Kamu Bercandanya Seksis dan Itu Nggak Ada Lucu-lucunya

Kamu Bercandanya Seksis dan Itu Nggak Ada Lucu-lucunya

Ilustrasi (yourstory.com)

“Saya kan hanya bercanda, jangan ditanggapi serius begitu.”

Betapa menyebalkan, jika menemukan jawaban seperti itu keluar dari mulut manusia – entah laki-laki atau perempuan – setelah melontarkan candaan seksis. Apalagi, jika candaan itu kemudian dianggap lucu dan menghibur.

Baru-baru ini, saya menjadi relawan di sebuah pameran seni. Suatu hari, seorang pemandu pameran bertanya di grup WhatsApp, “Apakah pengunjung tanpa unsur merah muda di outfit-nya boleh naik ke karya seni interaktif berupa kereta kayuh merah muda?

Syarat menaikki karya tersebut memang pemakaian sesuatu berwarna merah muda di tubuh pengunjung – entah baju atau aksesori. Jawaban yang muncul kemudian adalah saran dari seorang laki-laki untuk mencoba menunjukkan pakaian dalam si pengunjung.

“Siapa tahu dalemannya pink,” komentarnya.

Saran itu kemudian ditanggapi beberapa laki-laki lain. Salah satunya bilang, ia mau membantu memeriksa pakaian dalam kalau pengunjungnya perempuan.

Seorang perempuan turut nimbrung, terus bilang, “Bisa jadi (dalemannya warna pink).” Lalu, ketika ditegur, yang kemudian muncul ya jawaban mirip-mirip tadi. “Saya hanya bercanda, tp semisal kalau nangkepnya serius ya maap, itu bukan maksud sy. Suwun.”

Pada lain waktu, saat saya mau groufie dengan kenalan-kenalan baru, seorang laki-laki menyahut, “Nanti teriak Hanna Annisa ya!”

Maksudnya sih, biar pas tombol rana ditekan, ekspresi kami kayak sedang mringis gitu. Sialnya, banyak yang tertawa.

Coba terangkan ke saya, bagian mana yang lucu ketika kita malah menertawakan korban porn revenge saat mungkin dia sedang menerima begitu banyak sanksi sosial dari warganet bahkan orang-orang di dunia nyata, sementara pelaku penyebar video dianggap tidak bersalah?

Candaan seksis seperti tadi sering kita jumpai dalam percakapan, maupun dalam meme-meme di media sosial sekarang ini. Candaan sejenis ini menggambarkan relasi kuasa seksual yang timpang, dimana laki-laki adalah subyek yang menindak obyek, yakni perempuan.

Relasi ini kemudian menciptakan idealitas dimana laki-laki menjadi penakluk perempuan. Maka, laki-laki punya privilege untuk mengobyekkan perempuan dalam candaannya.

Peran ‘penakluk’ ini terbentuk oleh konstruksi sosial yang meninggikan derajat laki-laki di atas perempuan. Laki-laki dibentuk dengan nilai untuk jadi lebih perkasa. Lebih superior. Lebih jantan.

Itulah mengapa, hubungan seks merupakan prestasi bagi laki-laki, namun aib bagi perempuan. Laki-laki wajar bicara seks di ruang publik. Perempuan tidak.

Maka, laki-laki bebas bercanda seksis nan misoginis, karena kehidupan di atas bumi ini terbentuk sedemikian rupa dengan nilai-nilai sedemikian rupa pula. Seperti standar ideal orang Indonesia baru kenyang jika makan nasi.

Laki-laki yang tidak tertawa terhadap humor seksis akan dicurigai mengidap kelainan seksual, misalnya. Atau memang tidak asyik orangnya.

Menjadikan perempuan sebagai bahan candaan seksis berarti mengaminkan mereka sebagai obyek seksual yang bisa dieksploitasi seenak udel.

Candaan seksis kemudian terinternalisasi dalam komunitas masyarakat. Ia mewujud dalam laku menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua, yang bisa banget diobyek-obyekkan tubuh maupun seksualitasnya untuk ditertawakan. Seksisme dianggap wajar, sehingga timbul sikap diskriminasi terhadap perempuan.

Mengerikannya, kita seolah sudah lempeng dengan candaan sejenis itu. Kita ikut tertawa bersamanya, bahkan melemparkan lelucon yang serupa. Entah perempuan atau laki-laki bisa menjadi pelakunya.

Sayangnya, hingga kini bahkan masih banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa candaan seperti tadi sangat merugikan diri mereka sendiri.

Dibanding bersama-sama mengubah kebiasaan bercanda agar lebih ramah perempuan, banyak di antaranya yang justru turut melanggengkan budaya eksploitatif itu.

Saya tahu, mungkin mereka tidak terbiasa berpikir kritis tentang patriarki. Tidak punya keinginan untuk membaca literatur feminisme atau bergabung dalam diskusi-diskusinya. Tidak punya akses ke teman yang paham bahwa itu merugikan.

Dan tentu, jangan lupakan konstruksi sosial dan status quo yang mapan, yang dianggap sebagai kewajaran. Dengan kata lain, kesadaran bahwa membercandai perempuan sebagai obyek seksual itu salah masihlah minim.

Perempuan kehilangan koherensi. Pada saat yang sama, ia tunduk pada konstruksi sosial terhadap gendernya. Sekaligus, meraba-raba kesadaran bahwa identitas ketubuhan merekalah yang dieksploitasi.

Maka akhirnya, perempuan satu menjadi musuh perempuan yang lain. Mereka yang berjilbab mengolok-olok yang tidak berjilbab dengan analogi permen (perempuan) berbungkus dan tidak berbungkus, dimana semut (laki-laki) lebih senang mengerubungi permen yang terbuka.

Mereka yang tidak berjilbab pun mengolok-olok perempuan berjilbab sebagai korban tren hijab yang angin-anginan.

Mereka yang berkulit putih ala iklan produk kosmetik jumawa dengan keputihannya, membuat banyak perempuan ingin punya kulit serupa. Mereka yang berkulit gelap mengolok-olok si kulit putih sebagai perempuan lemah nan manja.

Maka permasalahan utamanya adalah perempuan masih dianggap obyek terlupakan dalam masyarakat. Segelintir saja yang peduli dan sadar. Sisanya saling tuding, tidak menyadari bahwa sumber tuding-menuding ini berasal dari akar yang sama: ketimpangan relasi.

Pengambil kebijakan publik yang berasal dari kondisi sosial semacam ini kemudian akan melahirkan kebijakan semacam: tes keperawanan untuk calon aparat, murid sekolah, atau pekerja di instansi tertentu.

Kemudian melahirkan sikap victim blaming terhadap korban kekerasan seksual berdasarkan caranya berpakaian dibanding memberi sanksi bagi pelaku. Atau, malah menganjurkan perempuan belajar beladiri, bukannya meminta laki-laki belajar menghormati tubuh perempuan.

Kesemuanya, saudara-saudari, salah satunya terpercik dari candaan seksis yang diskriminatif, namun dianggap wajar. Toh, itu kan hanya bercanda.

2 KOMENTAR

    • At least bisalah dicoba2 untuk usaha dibagikan pemikirannya ke orang terdekat agar mau merubah pola pikir sexis sperti itu. Bukan dengan melihat hasilnya. Tapi prosesnya .

TINGGALKAN PESAN