Sebuah Celoteh Generasi “Power Rangers”, Generasi Terhebat Sepanjang Masa

Sebuah Celoteh Generasi “Power Rangers”, Generasi Terhebat Sepanjang Masa

screenrant.com

Saya adalah generasi pertama dari generasi (yang katanya) terhebat sepanjang masa, generasi 90-an. Bagi orang-orang yang setua umurnya tak beda jauh dengan saya, pasti sedap betul hidupnya saat masa kecil, karena bisa menikmati film kartun secara maraton setiap hari minggu. Kartun yang sudah mulai tayang sejak azan subuh sampai zuhur.

Kenikmatan itu secara tidak langsung menjadi alibi yang sangat kuat untuk menunda acara mandi pagi. Yang akhirnya berimbas pada melayangnya gagang sapu akibat berubahnya para ibu menjadi manusia saiya super seperti dalam serial ‘Dragon Ball’.

Berbicara soal kartun dan acara anak-anak lainnya yang sangat banyak pada zaman itu, tentu orang-orang yang setua umurnya tak beda jauh dengan saya tidak asing dengan acara ‘Mighty Morphin Power Rangers’. Nama-nama seperti Tommy, Jason, Billy, Zack, Trini, dan aduhai cantiknya Kimberly pasti tak asing di telinga. Banyaknya anak laki-laki yang berebut untuk sekedar menjadi ranger hijau atau merah, yang notabene dikenal sebagai ranger paling keren saat itu, sudah menjadi sebuah bukti sahih betapa terkenalnya ‘Power Rangers’ .

Selain ‘Power Rangers’, ada juga acara sejenis yang berasal dari Jepang, yaitu ‘Ksatria Baja Hitam’. Menurut penilaian saya, ‘Ksatria Baja Hitam’ adalah superhero paling egois di zaman itu. Bagaimana tidak? Dia bekerja sendiri, tidak seperti ‘Power Rangers’ yang beranggotakan lima orang (jelas pembagian honor menjadi sedikit, karena harus dibagi berlima).

Belum lagi ‘Ksatria Baja Hitam’ mampu berubah menjadi superhero yang lain hanya untuk dirinya sendiri. Sebut saja Ksatria Baja Hitam RX, RX Robo, dan RX Bio. Jika kekuatan RX adalah kekuatan standar superhero pada umumnya, maka berbeda dengan Robo dan Bio. RX Robo dikenal dengan kekuatan api dan ketahanan tubuhnya dan RX Bio dikenal dengan kecepatan dan kekuatannya merubah diri menjadi air (cair). Semakin terlihat jelas bukan keegoisan superhero yang satu ini? Semua kekuatan dimakan sendiri (honor pun dimakan sendiri).

Ya, seperti itulah tontonan kami saat kecil. Tontonan generasi kami. Memang, masih memiliki unsur kekerasan seperti perkelahian dengan monster dan penjahat. Namun, kekerasan yang dipertontonkan kepada generasi kami mengandung unsur kepahlawanan. Memberikan contoh nyata bagi kami, mana yang benar dan mana yang salah. Secara tidak langsung, ‘Power Rangers’, Ksatria Baja Hitam, dan lainnya menjadi sebuah entitas pahlawan bagi generasi saat itu.

Hal yang sangat jauh berbeda dengan generasi sekarang. Mereka disuguhkan dengan tayangan kekerasan, yang akhirnya benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Tayangan sinetron tak mendidik, yang salah satunya menampilkan adegan kekerasan antar geng motor. Iya, sinetron anak-anak di jalan itu.

Bagaimana anak-anak generasi sekarang bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, bila mereka disuguhkan dengan perbandingan dua entitas yang secara kasat mata itu hampir sama? Tidak ada penjelasan mana kubu yang baik dan mana kubu yang buruk. Secara kasat mata, kubu yang satu dengan yang lain sama saja.

