Karena Seks Memang Harus Bebas

Karena Seks Memang Harus Bebas

Ilustrasi sexual consent (Aastha Mittal/indiatimes.com)

Peristiwa sepasang muda-mudi yang diarak bugil karena dituduh bersetubuh bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Ribuan pasangan lain telah diarak bugil dan dipermalukan oleh segelintir warga. Otoritas dan otonomi tubuh diberangus, dijadikan bulan-bulanan di jalanan.

Sementara, ketika perempuan diperkosa atau dipukuli suami hingga dijemput ajal, tak ada warga yang hendak mendobrak rumah tetangganya.

Ketika perempuan melaporkan kejadian pemerkosaan, segelintir warga itu malah berseloroh, “Pakai baju apa? Keluar malam sampai jam berapa? Nongkrongnya di mana?” Ada yang salah dengan prioritas warga dalam mendefinisikan ikut campur.

Bagaimana bisa warga begitu marah pada mereka yang merayakan tubuh, sementara membiarkan pemerkosaan dan pemberangusan otonomi tubuh? Apa yang membuat warga sebegitu beringas?

Lantas, kuasa mana yang berhak mendominasi tubuh, sehingga mereka merasa berhak menelanjangi dan mempermalukan tubuh? Kuasa warga? Negara? Agama?

Asketisme memang sering kali menuntut penyangkalan atas tubuh. Kebutuhan seksual dinegasikan, persetubuhan masuk dalam hitungan dosa. Burukkah tubuh, mengganggu jiwakah ia?

Negara tak mau kalah dalam urusan mengatur tubuh. Negara muncul dengan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi yang mengusung tubuh sebagai bahasan utama. Negara berkeras bahwa tubuh sosial harus diatur agar tak memicu degradasi moral.

Hal itu mengingatkan kita pada abad pertengahan di Eropa yang memenjarakan Sade tanpa diadili, karena menulis Justine dan Juliette yang dinilai erotis. Busukkah tubuh hingga harus ditahan-tahan keberadaannya?

Sebegitu takutnya negara atas otonomi dan otoritas masyarakat atas tubuh, sehingga pada 2012 santer terdengar soal pencanangan pendidikan anti seks bebas oleh Kementerian Pendidikan. Apa itu seks bebas? Bukankah seks harus bebas?

Seks yang tidak bebas namanya pemerkosaan. Sementara seks yang tidak bebas dan berbayar adalah transaksi.

Ambiguitas dari istilah seks bebas ini sering menjadi inti persoalan pemberagusan otonomi tubuh, pemerkosaan atas hak seksual.

Katanya pasangan yang divideokan beberapa waktu lalu tidak sedang berhubungan seks. Kalaupun mereka berhubungan seks, seberapa salahnya sampai harus diarak telanjang?

Sekali lagi, warga tidak pernah begitu marahnya hingga mendobrak dan mengarak pelaku pemerkosaan. Padahal, mana yang lebih salah antara seks yang dilakukan dengan terhormat, atas dasar suka sama suka, dan selesai tanpa masalah, dengan seks dalam pernikahan namun penuh pemerkosaan dan kekerasan?

Atau, dibanding seks dalam pernikahan anak di bawah umur? Seks dalam pernikahan tanpa menggunakan kondom, padahal pasangannya suka membeli jasa pekerja seksual?

Atas nama seks bebas, warga lebih suka memberangus seks yang dilakukan dengan konsen, dibanding tindakan kriminal.

Katanya seks bebas adalah budaya barat yang urakan. Orang barat, katanya lagi, kalau berpakaian lebih terbuka dan kalau berhubungan seks seenaknya saja. Sementara orang timur lebih sopan, tertutup, dan tidak asal berhubungan seks. Padahal, di barat tidak ada istilah seks bebas.

Di luar perdebatan seks bebas, pemerintah Indonesia justru menjamin hak warganya untuk berhubungan seks. Hak atas kerahasiaan pribadi dalam menjalankan kehidupan reproduksi ini tertera dalam rekomendasi 12 hak kesehatan reproduksi dan seksualitas dalam International Conference on Population and Development (ICPD) di Kairo, Mesir, pada 1994, yang juga ditandatangani oleh Indonesia.

