Sebuah Misteri dan Cocoklogi: Semua Tendangan Penalti Madrid ke Kanan, Atletico ke...

Sebuah Misteri dan Cocoklogi: Semua Tendangan Penalti Madrid ke Kanan, Atletico ke Kiri!

newsday.com

Usai Cristiano Ronaldo melesakkan tendangan penalti kelima Real Madrid malam itu, saya masih tercekat dan terdiam di atas sofa di depan televisi. Sebuah tim yang menyingkirkan Barcelona dan Bayern Munchen secara beruntun di dua fase sebelum final, kalah oleh adu tos-tosan yang murni mengandalkan mentalitas dan kewarasan otak dibanding adu taktikal atau kualitas teknik.

Keberuntungan di sepak bola, kalau memang hal itu ada, rasanya sangat mencintai Real Madrid musim ini. Real “hanya” meladeni tim-tim medioker di Liga Champions sekelas AS Roma hingga Wolfsburg sejak babak perdelapan final hingga perempat final. Beruntungnya, mereka juga “hanya” meladeni Manchester City, si anak bawang yang gugup dan keteteran dengan aroma partai semifinal di kasta tertinggi kompetisi di Benua Biru itu.

Bandingkan dengan Atletico Madrid yang merasakan alotnya menaklukan PSV Eindhoven di perdelapan final, sebelum berturutan dihadang armada raksasa Eropa yang diasuh dua pria Catalan, Pep Guardiola dan Luis Enrique. Tapi, usai beranjak dari sofa dan mencuci muka untuk bersiap tidur, saya menyadari satu hal yang sedari tadi mengusik pikiran. Babak adu penalti yang dimenangkan skuat asuhan Zinedine Zidane dengan skor akhir 5-3 ini meninggalkan misteri.

Untuk memastikan, saya coba cari rekaman video di Youtube yang menyediakan data untuk analisa berdasarkan cocoklogi ini. Hasilnya, sadarkah anda bahwa empat penendang Atleti, termasuk Juanfran yang gagal mengeksekusi, semuanya mengarah ke sisi kiri? Dan, hebatnya, semua tendangan para pemain Real Madrid, termasuk Ronaldo ‘sang penentu’, semuanya mengarah ke sisi kanan?

Bagi saya, kalau menurut cocoklogi, adu penalti malam itu adalah pertarungan ideologi antara si kanan dan kiri. Pergelutan antara kaum konservatif, kapitalis, fundamentalis dkk melawan, ya sebut saja, para liyan. Karena yang berhak mencap para pemain Atleti sebagai komunis karena menendang ke arah kiri terus hanyalah jenderal K, bukan saya.

Yang saya tahu, kiri dan kanan hanya soal perilaku politik. Kiri tak selalu identik dengan komunis. Contohnya, Partai Demokrat di Amerika dianggap kiri, ketika berhadapan dengan Partai Republik yang konservatif dan reaksioner alias kanan. Kalau kiri dicap identik dengan komunis, berarti Barack Obama komunis, gitu?

Lalu, masihkah anda ingat Sadiq Khan, seorang muslim yang diusung oleh partai buruh beraliran kiri, yang berhasil memenangi pemilihan walikota London? Apakah dengan kemenangan Sadiq, London tiba-tiba menjadi kota ‘merah’ penuh bendera palu arit di mana-mana? Kalau bendera merah cap meriam, sudah pasti, je. #Arsenal.

Balik lagi soal Real Madrid dan Atletico Madrid. Untuk diketahui, poros Madrid, terutama di era Jenderal Franco, memang hanya berputar di spektrum khusus untuk Real Madrid. Santiago Bernabeu adalah katedral sepak bola Spanyol di bawah rezim Franco. Jangankan Barcelona dan semangat revivalis ala Catalan-nya, hampir semua tim Spanyol di era Franco tidak akan mampu berbuat banyak di hadapan Real.

Itulah yang memunculkan semangat ‘El Clasico’ yang tidak hanya melibatkan gengsi, namun juga pertarungan kelas dan semangat berbau dendam dan narasi perjuangan. Atletico bersama Getafe dan Rayo Vallecano tentu hanya semacam ikan kecil di kolam yang besar. Madrid hanya untuk ‘El Real’.

