Sebuah Perjalanan Ala ‘Musafir’ ke Singapura, Kuala Lumpur, dan Jakarta

Sebuah Perjalanan Ala ‘Musafir’ ke Singapura, Kuala Lumpur, dan Jakarta

onehdwallpaper.com

Singapura, Kuala Lumpur, dan Jakarta baru saja berlalu secara beruntun. Petualangan memang bukan perkara mudah, juga tidak murah, sudah sunnahnya bahwa ada harga yang harus kita tebus, tapi selalu ada pelajaran yang sepadan di tiap menapaki perjalanan. Memang begitulah mekanisme sederhana salah satu rahasia Tuhan.

Tak cuma yang indah-indah saja, beberapa hal yang menyebalkan seolah menjadi cobaan iman bagi perjalanan ala-ala ‘musafir’ ini. Mulai lebay. Salah satu hal yang paling ngeselin dari acara ngetrap-ngetrip adalah serbuan militan “oleh-olehnya dong”.

Mungkin mereka berpikir saya memelihara Doraemon, ke sana-sini nggak pakai modal, tinggal buka pintu ajaib. Jadinya saya ikut berpikir,  “Apa mereka nggak pernah liburan? Apa mereka kaum kurang piknik?” Ngasih uang saku saja kagak, doain selamat pun juga tidak, tapi malah malak jatah oleh-oleh. Bisa ku azab kekufuran mereka. Untungnya saya bukan Tuhan.

Bayangkan saja, betapa sudah tersiksanya memangkas syahwat dari segala nikmat hedonisme yang seharusnya bisa saya rengkuh sambil check-in di path, namun terpaksa ditabung cuma-cuma, untuk apa? Ya untuk memperkaya maskapai penerbangan, untuk membiayai hidup pemilik hotel, untuk bekal bertahan hidup selama beberapa hari di negeri asing, termasuk bertahan dari labilnya kurs rupiah.

Pak Jokowi, hambok masukkan piknik ke dalam program Nawacita. Asal bapak tahu saja, adat begal-membegal oleh-oleh adalah mental pasca-kolonialisme yang harus direvolusi juga lho, Pak. Ancaman stabilitas bangsa tersebut pernah pula disampaikan oleh filsuf asal Magelang yaitu Tomas Hobes dalam bahasa latin ‘mnemosynum homini lupus’, yang artinya oleh-oleh adalah serigala bagi para backpacker.

Saya ini warga negara yang baik, liburan saja pakai duit sendiri, enggak menjadi parasit bagi lumbung-lumbung uang negeri. Kurang bagus apa mental saya, Pak? Mau ngangkat saya jadi duta piknik? Silakan, saya ikhlas dan terima dengan lapang dada, status kewarganegaraan saya juga tidak ganda. Bukan paspor Singapura, bukan pula paspor Malaysia, tapi Indonesia ori pokoknya, yang ada gambar garudanya.

Terlepas dari urusan pernak-pernik cinderamata yang menyusahkan kuota ransel maupun perjalanan para ‘musafir’ baik di gang-gang maupun di bandara, saya sempat termenung, “Seperti apakah singkatnya sebuah negeri yang beradab?” Sementara kita semua bisa sepakat paham bahwa di tiap negeri memiliki masing-masing etnis yang berwarna, memiliki tradisi dan budaya yang berbeda, memiliki bahasa yang tak sama, agama yang bercabang-cabang madzhabnya, dan banyak hal lain.

Dari berbagai ragam variabel perbedaan tersebut, saya masih setuju bahwa parameter beradabnya sebuah negeri adalah tatkala manusia (khususnya perempuan) mampu merasa aman sekalipun sedang bersafari sendirian, terutama malam hari.

Ada sebuah dosa seketika menggores dalam dada kala saya menyepakati parameter tersebut. Dosa saat saya tiba-tiba merasa insekyur (insecure/tidak aman) berdiri menginjakkan kaki di atas negeri sendiri (maksud saya Jakarta, memangnya mana lagi yang cukup pantas untuk saya jadikan kambing hitam selain kota itu?).

Berawal dari Singapura. Ia bukan negara agamis, bukan pula negara religius, negara yang hanya seluas kabupaten, dan bukan negara yang kaya akan warisan keluhuran budaya. Tak banyak yang bisa dipamerkan oleh negara tersebut, pasti nyalinya ciut kalo menghadiri acara lomba Kartinian.

Namun, selama di sana, relung hati jomblo saya selalu merasa aman. Saya serasa bebas mau berjalan kemana pun, tak ada secuil kegelisahan yang menghinggap tatkala tas selempang berada di sisi pantat. Ada apa dengan posisi tas selempang? Ya bukan ada apanya, tapi memang sudah indikator alam bawah sadar bahwa suatu tempat cukup bersahabat atau agak-agak sekarat.

Di Negeri Merlion, saya juga tidak mendapati adanya perlakuan diskriminasi. Wanita berjilbab, wanita berbusana seksi, amoy-amoy, wanita berburqa’, ras Jawa yang pendek, perempuan India berjidat putih, pria-pria berjenggot, kaum-kaum bermata sipit, dan orang-orang bertato-bertindik, mereka semua mendapatkan perlakuan yang sama.

Mereka juga mendapatkan rasa aman yang sama, mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang sama. Ahh… Andai saya ndebat agama salah satu amoy bahenol di sana, mungkin pulang-pulang ke Indonesia, saya udah bawa pacar muallaf dan nama saya pun moncer di link-link Islami.

