Ngopi dan Ngeseks Sehormat-hormatnya

Ngopi dan Ngeseks Sehormat-hormatnya

Ilustrasi ngopi (newlovetimes.com)

Agaknya, polisi masih belum paham apa itu konsen/persetujuan. Imbasnya, dalam klarifikasi kedua kali, Kapolri Tito Karnavian masih merasa wajar kalau beberapa korban pemerkosaan ditanya nyaman atau tidak ketika diperkosa.

Tak cuma kepolisian, mungkin kalian juga bingung tentang hubungan seks dengan persetujuan, alias suka sama suka, apalagi di tengah masyarakat yang terbiasa mengglorifikasi penjahat kelamin.

Suka sama suka sebetulnya gampang saja, artinya kedua pihak bersepakat untuk bersenggama, tanpa ada yang merasa dirugikan, ditipu, dibohongi, dibawah tekanan, dipaksa, ataupun dilemahkan.

Suka sama suka adalah ketika kedua pihak memiliki kuasa dan relasi yang setara dalam mengambil keputusan untuk berhubungan seks, tanpa meninggalkan masalah, dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Logika hubungan seks atas dasar suka sama suka sangatlah sederhana, tak berbeda dengan ajakan ngopi.

“Eh, gue mau bikin kopi, nih. Mau, nggak?”

Lalu dijawab dengan sadar dan tanpa paksaan:

“Mau dong!”

Maka jelas ada persetujuan di antara kedua pihak. Selanjutnya, kalian bisa ngopi bareng. Namun, kalau jawabannya:

“Hmmm… Mau nggak ya…”

Maka kamu boleh saja membuatkan dia kopi atau tidak, tapi kamu harus sepenuhnya menyadari bahwa dia belum tentu bakal minum kopi yang sudah kamu buat itu.

Kamu boleh kecewa, tapi ini bagian terpenting. Kalau dia nggak mau minum kopi tersebut, kamu nggak boleh maksa dan nggak boleh marah. Hanya karena kamu udah capek-capek bikin kopi, bukan berarti dia harus minum kopi tersebut.

Atau, bisa juga lawan bicara nggak pengen atau nggak suka kopi, lalu dijawab:

“Nggak deh, makasih.”

Sudah jelas, jangan dibikinin kopi. Jangan juga disindir atau dirundung karena dia nggak ngopi. Jangan terus-terusan dibujuk, jangan dimanipulasi dengan berbagai daya upaya agar dia minum kopi. Jangan dibohongi sampai kemudian dia terjebak dan minum kopi.

Pokoknya, jangan dibikinin kopi. Jangan marah, kalau dia nggak minum kopi. Jangan tersinggung, kalau dia meninggalkan kamu ke ruang lain supaya kamu bisa dengan tenang menikmati kopi. Intinya, jangan diganggu lagi, dia nggak pengen ngopi.

Skenario lain, kamu bertanya:

“Dek, Abang mau bikin kopi, kau mau juga?”

“Boleh, Bang, makasih yah.”

Namun, pas kopinya jadi, ternyata dia berubah pikiran, dan nggak pengen ngopi lagi. Bikin kentang dan ngeselin, udah capek-capek ngegiling biji, manasin air, dan menyeduh kopi, eh tahu-tahu doski nggak pengen.

Tapi, seberapapun ribetnya proses nyeduh kopi yang kamu lalui, dia tetap nggak punya kewajiban untuk minum kopi yang udah kamu bikin. Kamu nggak punya hak untuk maksa dia minum kopi.

Kadang orang berubah pikiran dengan cepat. Sedetik dia mau, lalu detik lain berubah pikiran. Mungkin dia memiliki pertimbangan kedua saat menunggu kamu menyeduh kopi, atau mungkin mood-nya berubah. Adalah lumrah dan wajar saja, jika kita mengubah keputusan.

Ketertarikan seseorang terhadap sesuatu juga bisa naik dan turun seiring berjalannya waktu. Dan, kamu tetap tidak berhak memaksanya untuk minum kopi bikinan kamu.

Skenario lainnya adalah ketika seseorang dalam keadaan tidak sadarkan diri, atau mungkin tidur, padahal kamu pengen ngajak kopi. Mudah saja, jangan dibikinin kopi.

