Seks Menyenangkan Tanpa Balas Dendam

Seks Menyenangkan Tanpa Balas Dendam

Ilustrasi (R.A. Di Ieso/vocativ.com)

Bagaimana semestinya kita bersikap saat terjadi kasus kekerasan seksual? Kepada siapakah kita mesti berpihak? Jawaban paling mudah tentu korban, tapi korban yang seperti apa? Apakah semua korban punya posisi setara di depan hukum?

Seringkali jawaban dari pertanyaan retoris ini mudah dikenali. Jika kamu pendamping korban kekerasan seksual, pasti tahu bagaimana aparatus hukum bekerja. Sistem yang ada demikian merendahkan dan tidak berpihak kepada korban.

Bukan apa-apa, korban kekerasan seksual seperti pemerkosaan atau pelecehan seksual kerap mengalami pelecehan ganda.

Mereka harus mengulangi lagi tragedi yang mereka alami saat melapor dan kerap kali aparat hukum tidak punya sensitivitas dalam menangani kasus tersebut.

Salah satu kasus kekerasan seksual yang bisa dijadikan contoh untuk memahami bagaimana buruknya keberpihakan kita terhadap korban adalah kasus revenge porn.

Revenge porn adalah tindakan mempublikasikan konten seksual seseorang yang dilakukan mitra atau mantan kekasih tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.

Dalam kasus lain, revenge porn bisa dilakukan oleh orang yang memang berniat melakukan pencemaran nama baik atau merusak citra pihak lain.

Salah satu contoh kasus yang sempat terkenal di Indonesia adalah kasus Ariel eks Peterpan dan anggota DPR Yahya Zaini. Dua kasus ini menarik, karena pihak yang kemudian mengalami kerusakan citra paling berat adalah pihak laki-laki.

Lho, memang bagaimana biasanya?

Dalam kasus revenge porn, pihak yang paling sering dirugikan adalah perempuan. Revenge porn banyak dilakukan oleh mantan kekasih (atau pihak ketiga) yang berusaha menjatuhkan citra si perempuan tadi melalui penyebaran video porno.

Sepanjang 2016, Revenge Porn Helpline, lembaga nirlaba yang fokus pada isu ini, menerima 3.700 laporan terkait revenge porn. Laporan mereka menyebutkan 80% pihak yang mengadukan kasus revenge porn adalah perempuan.

Apakah revenge porn hanya berakhir dengan diunggahnya video porno?

Temuan lain yang mengejutkan adalah korban biasanya diperas atau diancam sebelum video pornonya diunggah. Para korban juga mengalami sextortion, pemerasan juga ancaman kekerasan.

Sebanyak 1 dari 10 kasus revenge porn berujung pada sextortion dan 60% dari kasus sextortion berujung pada kekerasan. Di sini, pihak perempuan tidak hanya mengalami kekerasan mental, tetapi juga fisik.

Pada 2015, Cyber Civil Rights Initiative di Amerika Serikat mewawancarai 1.606 responden dari usia 18-30 tahun dalam rangka mengetahui latar belakang revenge porn. Diketahui bahwa 61% pasangan yang diwawancarai mengaku pernah mengambil foto atau video telanjang bersama pasangannya.

Dari angka itu, 23% responden mengaku pernah diancam dengan revenge porn saat berpisah dengan pasangannya. Pertanyaannya kemudian, kalau memang tak ingin jadi korban revenge porn, kenapa bikin video bersama?

Pada 2014, Cosmopolitan melakukan survei yang melibatkan 850 pembacanya, sekitar 99% dari mereka berusia 20 tahunan. Hasilnya, 99% dari mereka pernah mengambil foto telanjang, baik sendiri maupun bersama pasangan.

Dari data itu diketahui 82% dari mereka mengaku tidak menyesal mengambil foto itu dan bersedia mengambil lagi. Catatan menarik dari redaksi Cosmopolitan menyebut bahwa 91% peserta riset tak pernah menyebarkan fotonya ke orang lain.

Pihak Cosmopolitan kemudian mengembangkan riset tersebut menjadi wawancara. Perempuan yang menyebarkan foto bugilnya menyebut bahwa ia percaya bahwa pacarnya adalah orang yang bisa dipercaya. Ingat, bisa dipercaya. Dengan begitu, memberinya foto telanjang merupakan bumbu asmara.

Ia percaya bahwa pasangannya memahami apa itu consent dan cukup dewasa untuk tidak menyebarkan apa yang telah ia bagi.

McAfee, firma perangkat lunak yang bergerak dalam perlindungan digital, juga pernah merilis data tentang perilaku pengguna ponsel di Amerika Serikat pada 2014.

Sekitar 54% orang di Amerika mengirimkan pesan bernuansa seks, foto, atau video telanjang kepada pasangannya. Fenomena ini ditemukan pada kelompok usia 18-24 tahun.

Apakah semua orang itu kemudian menjadi korban revenge porn? Ternyata tidak, kasus revenge porn terjadi pada orang-orang bermasalah yang ingin menyakiti pihak lain yang dianggapnya bersalah. Artinya, ada orang yang membagi foto dan video telanjang tanpa jadi korban revenge porn.