Lalu Kuala Lumpur. Nama boleh lumpur, tapi ia berinfrastruktur seperti Jakarta, dipenuhi oleh bangunan-bangunan pencakar angkasa. Panas? Iya. Sesak? Nggak begitu. Dibanding Singapura, lebih banyak kendaraan pribadi berlalu lalang di Kuala Lumpur. Namun tetap belum mampu melampaui isi Jakarta, bahkan menandingi Semarang pun belum cukup.

Secara etnis, Kuala Lumpur mirip seperti Singapura, memiliki komposisi yang mudah dijumpai seperti etnis Melayu, etnis Tionghoa, etnis India termasuk Bangladesh dan Pakistan, dan turis-turis. Selama saya di Kuala Lumpur, belum ada iklim-iklim yang membuat hati saya gelisah. Saya pun nyaman melenggang di tiap-tiap trotoar dengan tas kecil di belakang, tanpa ada rasa cemas akan ancaman percopetan.

Namun, sesekali saya menaruh tas selempang saya di depan saat memasuki wilayah pasar Chinatown di jalan Petaling maupun pasar Little India. Banyak orang bertampang cukup susah di sana. Ya Rabb, lihatlah betapa bigotnya saya, menilai lingkungan dari cover komunal di sana. Lha gimana lagi? Takut jee, duit ilang nggak apa-apa, kalo KTP dan paspor yang hilang? Modyar… Bisa dideportasi, bisa-bisa dituduh jadi korban penjualan TKI ilegal. Atau, dituduh sebagai imigran gelap yang hendak jihad aneh-aneh. Lha wajah saya cukup surgawi juga kalo ngaca. #Huekkk.

Tiba di Jakarta. Inilah yang membuat diri saya merasa berdosa. Usai menjelajah Singapura yang cuma seupil, lalu juga pulang dari Kuala Lumpur, saya stay di Jakarta selama dua hari dua malam. Setiap kali keluar dari apartemen teman yang saya tumpangi, baik di jalanan maupun di lokasi wisata, Monas, Pasar Baru, selalu muncul perasaan insekyur secara tiba-tiba.

Lalu, tangan saya spontan mengenakan tas selempang di depan paha. Sementara tiap kali berjalan baik di medan sepi maupun zona keramaian, sering telapak tangan meraba kantong celana belakang, sekadar memastikan dompet masih ada di sarang. Tak adil memang.

Kita tahu sendiri melihat riuhnya Jakarta saja sudah seperti membongkar sarang rayap. Ledakan jumlah populasi di dalam sempitnya lahan kaplingisasi dan himpitan ekonomi, ditambah ketersediaan lapangan pekerjaan yang belum mencukupi, seolah menjadi pakem lumrah dalam berhomo homini lupus. Artinya teman makan teman, persis kayak pacarmu yang ditikung temenmu itu tuh. Eaaa….

Bagaimana mengatasi masalah memalukan seperti itu? Saya tidak tahu, saya bukan gubernurnya, juga bukan ber-KTP Jakarta. Sumbangsih saya cukuplah menyinyirinya. Apakah dengan senantiasa berpikir positif bahwa semua akan normal-normal saja? Ya saya selalu berhasil melakukan hal tersebut, jika di Semarang, Yogyakarta, maupun Surabaya (sekalipun di Semarang pernah mengalami pencurian jam tangan dan sepeda motor, di Yogyakarta mengalami pencurian helm, dan di Surabaya mengalami pencurian HP).

Apakah berhasil juga jika di Jakarta? Rupanya tidak, beragam upaya saya usahakan untuk berpikir positif. Namun tak mampu mengusir hantu jahat bernama insekyur. Padahal, saya sudah beberapa kali singgah di Kota Jakarta yang aduhai metropolitan dan modern sekali. Maklum orang kampung mah gini, gumunan.

Saya pun tidak ingin mendustai diri sendiri, bayang-bayang seperti copet, jambret, begal, penodongan, pelecehan, dan segenap kroni baninya seolah sedang duduk manis di sudut-sudut yang tak kita ketahui, menunggu tangan-tangan terampil mereka untuk beraksi semudah mencabut botol dot susu dari mulut bayi.

Betapa menyakitkan mengakhiri perjalanan ini, ketika perasaan tenang justru sulit dijamukan kepada ibukota saya sendiri. Betapa berdosa mengakhiri pengembaraan ini, ketika perasaan damai justru sulit dihadirkan kepada kandang saya sendiri. Dan, betapa perih mengakhiri petualangan ini, ketika perasaan aman justru sulit dipakemkan kepada anak etnis sendiri.

Ya Tuhan, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ampunilah kedurhakaan hamba dan golongan-golongan ‘musafir’ seperti saya. Perbanyaklah rejeki pada kami supaya plesiran senantiasa menjadi jalan jihad bagi kami dalam berbenah diri, supaya plesiran menjadi jalan jihad dalam mendekatkan diri kepada-Mu. Amin…

  • Shimass69

    Lahhh?? kan guweh udh pesen sejaxs dolo bruhh? gak usyah posingin ttg barang-barang dg label ‘oleh oleh:.. ngapain repots? Hwhehe… jd inget wktu ngasih kuliah ttg hal ini ke Nita Prorejoh… Hwhehe… Lanjooots