumit.

6. Hargai perempuan dan pendapat mereka. Ini yang paling penting! Hargai kalau perempuan punya suara. Jangan mansplaining! Apa itu mansplaining? Google aja ya.

Jangan pernah merasa berhak untuk mendikte perempuan baju apa yang seharusnya perempuan pakai. Jangan mendikte perempuan pekerjaan apa yang seharusnya dikerjakan perempuan.

Udah, gitu dulu. Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang harus kita lakukan sebagai sekutu feminis, tapi poin-poin di atas adalah yang terpenting agar kita bisa mendukung gerakan feminis.

Dan, pastikan lagi bahwa kamu bukan seorang SJW. SJW atau social justice warrior atau pejuang keadilan sosial, sindiran kepada orang-orang yang menggunakan isu sosial seperti feminisme hanya untuk kepentingan pribadi.

Seperti yang terlihat di tips-tips di atas, biasanya mereka mendukung isu ini hanya agar reputasi pribadinya naik, agar terkenal, dan sebagainya.

  • Lian Balki

    karena feminis sekarang toxic, bagaikan para white race yg berusaha westernisasi ke seluruh dunia dgn label “liberal”
    dan feminis itu aneh, jika wanita dominan dlm segala hal itu di cap sebagai “kemenangan” sementara jika laki2 yg dominan itu dicap masalah, what a hypocrite

    • Lian Balki

      ohh iya aneh ada istilah mansplaining tpi tidak ada istilah “womansplaining”

    • jalaludin sh

      emang kalo liberal sudah pasti buruk ya?
      ya kalo laki2 dominan trus mendominasi, trus ujungnya mengeksploitasi, ya jadi masalah lah. habis itu dilindungi budaya, agama, dll lagi. what a hypocrite