Sebuah Cerita di Hambalang, Sebuah Kisah di Manchester

Sebuah Cerita di Hambalang, Sebuah Kisah di Manchester

posterbola.com

Ketika Louis Van Gaal datang pertama kali ke Manchester, ia dihadapkan warisan skuat antah berantah dari Lord Moyes yang agung. Ada nama-nama pemain medioker yang didatangkan David Moyes dan diwariskan ke Van Gaal. Sontak, ia terkejut. Ada beberapa nama yang ia sendiri heran kenapa pemain tersebut bisa berseragam Manchester United (MU).

Alkisah, pasukan ‘Setan Merah’ warisan Sir Alex Ferguson yang sedikit dimodifikasi Moyes itu dirombak oleh Louis Van Gaal. Duo bek kembar dari Brasil, Rafael dan Fabio ditendang keluar. Menyusul berikutnya antek-antek loyalis Fergie, Darren Fletcher dan Johnny Evans yang dibuang ke West Bromwich Albion.

Tidak cukup sampai di situ, Van Gaal juga membuang Javier Hernandez dengan status pinjaman ke Real Madrid, sebelum menjualnya secara permanen musim ini. Revolusi ala Van Gaal makin komplit, ketika Robin Van Persie, Luis Nani, dan Shinji Kagawa berturut-turut meninggalkan MU.

Ketika pertama kali datang, wajar Van Gaal merasa gerah dan risih. David Moyes sebenarnya bukan pelatih buruk, tapi tentu ia bukan seorang yang jenius. Ia pelatih berpengalaman, walau tak hebat-hebat amat. Tapi Moyes sukses mewarisi skuat yang bapuk kepada Van Gaal.

Beberapa pemain MU dalam mentalitas yang ambruk dan payah. Tidak ada mental juara yang bergelora. Tidak ada optimisme yang membuncah tiap kali mereka bermain di lapangan hijau. Intinya, David Moyes mewarisi skuat dan mentalitas pemain MU yang teramat busuk.

Ngomong-ngomong soal warisan yang busuk-busuk, kisah serupa tapi tak sama juga terjadi pada proyek wisma atlet Hambalang. Cerita soal Hambalang kembali mencuat, ketika Presiden Jokowi melakukan kunjungan syahdu ke lokasi Pusat Pelatihan, Pendidikan, dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Bukit Hambalang, Sentul, Bogor.

Lawatan Jokowi itu dilakukan saat SBY, eks presiden kita yang tampan dan bersuara merdu itu, sedang asyik mengayomi kader-kadernya di daerah dengan melakukan ‘Tour de Java’. Di sela tur, SBY memang sering melontarkan kritikan kepada pemerintah. Selain itu muncul kabar kalau ibu Ani, istri SBY, bakal nyapres pada 2019, meski itu katanya kabar burung. Entah burung yang mana.

Kunjungan Jokowi ke Hambalang pun disebut-sebut sebagai sindiran kepada SBY, meski lagi-lagi diselingi aksi saling bantah. Tapi memang, kondisi megaproyek senilai triliunan rupiah yang dibangun pada era SBY itu memprihatinkan. Mangkrak.

Wisma yang awalnya disiapkan untuk membina atlet, kini berubah menjadi sarang dedemit dan makhluk halus dalam jumlah yang jumbo. Mulai dari genderuwo, pocong, kuntil anak, sampai Casper si hantu yang baik. Wisma atlet Hambalang sekarang ini lebih cocok untuk syuting acara uji nyali atau dunia lain.

Konon, kasus Hambalang ini menyeret banyak sekali kader Partai Demokrat dan beberapa menteri di era SBY, termasuk salah satu kader terbaik Partai Demokrat yang pernah sesumbar rela digantung di Monas kalau terbukti korupsi.

Jadi, memang agak berlebihan kalau menganggap sidak Jokowi ke Hambalang sebagai upaya menyindir SBY cs. Sudah menjadi fakta kalau proyek itu terbengkalai dan ditumbuhi alang-alang. Lagipula, SBY tidak merasa tersindir. Bahkan beliau senang, jika proyek Hambalang dilanjutkan.

“Jika Pak Jokowi ingin lanjutkan proyek Hambalang, saya senang & dukung penuh. Dulu saya juga tuntaskan banyak proyek yg belum selesai,” kata SBY dalam akun Twitter-nya @SBYudhoyono. Ya kita sih husnudzon saja, asal bapak senang.

Selayaknya seseorang yang diwarisi sesuatu yang busuk, sudah sewajarnya Jokowi atau siapa pun presidennya untuk melakukan perbaikan, bukan? Lagipula, masak Andi Mallarangeng rela mahakarya terbesarnya hanya dibiarkan jadi lokasi uji nyali acara hantu di televisi swasta itu?

Ada yang bilang kalau proyek Hambalang dilanjutkan, tapi dibangun semacam museum anti-korupsi atau penjara koruptor. Ya usulan itu sih bagus-bagus saja, tapi sayang kalau harus mengeluarkan dana triliunan rupiah. Ide sarana pembinaan atlet sebenarnya sudah benar, tapi memang gara-gara korupsi semuanya jadi korban.

Kita tahu, prestasi atlet kita di kancah internasional masih minim. Perlu tindakan nyata dan dana besar untuk pembinaan agar prestasinya tidak membusuk. MU saja sedikit-sedikit mulai bangkit dari kebusukan skuat dan mentalitas pemain. Tapi ya susah kalau pembandingnya MU. Wong, sepak bola kita saja nyaris mati tragis kok!