Sekuntum Mawar untukmu, Sebuah Buku untukku

Sekuntum Mawar untukmu, Sebuah Buku untukku

bestwallpapershds.blogspot.com

“Iseng main Snapchat. Tuker-tukeran muka gitu. Nyari tukeran nasib gak ada. Life.” Kira-kira begitu kicauan admin akun Voxpop Indonesia di Twitter, baru-baru ini.

Mimin Voxy, panggilan kyutnya, mungkin lagi nggak ada kerjaan ketika itu. Lalu, coba-coba aplikasi yang lagi kekinian di kalangan generasi milenial tersebut, mulai dari fitur tukar wajah, ada pelangi di matamu lidahmu, sampai mengubah wajah bak hantu menyeramkan.

Tapi itu semua buat lucu-lucuan saja. Seperti cuitan mimin Voxy yang mengutip Nietzsche, “Manusia adalah satu-satunya hewan yang tertawa, karena ia menderita dengan rasa kesendirian yang teramat mendalam.” Daripada mimin Voxy menderita sendirian, terus ngaku-ngaku jadi staf gubernur bernama Sunny? Sunny Tanuwidjaja? Bukan, Sunny Leone. #DilarangGoogling.

Sudah, sudah, mari tetap fokes. Abaikan Sunny Leone, Sunny SNSD, atau Sunny-nya Bunga Citra Lestari (BCL) sekalipun. Balik lagi ke Snapchat, terutama soal tukar menukar.

Kalau boleh saran, selain fitur tukar wajah, seharusnya ada juga fitur tukar jodoh pikiran. Sebab, sekarang ini, orang-orang lagi pada sensi, apalagi kalau beda junjungan. Merasa paling benar, tapi sebenarnya terjerembab dalam lembah fanatisme yang sempit.

Siapa tahu, kalau dimulai dari hal-hal yang lucu, misalnya di layanan aplikasi, orang-orang bakal terbiasa di dunia nyata. Selain tukar pikiran, bisa juga ditambahkan beberapa fitur lain yang produktif, misalnya tukar buku. Dengan begitu, mungkin akan merangsang orang untuk banyak-banyak baca buku. Sungguh, cowok atau cewek yang suka baca buku itu keren sekali.

Oh ya, ngomong-ngomong soal buku, Unesco menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Hari Buku Sedunia pertama kali diperingati pada 1995.

Sedangkan di Indonesia, Hari Buku pertama kali dirayakan pada 2006, yang diprakarsai oleh Forum Indonesia Membaca. Tapi, konon, pada awalnya Hari Buku adalah bagian dari perayaan Hari Saint George di Catalonia sejak abad pertengahan.

Yang gila bola pasti tak asing dengan Catalonia, sebuah wilayah otonomi Spanyol, tempat di mana FC Barcelona berada. Jadi, ketika itu, para pemuda di Catalonia punya tradisi memberikan bunga mawar kepada kekasihnya.

Lalu, pada 1923, para pedagang buku memengaruhi tradisi ini untuk menghormati Miguel de Cervantes, seorang novelis tersohor asal Spanyol, yang meninggal dunia pada 23 April 1616.

Miguel de Cervantes sendiri dikenal lewat novelnya ‘Don Quixote de la Mancha’, sebuah novel yang diakui banyak orang sebagai novel modern pertama, salah satu karya terbesar dalam sastra Barat. Bahkan, pengarang asal Rusia, Fyodor Dostoyevsky menyebutnya sebagai ‘kata yang paling puncak dan paling luhur dari pemikiran manusia’.

Sampai-sampai PM Israel David Ben-Gurion mempelajari bahasa Spanyol demi bisa membaca ‘Don Quixote de la Mancha’ dalam bahasa aslinya. Ia menganggap novel tersebut sebagai prasyarat untuk menjadi seorang negarawan yang efektif.

Aksi mengenang Miguel de Cervantes oleh para pedagang buku pada 1923 melahirkan sebuah tradisi baru. Yang awalnya hanya tradisi pemberian bunga mawar, berubah menjadi pertukaran bunga mawar dengan buku.