Pada tahun yang sama, Pew Research Centre merilis data bahwa perilaku sexting meningkatkan intensitas pembagian foto dan video telanjang via ponsel. Hal ini ditemukan sangat tinggi pada usia 25-34 tahun di Amerika.

Realitas ini menunjukkan aktivitas seks dan teknologi punya kedekatan, tapi hanya orang-orang brengsek saja yang kemudian menyebarkan percakapan pribadi kepada khalayak untuk menjatuhkan seseorang (iya, termasuk simpati untuk si beib).

Dalam relasi personal atau hubungan romantis, seks adalah peristiwa yang menyenangkan, kunci dari kegiatan ini adalah consent.

Kesepakatan dua orang dewasa yang percaya bahwa pihak satu sama lain melindungi privasi, menghormati hak rekan, dan yang paling penting mampu menjaga kepercayaan.

Sama seperti seseorang curhat kepadamu, ia percaya kamu bisa menjaga kepercayaan, dan semestinya kamu berkomitmen pada janji itu. Bukannya malah berkata, “Siapa suruh ngomong sama saya? Saya kan manusia, kalo bocor ke orang lain ya bukan salah saya.”

Dampak buruk dari revenge porn punya lapisan yang berbeda. Cyber Civil Rights Initiative menyebut bahwa korban revenge porn mengalami kondisi emosi yang tidak stabil. Sebanyak 82% mengalami disfungsi di kehidupan sosial dan 39% mengaku kehidupan profesionalnya hancur.

Di beberapa kasus ekstrem, korban sampai memutuskan untuk bunuh diri, sementara yang beruntung melepaskan diri dari masa lalunya dan pindah dengan identitas baru.

Dalam riset lain yang dilakukan Cyber Civil Rights Initiative pada Agustus 2012 sampai Desember 2013 diketahui, sebanyak 90% korban revenge porn adalah perempuan. Dan, sebanyak 93% korban revenge porn mengalami depresi karena menjadi korban.

Dari angka itu, sebanyak 49% di antaranya mengaku mereka telah diganggu dan dirisak secara online oleh mereka yang melihat video pornonya.

Pertanyaannya kemudian, apakah semua revenge porn secara sadar mengambil video mereka dengan consent atau persetujuan? Ternyata tidak.

Bentuk revenge porn ada beragam. Misalnya, dua orang yang memang secara sadar mengambil video untuk konsumsi pribadi. Namun, saat dua pihak ini berseteru, lantas video disebarkan sebagai balas dendam.

Bentuk lainnya adalah mengambil rekaman video tanpa izin, seperti menaruh kamera tersembunyi di kamar mandi atau kamar tidur yang disewa.

Ada juga yang paling mengerikan, saat korbannya adalah anak-anak dimana mereka belum paham apa itu consent dan videonya disebarkan tanpa pemahaman apa yang ia lakukan itu sangat berbahaya.

Tentu sikap hati-hati perlu. Banyak sekali gerakan yang menganjurkan, menyerukan, dan mengadvokasi untuk tidak bugil di depan kamera.

Dari sekian banyak kasus yang dilakukan sebagian besar korban adalah perempuan. Apakah laki-laki tidak dirugikan? Ya dirugikan, seorang korban revenge porn yang kemudian bunuh diri adalah Tyler Clementi.

Rekan sekamarnya merekam aktivitas Tyler bersama seorang lelaki di kamar tanpa persetujuan, lantas menyebarkan kembali video itu ke internet. Dalam rekaman tersebut Tyler yang merasa malu karena videonya mencium laki-laki lantas bunuh diri.

Bagaimana masyarakat memperlakukan korban kekerasan seksual antara laki-laki dan perempuan bisa sangat tidak adil.

Tentu kalau kamu bertanya kepada orang di jalan, apa hukuman paling baik untuk pemerkosa? Hukuman mati bisa jadi pilihan paling utama.

Tapi, pada praktiknya, banyak orang yang memilih untuk tidak melakukan itu. Ada banyak kasus dimana keluarga korban lebih memilih menikahkan anaknya dengan pelaku pemerkosaan untuk menyimpan aib.

Dalam peradaban yang merendahkan korban, dalam hal ini kebanyakan perempuan, maka keberpihakan adalah hal yang perlu dijelaskan sejak awal. Kamu mau membela penjahat atau korban?

Kamu tak bisa berkata bahwa seseorang menjadi korban revenge porn karena ia memang bodoh pada mulanya mau direkam. Ini seperti menyalahkan seseorang yang bercerai karena mau-maunya menikah.

Komitmen untuk menjaga privasi satu sama lain, hak yang lain, serta kepercayaan yang lain adalah kunci penting. Revenge porn bukan soal kebodohan, tapi tentang orang yang kepercayaannya dikhianati dengan niat jahat.

Jika kamu menganggap bahwa setiap orang adalah penipu sampai terbukti sebaliknya, sebaiknya kamu hidup di hutan saja…