Manusia Abal-abal Maunya Cuma Ngeseks, Nggak Mau Tanggung Jawab

Manusia Abal-abal Maunya Cuma Ngeseks, Nggak Mau Tanggung Jawab

Ilustrasi (Osterreich/pixabay.com)

S (20), seorang mahasiswi asal Klaten yang kuliah di Solo, berteriak pada tengah malam. Lebih miris, S berteriak sambil berpegangan pada kayu ala kadarnya sembari diayun oleh aliran Kali Opak di Bantul, Yogyakarta.

Beberapa saat sebelumnya, S didorong ke kali oleh kekasihnya bernama Abdurrahman ketika sedang mengobrol di Jembatan Kretek. Tampak pilu lagi, ketika mengetahui bahwa S tengah hamil. Beberapa media menyebut tujuh bulan, sisanya menyebut tiga bulan. Entahlah mana yang benar.

Dalam pernyataannya di media, Abdurrahman menyebut bahwa alasan menceburkan S ke Kali Opak KARENA BELUM SIAP SAJA TANGGUNG JAWAB. Maaf, capslock nyala. Tiba-tiba saya emosi.

Beruntung, S selamat. Sebab faktanya, sudah banyak kejadian seperti itu. Perempuan meninggal dalam kondisi hamil, karena dibunuh oleh orang yang disebut kekasihnya. Tahun lalu, di Rumbai, ED (21) meninggal dalam kondisi tubuh separuh terbakar karena dibunuh Supriadi.

Di Kabupaten Batubara, Iwan Rustandi juga membunuh pacarnya, PF (20), karena hamil 4,5 bulan. Hampir mirip dengan Abdurrahman, Iwan menceburkan PF ke sungai dalam keadaan terikat batu. Ada lagi di Bantul, RA yang masih semester 4 dibunuh oleh Sunarto, juga dalam kondisi hamil. Sisanya googling sendiri saja, saya lelah.

Para perempuan itu bisa hamil tentu karena adanya hubungan seksual yang berhasil mempertemukan sel sperma dengan ovum. Masalahnya, pertemuan sel itu terjadi di luar institusi pernikahan, sesuatu yang masih menjadi persoalan moral dalam masyarakat kita.

Namun, terlepas dari itu, hubungan seksual dilandasi kesepakatan atau persetujuan antara kedua pihak. Artinya, pihak laki-laki dan perempuan seharusnya sama-sama bertanggung jawab atas apapun yang terjadi dari hubungan yang ena-ena itu.

Pihak perempuan sudah bertanggung jawab, karena janin itu bertumbuh kembang di dalam rahimnya. Nah, tinggal para penyemprot sperma yang harus bertanggung jawab.

Dalam perspektif ke-Indonesia-an, salah satu bentuk tanggung jawab dari hubungan suka sama suka adalah menikah. Kalau perkosaan tentu lain lagi ceritanya.

Saya punya banyak teman yang menikah karena si perempuan hamil duluan. Kini, mayoritas dari mereka baik-baik saja, bahkan ada yang punya anak sampai tiga dan terus dikompori agar bisa lima.

Beberapa waktu lalu, saya juga dapat tukang ojek online yang secara terbuka mengatakan bahwa dia menikah karena istrinya hamil duluan. Ia juga bercerita bagaimana harus berjibaku memenuhi segala permintaan istrinya yang sedang ngidam. Dari situ, saya juga berkesimpulan bahwa pernikahan mereka baik-baik saja.

Memang sih, yang kemudian cerai juga ada. Paling mudah ya melihat artis-artis yang jarak waktu antara tanggal pernikahan dan tanggal kelahiran anak pertamanya tidak sampai sembilan bulan, lalu beberapa tahun kemudian berpisah.

Tapi, ngomong-ngomong, para lelaki yang kemudian menikahi perempuan yang dihamilinya sebelum pernikahan adalah pemilik penis – atau yang disebut Eka Kurniawan dalam bukunya ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ sebagai burung – yang bertanggung jawab.

Setidaknya, meski masih dibantu oleh orang tua untuk urusan finansial keluarga, mereka tetap menjadi bapak yang jelas untuk anaknya, sekaligus membuktikan bahwa bukan hanya burung mereka yang mumpuni, tapi juga hatinya.

Tapi sekarang, kita bertemu sosok Sunarto, Iwan Rustandi, Supriadi, dan lain-lainnya termasuk si Abdurrahman yang bahkan seorang guru agama.

Mereka adalah manusia bermutu rendah alias abal-abal, bahkan bisa dibilang tidak bermutu, karena nggak siap dengan perbuatan dirinya dan burungnya, sehingga bertindak di luar nalar seorang pemilik burung yang normal.

Semestinya sudah terbayang jika keluarin sperma di dalam dan perhitungan masa suburnya tidak pas, ya berpotensi menjadi anak. Maka, ketika pemilik burung yang abal-abal itu berargumen “belum siap bertanggung jawab”, saya malah jadi curiga. Jangan-jangan, mereka nggak paham coitus interuptus. Keluarin di luar, kalau istilah kekiniannya.

Jadi sebenarnya, mereka memang nggak mau bertanggung jawab dari awal, tapi ingin mencoba sensasi hubungan seks. Mereka pun tak memiliki pengetahuan yang cukup dalam memahami hubungan seks. Dalam pikirannya yang ada hanya “aku pengen kawin, ya aku kawin”.

Pada saat banyaknya pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun berharap punya anak, para pemilik sekadar burung ini muncul ke publik dengan ulahnya yang mencoba membunuh ibu dari anaknya. Otomatis, itu juga bisa membunuh anaknya yang masih berupa janin. Sesungguhnya, pada titik ini, saya sering merasa bahwa dunia memang tidak adil.

Sederet pembunuhan maupun percobaan pembunuhan itu membuktikan bahwa di negeri ini masih banyak burung-burung yang tidak berguna. Burung yang hanya bisa mengeluarkan sperma, tapi ketika disuruh tanggung jawab malah gelagapan sampai bunuh orang segala.

Sesungguhnya, burung-burung yang tidak berguna seperti itu harus diusir jauh-jauh dari dunia ini. Bahkan, burungnya Ajo Kawir dalam bukunya Eka Kurniawan yang dikisahkan tidak bisa bangun itu, masih lebih layak untuk dilestarikan.

Ngomong-ngomong soal burung, kalian pikir kenapa Dilan menawarkan diri untuk merindu sendiri meski berat? Tentu saja, karena sebenarnya Dilan itu berdua, bersama dengan burungnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN