Seandainya Anggota JKT48 Mendirikan Organisasi Feminis

Seandainya Anggota JKT48 Mendirikan Organisasi Feminis

Hello-PET.com

“Aku memutuskan, aku seorang feminis. Pilihan ini tidak sulit untukku,” ucap Emma Watson, aktris yang memerankan karakter Hermione dalam film Harry Potter, saat menyampaikan pidatonya yang memukau di hadapan para petinggi PBB, beberapa tahun lalu.

“Kalian mungkin berpikir, siapa sih gadis Harry Potter ini? Apa yang dia lakukan di Perserikatan Bangsa-Bangsa? Yang aku tahu, aku peduli pada masalah ini (kesetaraan gender),” kata dia penuh semangat.

“Para pria, aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk memberikan kalian undangan formal bahwa kesetaraan gender juga isu kalian,” ujar Emma yang ketika itu berusia 24 tahun.

Beberapa jam setelah pidato di PBB, Emma mendapat banyak ancaman dan intimidasi, terutama dari para hacker yang akan menyebarkan foto tanpa busana Emma. Namun, ia tak surut. Emma bahkan membawa ide feminisme ke film yang dibintanginya, Beauty and the Beast.

Emma Watson seolah ingin menyampaikan pesan, kalau gerakan feminisme tidak melulu dengan melancarkan protes, marah-marah di media sosial, orasi, bahkan tak cukup dengan mengubah undang-undang, apalagi hanya sekadar diskusi di forum-forum.

Kita sebut saja organisasi feminis yang terkenal seperti Femen. Organisasi yang bermarkas di Prancis ini sudah bergerak ke belahan dunia yang lain. Misalnya di Ukraina dan Brasil. Gerakan mereka mengundang decak kagum.

Mereka membela hak-hak perempuan. Namun, mereka lebih banyak melancarkan aksi protes. Pola gerakan yang mungkin sudah terjadi sejak abad 18, meski Femen punya cara yang unik: bertelanjang dada. Pornografi? Ah, mungkin otak saya ini sudah terkontaminasi karena kebanyakan makan micin.

Kalau di Indonesia sendiri bagaimana ya? Saya nyaris tak mendengar. Paling hanya sekelompok grup kecil yang lebih banyak update status dan diskusi di media sosial. Kalaupun bikin kegiatan, paling di kedai-kedai kopi, kafe, atau tempat-tempat lain yang cenderung eksklusif.

Kalau dulu, setelah Kongres Perempuan Indonesia digelar di Yogyakarta pada 1928, banyak bermunculan organisasi feminis. Yang terkenal misalnya Istri Sedar, yang kemudian menjadi Gerakan Wanita Sosialis (Gerwis), cikal bakal dari Gerwani.

Gerwani akhirnya ditumpas, sampai ke akar-akarnya lagi, bersamaan dengan PKI. Tetapi peran mereka tidak bisa disepelekan. Mereka lah yang mengajarkan perempuan-perempuan Indonesia untuk sadar atas hak-haknya sebagai manusia. Mereka bahkan juga ikut aktif membantu pendidikan di Indonesia.

Namun, kalau berkaca dari Emma Watson, gerakan feminisme butuh pola baru, meski nggak baru-baru amat. Untuk menghapus hegemoni budaya patriarki perlu adanya infiltrasi budaya. Sekalipun itu melalui budaya pop.

Entah kenapa, kalau berbicara ini, otak saya yang kebanyakan micin ini langsung tertuju kepada JKT48. Tepatnya, member JKT48. Saya tidak akan bilang karena mereka dianugerahi kecantikan yang bikin gemez. Oh tidak. Tapi, harus diakui, mereka adalah salah satu grup idola dengan fans terbanyak di Asia. Silakan cek sendiri bagaimana militannya fans JKT48.

Bagaimana dengan Cherrybelle? Plisss, tolonglah. JKT48 dan Cherrybelle itu berbeda. Kalau ibarat sepak bola, JKT48 layaknya Barcelona yang tahulah mereka sudah berapa kali juara dalam enam tahun terakhir. Kalau Cherrybelle itu bisa dibilang Arsenal yang sudah cukup bahagia lolos ke Liga Champions.

Fans JKT48 yang mayoritas cowok adalah alasan lain. Cowok lah yang seharusnya disadarkan pentingnya hak-hak perempuan. Feminisme tidak membenci laki-laki, bahkan feminis tidak identik dengan perempuan. Laki-laki juga bisa menjadi seorang feminis.

Melibatkan laki-laki dalam menanggulangi masalah kesetaraan gender adalah cara terbaik. Apalagi, fans JKT48 itu anak-anak muda. Remaja lelaki maupun perempuan. Di sini lah peran strategis para anggota JKT48. Terlebih mereka juga memiliki pengaruh besar di media sosial.