Sementara penelanjangan dan pengarakan yang dilakukan warga tak sekadar tindakan kekerasan biasa, tetapi melanggar UU No 7/1984 mengenai pengesahan konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW).

Sama seperti kasus-kasus pemerkosaan yang merupakan masalah relasi kuasa alih-alih libido pemerkosa, penelanjangan adalah unjuk gigi atas relasi kuasa warga dalam bentuk massa. Segelintir warga merasa memiliki kuasa untuk menjatuhkan hukuman terhadap pasangan yang katanya melakukan seks bebas.

Libido warga untuk menelanjangi dan mengarak bisa jadi upaya untuk membuat efek jera bagi mereka yang memiliki nilai-nilai yang tak sesuai dengan keinginan warga. Namun, jika objektifnya adalah memang untuk menghindari seks bebas, tujuan tersebut terbukti tidak pernah berhasil.

Lagipula, sekali lagi, apa itu seks bebas?

Kecurigaan saya adalah bahwa warga sering kali menyamakan seks bebas dengan seks yang tidak bertanggung jawab. Seks yang tidak bertanggung jawab menjadi krusial, lantaran berkaitan dengan otonomi dan otoritas tubuh (termasuk soal konsen), penciptaan manusia baru, serta penyebaran penyakit.

Sementara untuk seks bebas, siapa yang berhak melarang dua orang yang ingin berhubungan seks, jika tidak ada kerugian ditimbulkan? Sejauh mana pelarangan bisa efektif?

Pelarangan tidak pernah menjadi cara yang efektif. Negara-negara bagian di Amerika yang tidak mengajarkan pendidikan seks sama sekali, atau sebatas melarang seks sebelum menikah seperti Texas, mencatatkan jauh lebih banyak kehamilan remaja jika dibandingkan dengan negara bagian yang memiliki pendidikan seks yang komprehensif seperti California.

Angka kehamilan remaja di California turun hingga 74% dalam kurun waktu 24 tahun sejak pemerintahnya berinvestasi pada kurikulum pendidikan seks yang komprehensif.

Seks bertanggung jawab juga dapat menghindari penyakit menular seksual, termasuk HIV dan AIDS. Indonesia termasuk tiga negara dengan kasus HIV dan AIDS tertinggi di Asia dan Pasifik. Padahal, kebanyakan negara lain justru menunjukkan penurunan jumlah kasus.

Mirisnya lagi, jumlah ibu rumah tangga di Indonesia dengan HIV dan AIDS justru lebih tinggi daripada populasi kunci. Populasi kunci yang dimaksud antara lain pekerja seks dan pengguna jasa pekerja seks.

Kalau sudah begini, masih pentingkah ribut-ribut soal seks bebas? Apalagi seks yang tidak bebas justru kerap menjadi sumber petaka bagi perempuan, dalam tameng perkawinan.

Pemerkosaan dalam perkawinan adalah bentuk nyata seks yang tidak bertanggung jawab, karena telah memberangus otonomi dan otoritas pemilik tubuh.

Namun, apakah hal ini termasuk seks bebas? Tentu tidak, sebab itu warga tak hendak marah-marah walaupun tahu seorang istri lebam-lebam habis dipukuli dan diperkosa suaminya semalaman.

Warga dalam jumlah yang banyak memang sering kali merasa berkuasa dan dengan mudah melegitimasi kesewenang-wenangan. Padahal, mereka cuma cemas karena dunia tidak selalu sejalan dengan keinginan mereka.

  • KanranSei

    Uuuu sukak ;___; this is so on point

  • Anisa Isti

    Ini kok menarik ya tulisannya

  • Galang Adhi Wirasto

    Konten Voxpop selalu bagus dan menginspirasi, bakal jadi pembaca tetap nih.

  • Lucky Haryadi

    brace yourself, sebentar lagi ahli agama ada yang berkomentar ;D

    • Jangankan di sini, di artikelnya.

      Saya cuma share di wall FB aja kedatengan ‘sanctimonious people’ kok.

      • kino

        kalau bilang seks bebas, pemerkosaan juga seks bebas. seks itu harus bertanggung jawab, bukan bebas!!

  • Iwan Wijoyo

    Ya namanya sudah modern ya… Bebas2 aja ya… Kayak misal si penulis bersenggama dengab bapaknya sendiri ya bebas2 aja kan…. Sepanjang suka sama suka….

