Sekali Lagi, Jangan Salahkan Kami Kalau Liburan Lebih Penting dari Pilkada

Sekali Lagi, Jangan Salahkan Kami Kalau Liburan Lebih Penting dari Pilkada

Tanggal 9 Desember ini bakal ada pilkada serentak di 269 daerah di Tanah Air. Rasanya kok senang betul. Senang karena ada libur nasional, bukan pilkadanya. Bagaimana tidak senang? Baru saja wiken, tapi mau libur lagi.

Maklum, bagi mahasiswa rantau seperti saya dan teman-teman saya yang kuliah di Universitas Brawijaya, Malang, hari libur itu penting. Biasanya, bagi mahasiswa, kalau ada libur nasional akan terjadi negosiasi hati. Mau bolos seminggu atau pulang hanya demi pilkada. Ah, pilkada tak sepenting liburan.

Lho iya, mau pilkada serentak atau nggak serentak, lima tahun atau setiap tahun, nggak ada bedanya. Nasib rakyat biasa nggak banyak berubah. Yang banyak berubah ya yang jadi bupati, walikota, atau gubernur. Duit mereka nambah. Kita? Nggak pernah lepas dari utang. Selalu ada dan berlipat ganda.

Sudahlah, berhenti berharap kalau kata Sheila On 7. Pupus kalau kata Dewa 19. Bagi rakyat biasa, kebijakan bupati, walikota, atau gubernur tak semuanya bermanfaat. Malah makin meresahkan.

Yang paling dekat adalah soal lingkungan. Saya bukan aktivis pro-lingkungan yang sok-sokan menjaga lingkungan, padahal tiap hari mengeluarkan polusi udara lewat asap motor. Tapi saya sebel dengan kebijakan pemerintah yang menggusur daerah hijau dan disulap menjadi kawasan industri.

Misalnya saja di Gresik, kampung halaman saya. Kalau anda pernah ke Gresik dan melewati jalur Pantura, pasti akan melewati daerah Manyar. Kalian akan mengira itu gurun di Jazirah Arab yang penuh debu. Bukan, itu bukan Arab, apalagi Bukit Tursina. Itu Gresik. Kabupaten seribu industri. Itu sudah berlangsung sejak lama. Dan, belum ada perubahan.

Kami tidak butuh manusia setengah dewa untuk perubahan. Kami hanya butuh cucu Adam sebagai pemimpin daerah yang amanah. Tapi rasanya sulit betul. Yang ada kaki tangan Lucifer berbalut sutera, seolah amanah tapi nyatanya khianat.

 

Jangan salahkan kami menerima uang kampanye, tapi ujung-ujungnya perolehan suara rendah. Karena kami butuh uang untuk makan daripada pemimpin yang gemar menyuap.

Bukan, kami bukan skeptis yang memandang dunia ini serba pesimis. Kami tentu ingin perubahan. Sangat sekali ingin perubahan. Cuma masalahnya selama ini selalu disuguhi akting-akting jamuran mirip nasi raskin yang sudah basi tiga hari.

Siapa lagi yang bisa diandalkan melalui pilkada serentak ini? Bagi saya, pilkada tak lebih dari fatamorgana. Tampak indah, tapi penuh aksi tipu, lobi, dan upeti. Wow jagonya.

Saya pun tak bisa membayangkan, jika pembicaraan semua calon kepala daerah direkam. Pasti lebih geger dari rekaman Setya Novanto. Jangankan papa minta saham, papa minta istri lagi juga ada.

Bagi kami lebih baik liburan daripada ikut pilkada. Biarlah Indonesia selalu tercatat sebagai negara dengan jumlah hari libur nasional terbanyak di dunia. Bahkan ada yang bilang, kalau semua hari libur ditotal termasuk Sabtu-Minggu dan kejepit nasional, jumlahnya mencapai 4 bulan!

Libur terlalu banyak memang berdampak pada produktivitas dan stabilitas industri. Nah, siapa tahu itu bisa menjadi cara alami supaya debu-debu industri di Gresik berkurang, syukur-syukur minggat. Pak Jokowi, bagaimana kalau hari libur nasional ditambah lebih banyak lagi? Setuju sodara-sodara?

Foto: mazumausa.com