Sehelai Kelambu Tak Cukup Membendung Nafsu. Imanku Setipis Kelambu

Sehelai Kelambu Tak Cukup Membendung Nafsu. Imanku Setipis Kelambu

Foto ilustrasi: Warteg di Majalengka. Foto bukan di bulan puasa. Sumber: jabar.tribunews.com.

Dear… Satpol PP Kota Serang.

Perkenalkan, saya pelanggan setia Warung Tegal (Warteg). Bapak-bapak tentu tahu bagaimana Warteg begitu menjamur di seantero negeri. Warung makan rakyat jelata ini bahkan bersaing ketat dengan Warung Padang. Jejak kehadirannya terlacak sejak tahun 1950-an, jauh sebelum Orde Baru berkuasa.

Warteg adalah penyelamat bagi orang-orang yang hidup jauh dari rumah. Teman setia mahasiswa perantauan yang uang sakunya pas-pasan. Mahasiswa yang bisa saja kelak menjadi walikota Serang, atau gubernur Banten, atau presiden Republik Indonesia. Nggak percaya?

Waktu pak Jokowi masih menjadi gubernur DKI Jakarta, blio sering makan di Warteg, usai shalat Jumat di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Bukan cuma itu, pak Jokowi bersama bu Megawati Soekarnoputri juga pernah makan di Warteg, dekat SMA 21 Jakarta Timur, usai berkunjung ke salah satu waduk.

Bagaimana bu menu lele, sayur pare, dan tempenya? “Sedap!” ujar bu Mega. Kata pak Jokowi, ibu sampai nambah dua kali? “Satu kali!” Ah, bu Mega menyangkal. Tapi mantan presiden RI itu bilang, “Salah kalau saya dibilang nggak pernah makan di Warteg. Dari dulu saya makan di Warteg.”

Foto ilustrasi: Jokowi usai shalat Jumat di Masjid Sunda Kelapa. Foto ini bukan di bulan puasa. Sumber: kaskus.
Foto ilustrasi: Jokowi usai shalat Jumat di Masjid Sunda Kelapa. Foto ini bukan di bulan puasa. Sumber: kaskus.

Bapak-bapak Satpol PP Kota Serang pernah makan di Warteg? Jangan bohong pak, lagi puasa kan? Pasti pernah. Kalau belum pernah, sesekali bolehlah makan. Mosok kalah sama pak Jokowi dan bu Mega. Tapi makannya jangan siang hari. Kan lagi bulan puasa? Nanti dirazia. Jangan pula saat razia cari gratisan, main masukin aja ke plastik. Kasihan pemiliknya merugi. Bagaimana kalau itu ibu anda?

Saya tahu anggota Satpol PP itu gagah-gagah, meski sedang berpuasa. Setidaknya itu yang saya lihat di tayangan video saat razia Warteg Bu Eni (53) di Jalan Cikepuh, Pasar Rau, Kota Serang. Saking gagahnya, bapak-bapak tak kalah dengan aparat keamanan yang siap siaga mengamankan Piala Eropa di Prancis dari serangan ISIS. Kalau ada anggota ISIS lagi makan di Warteg saat itu, pasti mukanya pucat. Apalagi bu Eni, pak?

Tidak tanggung-tanggung, bapak menyita semua makanan. Bahkan Warteg tersebut dicap sebagai tempat untuk melampiaskan nafsu saat bulan suci Ramadhan. Nafsu makan ya, bukan nafsu yang lain. Jangan mengada-ada, nanti para cendekiawan minta situs ini diblokir. Kan repot.

Jadi, lantaran Warteg buka saat orang-orang berpuasa, lalu bapak menggrebek dan menyita seluruh makanan yang ada? Sebegitu berbahayanya kah makanan di Warteg menggoda puasa kita?

Di video yang beredar, saya lihat warung yang bapak sita makanannya itu sepertinya sudah menutup kelambu. Beberapa malah sudah menutup pintu. Kalau sudah begitu, masih bisakah kita bilang warung ini berpotensi membatalkan puasa kita?

Kita bahkan tidak melihat secara langsung makanan yang tersaji di sana. Tidak mencium harumnya wangi gulai atau manis dan segarnya es teh di dalam Warteg itu. Beda sama iklan sirup dan makanan di TV itu, pak. Kurang menggoda apa coba iklan di TV? Sudah makanan segar yang ditayangkan, artisnya juga cantik jelita tampan rupawan pula. Tapi kok nggak digrebek?

Kalau warung makan sudah ditutup kelambu dengan pintu tertutup, tapi masih ada yang melampiaskan nafsu, siapa yang nafsunya besar? Salah warungnya? Salah penjualnya? Salah teman-temannya? Tidak cukup kah sehelai kelambu menahan nafsu kita? Setipis kelambu kah iman kita?

Kalau kata kak Ganang Nur Restu, itu bukan solusi yang bijak dari sebuah ke-ngehek-an. Ibarat Wiro Sableng bawa kapak, sableng pak… Lalu, apakah bapak pernah dengar kata-kata Muhammad Ali, petinju legendaris yang baru saja meninggal dunia itu? Blio bilang, “Tuhan melihat saya, tapi Dia tidak akan memuji saya hanya karena saya mengalahkan Joe Frazier.” Begitu juga dalam kasus ini. “Tuhan melihat bapak dan saya, tapi Dia tidak memuji bapak hanya karena menggrebek warung yang buka saat puasa.”

Ibu Eni sang pemilik Warteg mungkin tidak punya mata pencaharian lain selain berdagang di Pasar Rau, Serang. Sedangkan kita tahu, jam bukanya tidak mungkin digeser ke malam hari, karena pasar sepi. Saya haqqul yakin kalau misalnya bapak tanya apakah ibu itu berpuasa? Pasti jawabnya, iya. Dan, betapa mulianya ibu Warteg yang tetap tegar di antara harum makanan. Karena sekali lagi, puasa adalah tentang niat dan mental manusia.

Pada titik ini, perilaku bapak tidak menjadikan agama semakin disegani, tapi malah dibenci. Muhammad Abduh, seorang pemikir Islam dari Mesir, pernah bilang, “Al Islamu mahjubun bil muslimin”. Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri. Puasa yang sakral itu kalah hanya dengan godaan Warteg sampai harus digrebek dan disita semua makanannya.

Apa yang dipertontonkan ketika itu persis model agama sebagaimana yang dikatakan, Erich Fromm, psikoanalis asal Jerman, yakni gaya beragama yang otoriter (authoritarian religious). Sedangkan Yusuf al-Qaradawi, seorang cendekiawan Muslim dari Mesir, menyebutnya sebagai sikap “ghuluw” atau berlebihan dalam menerapkan agama. Bisa juga kita sebut sebagai fenomena “overdosis agama (ODA).

Buktinya, selain razia warung makan tradisional, Satpol PP Kota Serang juga sesumbar akan merazia restoran di mal-mal. Sekalian saja pak, razia di restoran-restoran cepat saji, semisal keefsi, mekdi, awe, pitza hat, starbak, dan lain-lain biar tambah gagah. Tapi memangnya berani?