    • Rika Nova

      Halo Iwan, tidak hanya salah dalam hukum positif dan agama, incest juga tidak baik dari sisi biologi karena dapat mempersempit gene pool.

  • cimpro dot

    ooh, Bebas, memanglah kafir.

  • Faishal Ical Muafiqi

    masyarakat bebas menilai karena masyarakat adalah akar dari segala peraturan, mereka menghakimi karena itu salah..kita punya adat, kita punya moralitas, dan kita punya agama…jangan kemudian memunculkan teori baru “semakin modern seseorang maka hidupnya semakin primitif.” saya setuju dengan iwan wijoyo. get free get anything!

    • Rika Nova

      Hi Faishal, betul sekali, kita punya hukum yang berlaku. Hukum positif di Indonesia tidak melarang persenggamaan, bahkan melindungi kerahasiaan hubungan pribadi seseorang. Sementara agama adalah hubungan personal dengan tuhan, tidak ada satupun orang yg berhak menuding-nuding orang lain, apalagi sampai mengarak bugil, lantaran nilai-nilai yang mereka percaya. Apalagi tidak semua agama punya nilai yg sama, tidak semua orang percaya nilai yg sama. Lalu, pada saat yang sama, jika bicara moral, ke mana moral warga saat ada perempuan diperkosa, atau saat ada pejabat korupsi?

    • Mas wawan

      Masyarakat bebas menilai, iya stuju. Tp masyarakat tidak boleh bebas menghakimi. Tragedi cikupa belum seberapa, bnyak tragedi2 lain yg lebih parah dikarenakan masyarakat bebas menghakimi, bahkan bisa sampai kehilangan nyawa. Menghakimi orng yg melanggar norma dgn cara “melanggar norma yg lebih keji lg” ???. Untuk mnghakimi seseorang perlu prosedur yg seadil adilnya.
      Kita punya norma agama iya betul. Meninggalkan sholat melanggar norma agama, trus kita hukum?
      Mninggalkan puasa melanggal norma agama, trus kita paksa dia puasa?
      Masalah keimanan, itu msalah manusia dgn tuhan.

  • Iwan Wijoyo

    Iya… Namanya modern ya bebas mau ngapain… Apalagi kalau misal nih si penulis punya anak cewek… Trus bersenggama rame2 dengan teman cowok prianya di sekolah (aamiiinnnn)… Sepanjang sama2 menikmati tubuh dan Selama suka sama suka ya bebas bebas aja keles….
    #kanpermisalanaja

    • Rika Nova

      Halo Iwan, setiap orang berhak memutuskan seks seperti apa yang mereka butuhkan. Hanya saja dalam setiap keputusan harus ada baseline can kesadaran yang jelas. Misalnya saja, seks dengan banyak partner memiliki efek yang sangat buruk terhadap kesehatan mental dan dapat menimbulkan depresi.

    • Aisha Kusumasomantri

      Wah, Mas Iwan yang konon lebih cabul ternyata malah mendoakan dan mengamini sesuatu yang Mas Iwan sendiri anggap cabul ya. Apalagi yg didoakan anak sekolah yang notabenenya masih di bawah umur. Mbok ya doa itu dipakai buat hal yang baik2 Mas, bukan mendiskreditkan dan nyumpahin orang yang bersebrangan pendapat dengan Mas ☺️

    • Acto Rensia

      kiranya kita semua memaklumi mas Iwan “keles” ini, dia hanyalah 1 dari segelintir orang2 yang berpola pikiran sama dengan pak rt dan orang2 yang menelanjangi wanita (yang belom tentu salah) di depan banyak orang, karena mas Iwan ini menganggap lebih baik menelanjangi orang lain di tempat umum dibanding melakukan seks “bebas” yang di maksud di artikel di atas. Ada baiknya jg kita sama2 mari mendoakan agar mas Iwan ini lebih bisa mencerna sisi positif dari sebuah artikel. Dan terakhir, mari kita bersama2 membelikan kondom sebanyak banyaknya kepada mas Iwan ini agar tidak bisa berkembang biak dan berakibat menurunkan pola pikirnya ke anak cucunya, keles…… #bukanpermisalan

  • Muhammad Nurjihadi

    Banyak sekali yang bisa kita kritisi dari tulisan ini. Tapi dari semua yg ingin saya sampaikan, intinya adalah pola pikir penulis salah total. Bacaannya sebelah pihak, tulisannya didikte oleh kebencian terhadap ajaran tertentu, dan tentu penulisnya kurang baca…

    • Rika Nova

      Halo Nurjihadi, di mana kebencian terletak dalam tulisan ini?

