Secarik Pledoi dari Pengagum Berat Setya Novanto

Secarik Pledoi dari Pengagum Berat Setya Novanto

Berita teror di Paris hanya menjadi headline selama 3 hari di sejumlah media di Indonesia. Bukan, bukan karena orang Indonesia tidak peduli dengan peristiwa itu. Kalau tidak percaya, silakan cek media sosial masih banyak hestek #PrayForParis, artikel menghujat ISIS, dan tentu saja nyinyiran seperti, “Paris dibom pada teriak-teriak kalian, Suriah Palestina setiap hari dibom kalian diam.”

Cukup, saya malas membahas debat-debat macam begitu. Media sudah dapet headline baru yang tak kalah hot. Pencatutan nama presiden dan wapres dalam perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Iya betul, perusahaan emas yang beroperasi di Papua selama kurang lebih setengah abad itu.

Kabarnya si pencatut yang dilaporkan Menteri ESDM Sudirman Said ke Majelis Kehormatan DPR itu adalah orang kuat di DPR berinisial SN alias Setya Novanto Nobita. Sengaja saya tulis begitu demi menghindari pasal pencemaran nama baik dan ujaran kebencian.

Sebetulnya bukan kali ini saja SN dituduh terlibat kasus. Misalnya dugaan kasus penyelundupan beras Vietnam 60 ribu ton, dugaan kasus korupsi PON 2012, hingga dugaan kasus pengadaan e-KTP. Tapi selalu lewat begitu saja.

Sebagai pengagum berat beliau, saya membuat secarik pledoi di Voxpop.

Yang Terhormat, Bapak Setya Novanto…

Sebelumnya, meski telat, saya mengucapkan selamat atas terpilihnya bapak sebagai ketua DPR. Saya yakin suara rakyat memang menginginkan bapak menjadi ketua DPR. Pastinya tak ada kongkalikong saat pemilihan pimpinan DPR.

Bapak memang layak jadi ketua dan memakai arloji seharga Rp 2 miliar. Jangankan Rp 2 miliar, yang Rp 5 miliar pun bapak layak memakainya, walaupun daerah pemilihan bapak tergolong daerah termiskin di Indonesia. Rasanya kayak di pantai ya pak sama Pevita Pearce dan teman-temannya.

Saya turut prihatin dan kecewa dengan headline di media yang terus menyudutkan bapak. Sedari awal dari sumber-sumber yang saya ketahui memang lazim terjadi anggota DPR meminta fee kepada perusahaan-perusahaan besar, baik itu BUMN maupun swasta.

Tapi saya yakini itu dulu, sebelum bapak memimpin DPR yang terhormat. Survei pada awal 2015 yang bilang DPR adalah lembaga negara terkorup itu hanya guyonan ala warung kopi saja. Tentunya beda kalau ngopinya di sebuah hotel di kawasan Pacific Place ya pak.

Sebagai mantan pengusaha, tentulah bapak telah selesai dengan urusan dunia dan memilih mengabdi kepada bangsa tanpa pamrih. Di bawah komando bapak, pastilah DPR akan menjadi lembaga yang fokus memikirkan kesejahteraan rakyat.

Buktinya DPR bekerja keras lobi sana lobi sini demi proyek pembangunan gedung baru parlemen senilai Rp 2,7 triliun.

Bagaimanapun juga gedung DPR itu kan rumah rakyat, harus mewah, meski jumlah penduduk miskin di Indonesia terus bertambah. Per Maret 2015, orang miskin di negeri ‘gemah ripah loh jinawi’ ini mencapai 28,59 juta jiwa. Hingga akhir tahun diperkirakan bertambah 1,5 juta jiwa.

Makanya begitu saya membaca konfirmasi bapak soal Freeport di portal berita, saya terharu dan hampir meneteskan air mata. Sungguh pak…

Bapak bilang, “Saya tidak pernah membawa-bawa nama presiden ataupun wapres, karena yang saya lakukan adalah yang terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara dan untuk kepentingan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Papua.”

Ternyata bapak sangat memikirkan kepentingan rakyat Indonesia sambil plesiran naik jet pribadi ke Maldives. Tentunya sama teman bapak yang loyal kayak jeli itu, Fadli Zon dan Fahri Hamzah.

Saran:

1. Sebaiknya bapak sewa konsultan komunikasi strategis, lalu bayar ajak mereka untuk memberitakan prestasi-prestasi bapak untuk ditampilkan di PKS Piyungan. Bumbui pula dengan teori-teori konspirasi yahudi, syiah, dan komunis. Niscaya, tak lama akan banyak yang mendukung bapak.

2. Cara ini bisa dibilang lebih murah. Akhir-akhir ini, saya semakin akrab dengan tagar atau hestek yang mengandung ‘save-save-an’ di Twitter. Berdayakan aktivis save-save-an ini untuk menghantam lawan politik bapak. Giring opini publik dengan pelan-pelan membela bapak, #SaveSetyaNovanto. Dua sahabat bapak yang loyal tadi paham betul soal itu.

3. Cara ini bisa dibilang alternatif, kalau cara satu dan dua tidak mempan. Mumpung sekarang musim hujan, berdoalah saat hujan, karena saat hujan adalah waktu doa yang diijabah. Isi doanya bisa berupa pengharapan semoga besok pagi ada headline baru, sehingga kasus ini cepat dilupakan. Konon, katanya bangsa kita terkenal pelupa pemaaf.

Salam hangat, yes highly

Foto: dbta.com