Sejarah panjang klub ini terpatri kuat di benak para suporternya dan seringkali memberikan semangat dan arogansi tiada tara untuk mendaku diri yang terbaik. Karena Real Madrid memang seperti itu. Semangat vencer y convercer ala Madrid sangat sesuai diterapkan para ‘Galacticos’ bergaji mahal tersebut, walau kenyataannya mereka tak perlu bermain brilian dan gemilang untuk menang adu penalti malam itu.

Menjadi wajar, mungkin, kenapa Real dan para pemain bintang-bintang terbaik yang dimilikinya memilih menendang penalti ke arah kanan. Mewakili ciri penguasa Madrid yang ultra-nasionalis dan konservatif. Arogansi mereka tersampaikan.

Real Madrid tidak perlu membuktikan apa-apa. Mereka sudah kuat dengan sejarah dan gelimang trofi yang mereka kumpulkan. Sepuluh trofi Liga Champions adalah buktinya. Suka atau tidak suka, Real Madrid adalah simbol negara yang otoriter kalau konteksnya iklim sepak bola di Kota Madrid.

Inilah yang mungkin coba dilawan Diego Simeone dan anak asuhnya. Menjadi wajar pula, kenapa kemudian empat algojo penalti Atleti selalu menendang ke arah kiri. Mulai dari Antoine Griezmann, si penendang pertama, berturut-turut dari Gabi, Saul Niguez sampai Juanfran semuanya mengarah ke kiri gawang.

Dan, bukan kebetulan atau perkara Dewi Fortuna kalau kemudian eksekusi Juanfran akhirnya membentur tiang gawang. Bukankah sekeras apapun “kaum kiri” berjuang, toh akhirnya mereka kalah juga? Negara punya kuasa. Politik yang dikuasai sayap kanan selalu memberikan tekanan dan semangat totalitarian yang kepalang mencengkeram para “kaum kiri”.

Di Indonesia, “kaum kiri” bukan lagi termarjinalkan. Mereka sudah kepalang nista dan dianggap kotoran yang sesegera mungkin dilenyapkan dari muka Bumi. Buku, diberi label kiri dan dihalalkan untuk disita bahkan dibakar. Itu baru buku. Bagaimana dengan manusia? Bisa dibayangkan, bagaimana nasib orang yang mendaku diri sebagai seorang komunis di Indonesia?

Bagi saya, kekalahan Atletico adalah kewajaran. “El Cholo”, sebutan akrab Simeone, adalah simbol revivalis Kota Madrid dari sisi gelap. Ia pun sehari-hari gemar berpakaian gelap. Ia juga menguasai dengan baik ‘dark arts’ di sepak bola. Tapi, sekali lagi, sekeras apapun ia berjuang, di hadapan Madrid yang kaya raya dan konservatif, semangat perjuangan yang diusungnya akan kembali jatuh dan terpuruk.

Orang menyukai Atletico karena ia simbol perlawanan akan tatanan sosial Kota Madrid yang timpang. Semua perlu diseimbangkan dan diberi posisi yang setara. Agaknya, begundal-begundal arogan di Real Madrid belum menyukai narasi ini. Mereka masih merasa yang terbaik dan memang mereka yang terbaik. El Grande Madrid, sekali lagi, Real Madrid memenangi duel dengan si liyan, Atleti.

Tentu saja tulisan ini adalah opini pribadi saya berdasarkan analisa yang mengandung unsur cocoklogi. Pemerintah tak perlu takut dan gemeteran berlebih, karena artikel ini ditengarai berbau “kiri”. Sebab, pada akhirnya, sekeras apapun “kaum kiri” berjuang, pemenangnya tetap negara dengan segala sifat otoriternya.

Bukankah dengan menyingkirkan dua kutub terbaik sepak bola dunia, Atletico berhak juara? Nyatanya, di hadapan saudara mereka yang kaya dan konservatif, para pekerja kasar itu masih lebih inferior. Dan, sekali lagi, Plaza de Cibeles masih dikuasai oleh jugador-jugador terbaik Real Madrid, setidaknya untuk musim ini.