    • di mana kebencian terletak dalam tulisan ini? [2]

  • kino

    ketika pemikiran modern, saking modern-nya kembali menjadi primitif. gw mau melontarkan candaan seksis buat menanggapi artikel ini, cuma ntar takut penulisnya menjadi misandris karena candaan yg gw lontarkan.

    • Rika Nova

      Hi Kino, misandry isn’t a real thing. Men have been systemically oppressing women throughout history and have been making jokes, insults, and laws that work against women without ever asking our opinion. Even today, men are systemically oppressing women and non-male identifying people, often unknowingly; yet, they still think it’s okay to claim “misandry” when a women is critical of their actions. As if centuries of oppression and forced submission is equivalent to a few jokes about “male tears.” However, prejudice against men might happen. Hope this help you to understand!

    • Rika Nova

      Hai Kino, misandry adalah terminologi yang ahistoris dan tidak kontekstual. Terminologi misoginis muncul dan opresi sistematis yang dilakukan terhadap perempuan melalui candaan, ejekan, hingga hukum. Semua itu terjadi lantaran sistem tidak melibatkan perempuan dalam mengambil keputusan dan hanya mempercayai opini laki-laki. Sementara opresi sistematis tidak terjadi kepada laki-laki. Sebab itu misandry bukanlah terminologi yang tepat. Namun, prasangka buruk yang dilakukan oleh perempuan terhadap laki-laki sangat mungkin bisa terjadi. Semoga penjelasan ini bisa membantu!

      • kino

        yang membuat seks bebas menjadi nikmat adalah karena hal tersebut adalah hal yang bertentangan dengan norma sosial kita selama ini. seks bebas menjadi sebuah tantangan dan ketika melakukannya seperti kita melangkahi norma itu sehingga menjadi kenikmatan tersendiri. coba bayangkan ketika seks bebas menjadi hal biasa, orang-orang akan mencari norma atau batasan lain untuk ditabrak. kalau soal misandris coba aja lihat pergerakan feminis di luar negeri karena yg mengaku feminis sangat banyak, sehingga tingkat kecerdasan feminis bervariasi. menghasilkan kaum feminis dengan iq rendah yang perilakunya tidak ada beda dengan yang kalian sebut bani daster atau lawannya, para kecebong.

        • Rika Nova

          Hi Kino, apabila kamu sudah membaca artikel ini dengan baik dan dengan kepala dingin, maka kamu akan memahami bahwa seks bebas adalah terminologi yang sumir. Sebab itu lebih penting untuk memahami apa itu seks yang bertanggung jawab dan seks yang tidak bertanggung jawab melalui pendidikan seks yang komprehensif.

          Sementara itu, inti sederhana dari feminisme adalah mengakui bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara, keduanya memiliki hak yang sama atas otoritas tubuh mereka masing-masing, hak sebagai warga negara, hak untuk mendapatkan akses terhadap pendidikan, hak untuk hidup, serta hak-hak lainnya. Feminisme tidak bisa digunakan untuk mengukur tingkat intelektualitas seseorang ataupun sekelompok orang.

          Di mana saya pernah menggunakan terminologi bani daster dan kecebong?

        • Aditya

          “yang membuat seks bebas menjadi nikmat adalah karena hal tersebut adalah hal yang bertentangan dengan norma sosial kita selama ini. seks bebas menjadi sebuah tantangan dan ketika melakukannya seperti kita melangkahi norma itu sehingga menjadi kenikmatan tersendiri.”

          Dari kutipan kino diatas mungkin bisa saya simpulkan bahwa mereka yang menikmati seks hanya mereka yang berani menabrak norma. Jadi pasangan menikah tidak pernah menikmati hubungan seks mereka karena mereka tidak melanggar norma?