Jika ada keterangan si A adalah kubu yang baik, namun nyatanya si A pun sama dengan si B, secara teoritis keduanya tetap anggota geng motor. Dan, hal inilah yang meresahkan para orang tua. Melihat contoh nyata dari tayangan televisi lalu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Maka jangan heran, bila anak-anak zaman sekarang berperilaku buruk seperti para lakon di televisi.

Lalu dimana tontonan anak-anak era 90-an? Kebanyakan dari mereka justru dicabut hak siarnya dengan alasan “tayangan yang tidak mendidik”. What??? Tidak mendidik??? Lalu apa kabar dengan sinetron-sinetron sampah yang banyak bertebaran di stasiun televisi saat ini? Apa kabar dengan acara reality show yang tidak memiliki relevansi, namun masa tayangnya sudah bertahun-tahun di televisi?

Mungkin orang-orang yang duduk di bangku lembaga yang dikatakan kredibel di bidang ini sudah kehilangan kacamatanya atau mungkin kacamata mereka kurang tebal atau bisa saja mereka sudah buta tersesat dalam pemikirannya.

Coba telaah dan pikirkan pertanyaan saya ini, “Berapa banyak anak-anak yang terluka dan mengalami kekerasan karena ‘kamehameha’?” Lalu, “Berapa banyak anak-anak yang terluka dan mengalami kekerasan karena ‘rasengan’?”. Atau, “Berapa banyak kerugian negara karena anak-anak bermain menggunakan ‘megazord’?”

Bandingkan dengan pertanyaan ini, “Berapa banyak anak-anak yang menjadi korban bully di sekolahnya?”. Lalu, “Berapa banyak anak-anak yang terlibat perkelahian antar geng dan tawuran?”. Kemudian, “Berapa banyak anak-anak SD yang sudah berpacar-pacaran?” (kalah telak situ mblo). Atau, “Berapa banyak anak-anak yang merengek sampai meminta dengan kasar kepada orang tuanya untuk dibelikan sepeda motor agar bisa seperti idola mereka dalam sinetron anak-anak di jalan tadi?”

Itu baru soal kekerasan. Masih banyak penyimpangan-penyimpangan lainnya. Coba kita bandingkan dengan ‘Power Rangers’. Saat serial televisi itu sedang jaya-jayanya pada tahun 90-an, teman-teman sepermainan saya hanya ribut soal siapa yang menjadi ranger merah. Bahkan mereka akan sangat merasa terhina, bila menjadi ranger kuning atau pink. Apa maksudnya?

Bila anda sekalian memperhatikan, pemeran ranger pink, si Kimberly itu, cantiknya aduhai bukan main. Dalam beberapa episode pun si Kimberly ini mengenakan pakaian mini sampai mengenakan celana “dedek gemez” pun pernah. Tapi anak lelaki pada zaman itu tak pernah ada yang membahas soal pakaian mini, tak pernah ada yang membahas soal celana “dedek gemez,” yang mereka tahu hanyalah: saya adalah ranger merah.

Berbeda dengan anak-anak zaman sekarang. Hal-hal yang berbau pornografi sudah akrab dalam kehidupan mereka. Mudahnya akses untuk mendapatkan konten-konten yang aduhai tersebut bisa dikatakan menjadi biang keladinya.

Yah, sekarang zaman apa-apa mudah dan dalam genggaman. Tinggal klik, lalu terpampang nyata tanpa halauan (apaan nih?). Perkara pakaian mini dan celana “dedek gemez” itu perkara lumrah. Bahkan di balik pakaian mini dan celana “dedek gemez” saja bisa dengan mudah diakses, toh? (introspeksi diri bagi para kolektor)

Yah, semoga saja celotehan kecil ini bisa berpartisipasi dalam perubahan moral anak bangsa (tinggi sekali cita-cita saya ini). Semoga mereka yang berwenang dalam hal ini bisa menyelesaikan perkara kekerasan anak-anak di bawah umur dan rusaknya moral anak-anak karena tontonan televisi. Perkara pakaian mini dan celana “dedek gemez” itu biarlah menjadi urusan para pria dewasa. Saya rasa mereka pun tak keberatan bukan?