Sekali-kali Pilih Pahlawan yang ‘Anti-Hero’

Sekali-kali Pilih Pahlawan yang ‘Anti-Hero’

Ilustrasi (pcgamesn.com)

Bagi yang akrab dengan komik-komik DC maupun Marvel atau beberapa film Hollywood, wujud hero (pahlawan) hadir dalam berbagai bentuk dan rupa. Lengkap dengan kostum misterius untuk menyamarkan identitas yang sebenarnya.

Para hero itu tampak seperti jagoan, baik, jujur, ganteng, cantik, rendah hati, dan tidak sombong. Bisa jadi juga rajin menabung.

Pokoknya di otak anak TK sampai aki-aki, hero – bukan promosi supermarket – merupakan sosok protagonis nan sempurna penolong umat manusia. Sudah mainstream banget.

Tapi saya tidak akan membahas fenomena hiperealitas yang lahir dari medium televisi ataupun cerita fiksi komik superhero. Tapi yang menarik adalah konsep anti-hero yang ada di dalamnya.

Pernah dengar anti-hero? Sekilas tampak seperti sosok antagonis atau kebalikan dari hero. Berarti anti-hero itu lawannya hero? Tunggu dulu. Anti-hero sebenarnya juga sosok protagonis. Nah!

Hero itu digambarkan sosok yang ideal. Kalau anti-hero tampak berangasan, ceplas-ceplos, nyentrik, slengean, tak jarang tampil seperti berandalan. Tapi mereka juga pahlawan.

Sosok anti-hero sebenarnya sudah diperkenalkan lewat karya-karya penulis dan novelis semacam Franz Kafka. Ataupun bagi penyuka novel karya Albert Camus dan Jean Paul Sartre, sosok anti-hero bisa kita temukan.

Dalam perkembangannya bahkan sosok anti-hero kerap hadir sebagai tokoh utama dalam berbagai film, serial, komik, maupun novel. Namun tak jarang nasib tragis tak lepas dari kehidupan mereka.

Bagi saya, anti-hero itu adalah pahlawan sebenarnya, karena realistis dan tanpa basa basi. Tak seperti hero atau bahkan superhero di film atau komik yang hiperealitas alias lebay.

Nah, berhubung masih hangat Hari Pahlawan 10 November, saya melihat sosok anti-hero ada pada almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Mantan Presiden RI itu berani tampil apa adanya, bicara apa adanya, namun dengan segudang pengalaman dan ketinggian ilmu.

Gus Dur adalah pahlawan sebenarnya. Anti-hero terbaik yang dimiliki bangsa ini. Lupakan dulu NU dan Muhammadiyah, keberpihakan Gus Dur kepada rakyat sangat jelas.

Beliau menggerakkan Indonesia menjadi negara yang lebih manusiawi dan menjunjung tinggi kemajemukan (pluralisme).

Negara tidak perlu ragu memberikan gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur. Berita yang beredar belakangan ini sangat miris sekali, karena pemberian gelar itu ditunda-tunda atau bahkan diendapkan.

Jangan sampai karena usulan pemberian gelar pahlawan nasional itu berbarengan sama Soeharto jadinya tertunda. Sudahlah lupakan Soeharto. Gitu aja kok repot…