          Lalu warga cikupa pelaku main hakim sendiri juga menikmati menelanjangi wanita yang dituduh melakukan seks bebas, karena para warga tersebut menabrak norma?

          Bagaimana dengan para warga yg membakar lelaki yg dituduh mencuri speaker masjid? Mereka juga melanggar norma apakah mereka menikmati juga?

          • kino

            Pasangan yang sudah menikah awalnya menikmati, tapi beberapa tahun kemudian si suami minta poligami karena tidak puas dengan si istri atau salah satu pasangan, si istri atau suami selingkuh…..

            warga yang main hakim sendiri walaupun kalau ditanya pasti gak bakalan ngaku, gw yakin yg ngebakar atau nyiram besin pasti ada rasa puas atau nikmat, merasa menjadi hakim atau tuhan bagi yang dituduh maling…..

          • Rika Nova

            Dalam Uji Materil tentang UU perkawinan, di hadapan Mahkamah Konstitusi, Kementerian Agama pernah menyatakan jumlah perceraian akibat poligami meningkat setiap tahunnya. Sementara dalam survei yang dilakukan oleh LSI, 85% pemuda muslim justru menyatakan menolak poligami. Saya kira poligami bukan dianjurkan sebagai sarana pemenuhan seks, pada mulanya adalah sikap perlindungan terhadap perempuan pada konteks masa tersebut.

      • Lian Balki

        jadi mengejek laki2 itu tidak masalah bahkan tidak dianggap misandris, sementara mengejek perempuan itu buruk, seksis dan misoginis?

        pfftt tipikal feminis situasional, dan ya pantesan ada orang menggangap third wave feminism itu adalah kesalahan atau bullshit semata

        • rika nova

          tentu saja mengejek adalah salah, yg menjadi perbedaan adalah ada atau tidaknya opresi sistemik.

  • Aisha Kusumasomantri

    Thank you for writing this! Ini menggambarkan sebagian besar kecemasan saya sebagai perempuan Indonesia. Tentunya banyak laki2 misoginis yang tidak setuju dengan artikel ini (kelihatan dari komentar2 yang malah mengejek tapi tidak konstruktif), tapi mudah2an ini bisa jadi sarana untuk mengedukasi orang banyak mengenai isu konsen dan otoritas tubuh.

  • Alhana Ali

    Sudahlah…! Opini setiap orang memang berbeda” tapi saya pun tidak 100% setuju bahkan mungkin 50%. Tapi seharusnya janganlah kita saling menghujat apalagi melantunkan ancaman melalui doa. Yang terpenting adalah kita bersama tahu bahwa kejadian yg dilakukan oleh segelintir warga kemaren adalah salah pun tak patut dicontoh dan juga perilaku yg dilakukan sepasang muda mudi kemaren juga sangat salah dan ilegal menurut norma agama (islam). Mengenai semisal kebungkaman para warga terhadap KDRT, mungkin warga merasa dilema, dan menurut saya para warga yg menyaksikan kejadian KDRT tersebut juga sudah ingkar (menganggap salah) terhadap kejadian tersebut,dan juga kita tdk bisa menyalahkan kebungkaman tersebut, karena menurut dan sesuai hadits Nabi Muhammad SAW, ingkar terhadap kemungkaran (sebuah maksiat) terbagi menjadi 3 yaitu ingkar dengan wujud suatu prilaku, ingkar dengan wujud suatu ucapan, dan ingkar dengan wujud mengakui “bahwa hal tersebut adalah sebuah dosa” didalam hati. Semoga bisa menjadikan pelajaran bagi kita semua.

  • Masslon Ambarita

    ada banyak perdebatan dalam diskusi ini, meski hanya beberapa yang layak dibahas. menurut saya ini hanya masalah sudut pandang. saya tidak menyalahkan orang yang berpikir liberal mengenai seks, namun saya juga memaklumi orang-orang yang masih berpikir konservatif soal seks( asalkan sudut pandangnya dibangun dengan logika berfikir rasional). intinya sebenarnya adalah apa posisi negara dan masyarakat dalam hal seks bebas? apakah mereka polisi agama, polisi moral? apakah kehidupan seks orang lain urusanmu? menurut saya kehidupan seks orang dewasa adalah murni haknya. bukankah kita otonom atas diri kita sendiri? sisanya, urusi saja kelamin anda sendiri…salut buat tulisan-tulisannya mbak rika.