Orang yang tidak sadarkan diri, atau tidur, tidak bisa mendengar pertanyaan kamu, tidak bisa memberi jawaban, dan tidak bisa minum kopi. Yang paling penting, orang yang tidak sadarkan diri, atau sedang tidur, tidak mau minum kopi. Jadi, jangan diganggu.

Oke, katakanlah saat masih sadar dia ngajak ngopi. Tapi saat kamu menjerang air, dia tiba-tiba tidak sadarkan diri, atau mungkin ketiduran.

Kalau kopinya udah terlanjur jadi, tinggalin aja di meja. Selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah memastikan orang yang sedang tidak sadarkan ini aman, dan tidak ada yang mengganggu.

Lalu, yang paling penting, jangan paksa dia minum kopi.

Walaupun sebelumnya dia masih sadar dan sempat bilang mau ngopi, jangan coba menenggakkan cangkir atau termos kopi ke bibirnya.

Juga jangan coba memasukkan kopi ke kerongkongannya dengan menggunakan pipet. Dia sedang tidak sadar, dan orang yang tidak sadar tidak mau minum kopi.

Kemungkinan lain adalah kalian ngopi bareng, tapi dia tidak hendak menghabiskan kopinya. Bisa saja karena kopinya tidak enak atau dia merasa sudah cukup minum kopi.

Apapun alasannya, jangan paksa dia menghabiskan sisa kopi di cangkirnya. Dia punya hak untuk memutuskan seberapa banyak kopi yang mau dia minum.

Skenario lainnya lagi, misalnya pekan lalu dia mau ngopi sama kamu, atau mungkin kalian rutin ngopi bareng. Tapi, berapa kali pun kalian sudah ngopi bareng, bukan berarti dia berkewajiban untuk selalu ngopi sama kamu.

Dan, bukan berarti kamu boleh tiba-tiba muncul di rumah dia untuk ngopi. Tidak berarti pula, kalau dia main ke rumah kamu, kalian harus ngopi.

Kalau dia maunya es kopi cincau tapi kamu cuma punya cappuccino, jangan paksa dia untuk minum cappuccino. Kamu juga nggak berhak menjelek-jelekan pilihannya. Dia nggak berkewajiban minum cappuccino cuma karena kamu doyan kopi jenis itu.

Terus, kalau misalnya dia suka ngopi santai sama orang lain, dengan orang yang berbeda-beda, atau minum kopi bersama teman-teman dalam rombongan, atau bahkan kalau dia sering ngopi sendirian, bukan berarti dia juga harus ngopi santai sama kamu. Tidak ada yang berhak memaksa dia untuk minum kopi bersama.

Kalau kalian menikah dan berkomitmen hanya boleh ngopi dengan satu sama lain, bukan berarti dia harus selalu mau saat kamu ajak ngopi.

Kalau dia lagi nggak mau, kamu nggak boleh maksa dia untuk ngopi, meski kalian adalah suami-istri. Setiap orang punya hak untuk menentukan kapan mau minum kopi.

Hanya karena kalian berbagi kamar, berbagi ranjang, dan selalu tidur bersama setiap malam, bukan berarti kamu boleh menuangkan kopi ke bibirnya saat dia sedang tidur, atau membangunkan dengan paksa untuk minum kopi.

Kamu tidak boleh diam-diam memasukkan kopi ke kerongkongannya menggunakan cara apapun. Sekali lagi, setiap orang berhak menentukan dan menikmati ngopi tanpa tekanan dan paksaan, dan kamu tidak berhak memaksa seseorang untuk ngopi sesuai kemauan kamu.

Oh ya, terakhir, menyogok atau mengancam agar seseorang mau ngopi bareng kamu, bukanlah bentuk persetujuan. Mereka bisa jadi tetap akan ngopi, tapi dengan terpaksa dan tertekan.

Kalau kita dapat dengan mudah melihat betapa absurd dan jahatnya memaksa orang lain, baik dengan kekerasan mental maupun fisik, untuk minum kopi, maka kita seharusnya dapat dengan mudah memahami betapa brengseknya memanipulasi hubungan seks.

Kalau masih bingung, ingat-ingat saja tata cara mengajak ngopi tadi.

Selamat mempraktikkan, saya mau ngopi dulu…