Para perempuan memberikan sebuah buku kepada kekasihnya sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Pada masa itu, lebih dari 400.000 buku terjual dan ditukarkan dengan 4 juta mawar. So sweet banget kan?

Tapi, entah mengapa, tradisi itu sudah tak terdengar lagi. Tradisi pemberian mawar sekarang ini identik dengan Hari Kasih Sayang atau Valentine’s Day pada 14 Februari. Ketika valentine itu tiba, banyak pemuda bela-belain beli sekuntum mawar – entah itu sekadar pencitraan atau bukan – lalu menyerahkan bunga tersebut kepada para gadis yang menjadi kekasihnya. Lantas, para pemuda itu dapat apa? Buku? #Ehm.

Saya pikir, tidak ada salahnya kita kembali ke khittah ‘pertukaran mawar dengan buku’ dalam merayakan Hari Buku Sedunia pada 23 April ini. Sudah saatnya Hari Buku Sedunia mengkudeta Hari Kasih Sayang!

Buat para cowok, belilah sekuntum bunga mawar, meski kadang terkesan mendadak romantis dan aneh. Yang cewek, siapkanlah sebuah buku yang teramat bagus untuk ditukar dengan mawar yang kau terima. Kalaupun mau sama-sama bertukar buku, itu lebih bagus. Itu namanya pacaran biologis ideologis.

Bagaimana dengan jomblo? Untuk yang satu itu, mohon maaf saya tak bisa berkomentar banyak. “Ya sudah mblo, baca buku di malam minggu itu sungguh mulia.”

Lalu, ada teman saya, yang kebetulan perempuan, juga protes begini. “Keenakan cowoknya. Beli mawar itu berapa sih? Apalagi cuma setangkai. Masih mahalan beli buku dong.”

Wah, jadi perempuan kok rasionalistik kapitalistik banget. Cinta itu bisa jadi indah, kalau irasional. Cinta juga semakin mewah, kalau ada inkonsistensi di dalamnya. Satu sisi, cinta itu milik semua orang, tapi di sisi lain terjadi praktik monopoli.

Tapi dari irasionalitas itu tersimpan elan pembebasan. Dan, tradisi pertukaran bunga mawar dengan buku adalah koentji! Tradisi ini sangat efektif untuk sebuah negara yang tingkat literasinya masih rendah seperti di Indonesia ini. Bukankah buku sudah terbukti memajukan peradaban sebuah bangsa?

Apa jadinya kalau Miguel de Cervantes tidak melahirkan ‘Don Quixote de la Mancha’? Mungkin tidak akan ada tonggak sejarah novel modern dalam kesusastraan Barat.

Apa jadinya kalau Adam Smith, pelopor ilmu ekonomi modern dan sistem ekonomi kapitalis, tidak membuat buku ‘An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations’ ?

Lalu, apa jadinya kalau Karl Marx tidak membuat buku ‘Das Kapital’, yang menjadi haluan sistem ekonomi sosialisme dan komunisme?

Dan, apa artinya itu semua tanpa buku-buku ini? Sebut saja buku ‘Penciptaan Waktu’ karya Archimedes. Buku ini diasumsikan sebagai sebuah penjelasan mengenai terciptanya sebuah “mukjizat”. Planetarium, jam astronomi, kalkulator kuno, dan semua hal yang diciptakan untuk mempermudah hidup. Begitu juga dengan buku ‘Hermocrat’ karya Plato dan ‘Ab urbe condita libri’ atau ‘Penciptaan Sebuah Kota’ karya Titus Livius.

Sejarah dunia juga mengenal bagaimana termasyhurnya buku-buku kuno nan langka yang tersimpan di Bait al-Hikma (Rumah Kebijaksanaan) di Baghdad, Irak.

Perpustakaan megah itu pernah menyimpan sebuah buku tentang cara Bangsa Persia menyembunyikan ilmu pengetahuan, medis, astronomi, dan beberapa penemuan yang mereka dapatkan selama penjelajahan. Dan masih banyak lagi. Itu sebabnya buku juga sebagai sumber kehidupan.

Selamat Hari Buku Sedunia!

Mari bertukar buku dengan sekuntum bunga mawar!