  • Valentino Dimas Aditya

    Please note bahwa “seks bebas” atau “free sex” itu hanya ditemukan di Indonesia dan negara-negara relijius terbelakang lainnya. Orang-orang relijius dan para pemuka agama sengaja memasukkan istilah ini untuk memasukkan “incest, perselingkuhan, seks tidak aman, perkosaan” ke dalam satu kategori yang sama dengan “seks suka sama suka dengan aman dan bertanggung jawab” agar bisa dengan lebih mudah diserang. Iya, serang aja strawmannya: seks bebas.

    Lihat saja di kolom komentar banyak ideot yang posting “berarti penulis tidak keberatan ya bersenggama dengan bapaknya sendiri?” “berarti kalo punya anak cewe ga keberatan ya digangbang rame-rame?”

    Mereka cuman tahu seks itu ya dalam pernikahan dan yang tidak dalam pernikahan. Bedanya bagi mereka cuma selembar surat. Gak tahu apa esensi dari seks (bahkan courting). Makanya efeknya gede banget: Mereka gak bakal paham ada yang namanya perkosaan dalam pernikahan ataupun bagaimana pernikahan transaksional bakal memberatkan perempuan ketika bercerai.

    Mereka ga paham apa itu seks, dan dengan bantuan reliji menyatukan apa itu seks suka sama suka dengan seks-seks lain yang apparently sebuah sexual offense menjadi satu kategori: seks bebas. Lalu memasukkan moral high horsenya untuk menilai itu.

  • insan

    Aku lebih menyoroti wacana femenisme di Indonesia. Setidaknya yang sering mengerucut dalam bentuk artikel-artikel, salahsatunya yang ditulis oleh Mbak riska.

    Aku samasekali tidak meragukan tujuan dari political correctness, sopan santun politik. soal patriarki, timpangnya relasi kuasa dll,

    Namun visi dari political correctness itu mencemaskanku: di mana semua orang berpotensi menjadi korban. Aku menatapmu selama dua menit, bisa dicap sebagai pelecehan seksual.

    Subjek, seolah-olah tidak memiliki pilihan lain selain menjadi korban. Tantangan ke depan adalah bagaimana mewacananakan apa yang menjadi kekhawatiran Mbak Riska, barangkali juga kecemasan kita semua yang terlibat dalam diskusi ini, untuk berlatih sabar dalam “menyadarkan”. Patriarki, misalnya. Itu bukan semacam sakit kepala yang bisa sembuh dengan minum Aspirin.

    Patriarki itu nilai-nilai laten yang membesarkan kita, barangkali kita semua juga begitu. Dan butuh lebih dari sekedar tulisan propaganda kalau mau serius mengikis apa yang kita sebut menjadi biang keladi bagi perempuan khususnya itu. Demikian, Mbak.

    Salam hangat dari saya, di Padang 🙂

    • rika nova

      Sepakat, dan hal tersebut sudah banyak dilakukan oleh teman-teman gerakan perempuan. Mungkin bisa bertanya/ bergabung/ berdiskusi langsung karena secara profesi saya tidak terlibat dengan gerakan perempuan.

      Propaganda atau bukan, tulisan-tulisan ringan semacam ini tetap penting untuk memulai pembicaraan karena banyak orang menghindari percakapan rasional terkait persoalan ini, termasuk wacana soal korban. Misalnya saja, ketika perempuan mengalami pelecehan di bus, banyak dari mereka yg justru khawatir melapor karena malu lantaran viktimisasi terhadap korban. sebab itu wacana empowering korban juga perlu terutama di masyarakat yang masih menyalahkan korban.

      Bagaimana dengan kelompok masyarakat lain yang lebih menghormati korban dan menjunjung konsen? Wacananya bukan soal menjadi korban, tapi soal kesadaran bahwa orang lain memiliki otonomi dan otoritas terhadap tubuhnya, sehingga tidak ada yg berhak merampas hak tersebut. Dalam hal ini, menatap lama sampai dua menit adalah salah karena membuat si pemiliki tubuh menjadi tidak nyaman. Kalau sampai menjadi korban pun mereka tidak malu, karena tidak ada penghakiman terhadap korban.