Hampir setiap hari para anggota JKT48 dan para fans menguasai Republik Twitter Indonesia, meski dengan hashtag yang sangat tidak penting itu. Bayangkan, kalau yang nongkrong di daftar trending topic itu bertemakan feminisme?

Saya yakin tak semua anggota JKT48 memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Tetapi, menurut saya, setidaknya ada empat anggota JKT48 yang berpotensi menjadi aktivis feminisme dan mendirikan sebuah organisasi feminis di Tanah Air.

Melody Nurramdhani Laksani

Anggota pertama adalah Melody. Sepertinya kurang tepat kalau mengesampingkan peran Melody dalam menjamin hak-hak perempuan di Indonesia. Melody bukan hanya sosok sentral di JKT48, tetapi ia bisa menjadi pemimpin gerbong perubahan di Indonesia.

Sebagai contoh, Melody telah mendapatkan jabatan sebagai General Manager JKT48. Sebuah jabatan yang tidak main-main. Bahkan, jabatan itu ia raih saat belum mendapatkan gelar sarjana. Berarti, ia menempati pucuk pimpinan di JKT48 dengan bermodalkan ijazah SMA. Luar biasa.

Melody bukan hanya menguraikan kata-kata retoris. Ia adalah bukti konkret bahwa perempuan bisa menjadi pemimpin. Dan, Melody mampu mendobrak itu semua dengan menjadi pimpinan franchise musik terbesar di jagat musik dunia. Mungkin Melody tidak merasa bahwa dia membawa semangat perubahan dan persamaan hak, tetapi percayalah… kamu bisa, Dek…

Nabilah Ratna Ayu Azalia

Ada yang tahu dedek gemez satu ini? Ah, keterlaluan kalau kalian tidak tahu dedek fenomenal yang satu ini. Namanya Nabilah Ratna Ayu Azalia. Panggilannya Nabilah. Masih belum tahu? Ya salam. Ndeso. Oke, lupakan.

Mari masuk ke alasan mengapa salah satu anggota JKT48 itu memungkinkan menjadi feminis. Nabilah memulai karir hiburannya sejak usia masih dini. Saat masih SD. Mau nyinyir situ ngapain waktu masih SD? Sampai saat ini, dia masuk SMA, dia masih terjun di dunia hiburan.

Satu lagi, dia menghasilkan duit. Dia tidak lagi ngemis ke ortu. Bukankah kita selalu mendengar jargon ‘Memberi bukti bukan janji’ selama kampanye? Tetapi, Nabilah bukan politisi. Dia jelas memberikan bukti konkret kesetaraan gender bahwa perempuan juga berhak mendapatkan pekerjaan.

Toh, dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2003 sudah dijelaskan bahwa tidak ada diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan. Perempuan punya kehidupan selain masak dan urus anak. Sesuatu yang tidak bisa diterima oleh beberapa kalangan. Mungkin salah satunya anda. Yang baca ini.

Ratu Vienny Fitrilya

Perempuan juga manusia. Ya iyalah… Meskipun ada yang menganggap bahwa perempuan selalu berada di bawah lelaki, tetapi perempuan tetaplah manusia. Seperti saya, anda, dan ibu anda.

Ada saat dimana anggota JKT48 yang akrab disapa Viny ini marah. Alasannya sederhana. Dia jengah dituduh tidak Islami, hanya karena dia mengenakan pakaian (sedikit) terbuka. Kalian tahu, siapa yang menuduh hal itu? Wota. Fans JKT48 sendiri yang hampir setiap hari di dalam theater JKT48 disuguhi pakaian serba minim.

Viny pernah menyindir fans JKT48 yang menghina tubuhnya. Bagi dia, tubuhnya adalah haknya. Otoritasnya. Mau kecil, pendek, gemuk, atau apa kek, selama dia nyaman, orang lain tidak berhak mengintimidasi. Dan, kalau memang nanti terbentuk organisasi feminis, maka Viny lah yang pantas jadi pimpinan tertinggi. Melody menjadi wakilnya.

Shania Junianatha

Kasusnya tidak jauh berbeda dengan Viny. Dia mendapat julukan ‘Ratu Salkus’. Salkus sendiri adalah salah fokus. Shania, yang terlibat dalam syuting di salah satu acara TV, juga pernah ‘marah’ dengan halus. Sebab, ia sering dikritik karena pakaiannya tidak sesuai umur.

Shania, yang saat itu masih berumur 16 tahun, memang sering berdandan dewasa bagi sebagian orang. Bagi dia, mungkin hal itu adalah biasa. My body, my rules. Dan, anda dan siapapun juga tak berhak mengatur. Dia juga sempat menyindir fans yang hanya menjadikan perempuan sebagai obyek seksual semata.

Jadi gimana? Ourya Oi..!