Seberat-beratnya Melawan Hoax Adalah Hoax Diri Sendiri
CEPIKA-CEPIKI

Seberat-beratnya Melawan Hoax Adalah Hoax Diri Sendiri

Ilustrasi (unsplash.com)

Konon pemerintahan Jokowi sudah menyatakan perang dengan hoax, dengan kabar-kabar bohong yang menyesatkan. Kampanye anti-hoax juga digelar di banyak kota, seperti Jakarta, Bandung, Purwakarta, Solo, dan sepertinya masih akan banyak lagi. Mungkin karena dibohongin itu memang nyebelin. Sakit dek, sakit…

Tapi apa sih yang gak hoax di hidup kita ini? Amerika ngirim pasukannya ke Irak karena hoax, senjata pemusnah massal yang sampai sekarang gak jelas ada atau nggaknya. Indonesia, kata Muhidin M Dahlan, konon juga merdeka karena pemuda Sukarni percaya hoax. Katanya Jakarta mau dibumihanguskan. Ngeri. Tapi gak terbukti dan Sukarni diketawain Sukarno.

Bahkan kita bisa ada di dunia ini juga gara-gara hoax. Gak tanggung-tanggung, yang nyebarin hoax itu setan sendiri, CEO neraka. Buah yang kata Tuhan gak boleh dimakan, kata setan boleh. Malah menurut tradisi Kristen, orang yang makan buah itu – kata setan – bisa jadi kayak Tuhan. Dan akhir ceritanya kita semua sudah tahu, Adam dan Hawa dipaksa turun ke bumi dan beranak cucu, ya kita-kita ini.

Coba kalau dulu Adam sama Hawa gak kemakan hoax, jam-jam segini kita pasti lagi leha-leha di surga. Ngopi-ngopi cantik atau ngapainlah gitu. Pasti damai banget, gak ada pilkada, gak ada ribut-ribut agama, gak ada diklat Mapala, gak ada mantan, gak ada galau, gak ada malam Minggu – yang gak lengkap kalau gak pakai ngebully jomblo – dan seterusnya.

Tapi zaman Adam dan Hawa itu mungkin memang sulit. Orangnya cuma dua, belum ada Google. Dan, seperti kata orang, kalau laki-laki dan perempuan berdua-duaan, maka yang ketiga pasti setan. Sudah gak bisa gugling, satu-satunya yang bisa ditanyai ndilalahnya kok setan.

Tapi zaman sekarang walaupun Google sudah ada, hoax masih banyak aja. Bahkan ini jadi ironi karena sekarang zaman media sosial, zaman di mana bapaknya bisa berdoa di Twitter, sementara ibunya marah-marah di Instagram, dan menantunya ngamuk di Path.

Pada zaman media sosial saat ini, bukan hanya informasi saja yang melimpah, tapi setiap orang sekarang adalah sumber informasi. Ironisnya, orang-orang sekarang berebutan untuk berbohong, membuat, dan nyebar-nyebarin hoax.

Dulu, setan yang bikin hoax dibuang ke neraka dan Adam sama Hawa yang percaya hoax tadi diturunkan ke bumi. Lha kalau sekarang, mau diusir ke mana orang-orang yang bikin dan nyebarin hoax? Ke Planet Namek? Yang ada, yang bikin berita hoax tadi malah lagi kongkow-kongkow di Planet Hollywood. Duitnya gede, cui!

Tapi balik lagi, apa sih yang gak hoax dalam kehidupan kita ini? Coba cek akun media sosial kita sendiri, foto profilnya foto kita sendiri, bukan? Jangan-jangan fotonya pakai foto orang lain atau malah artis Korea. Statusnya juga, yakin itu bukan kata-katanya Pak Maryono Teguh? Lha kok gak ada nama beliau di statusmu? Itu.

Dan kalau memang pakai foto asli, coba itu nafas gak usah ditahan. Laki-laki yang sukses adalah laki-laki yang buncit kok. Iya, laki-laki yang ngirim WA ke istrinya kalau lagi meeting, tapi ternyata nongkrong di Alexis. Meeting apa coba di Alexis?

Mungkin karena laki-laki memang suka bikin hoax. Kan katanya perempuan itu suka dibohongi. Ini parah banget, bukan cuma suka bikin dan nyebarin hoax, tapi ternyata kita juga suka hoax. Tapi kalau kata saya itu cuma pembelaan dari kaum Adam aja. Gimana gak, dari pedekate saja mereka sudah bikin hoax. Nggombal. Gombal mana yang bukan hoax coba?

Katanya mau nembus hujan badai, gerimis dikit aja gak jadi ngapel. Katanya mau mendaki bukit tinggi, di Pejaten aja nyasar. Katanya mau menjadikan perempuan ratu, udah kawin malah dijadikan bab… aduh, hampir saya kepeleset level wakil ketua DPR.

Itu belum lagi folder di komputer jinjingnya, cari deh nama-nama folder yang agak gak biasa, nanti bakal nemu fake taxi, fake hospital, fake office, fake agent, dan fake-fake yang lainnya.

Kalau perempuan katanya suka dibohongi dan dianggap korban hoax laki-laki, saya gak setuju juga. Lha mereka dari kepala sampai kaki hoax semua, je. Rambut sambungan, alis tatoan, bulu mata palsu, bibir sulaman, bahkan buah dadanya diganjal busa. Terus pemerintahan Jokowi berani perang sama yang gini-gini? Mau women’s march dibelokin ke istana?

Ngomong-ngomong soal tato alis, saya pikir ini hoax paling aneh yang pernah dibuat umat manusia. Lha alis yang udah ada dikerok, dihabisin, terus di tempat yang sama dibuat tato bergambar… alis! Kebayang gak sih kalau laki-laki juga merasa perlu bikin tato brewok atau bulu dada?

Hoax paling terkenal yang dibuat oleh kaum Hawa – tidak bisa tidak – adalah hoax ‘lima menit lagi’ pas mereka lagi dandan. Konon orang bisa beresin kamar, nguras bak mandi, pergi umroh, dan menyelamatkan dunia kalau perempuan udah bilang gitu. Atau, bikin album. Lima sekaligus. Daripada nggangguin istri yang lagi nggambar alis? Nanti dimarahin di Instagram…

Jadi, ketika kita dan pemerintah menyatakan perang dengan hoax, sebenarnya apa yang mau kita perangi? Seberat-berat perang, kata orang, adalah perang dengan diri sendiri. Lha diri kita sendiri juga bertebar hoax gitu kok. Baca satire berasa dengerin tausiah Mamah Dedeh di tivi ya?

Intinya, kalau mau memberantas hoax, mulailah dari diri sendiri. Nafas gak usah ditahan-tahan kalau foto bareng pas reunian, alis gak usah digambar macem-macem toh gambarnya alis juga. Ingat, gara-gara satu hoax, kita semua jadi gak bisa ngopi-ngopi cantik di surga.

Seruput…