Emas dan Rasa Gemas Kita di SEA Games

Emas dan Rasa Gemas Kita di SEA Games

Ilustrasi SEA Games 2017 (viva.co.id)

Sudah sekitar 3 tahun sejak Jokowi – saat itu belum presiden, baru sebatas menang – berpidato di Sunda Kelapa menyuarakan bahwa sudah tidak ada lagi nomor 1, tidak ada lagi nomor 2, yang ada nomor 3, persatuan Indonesia.

Namun, sudah 3 tahun pula, kita tak pernah kekurangan amunisi untuk membuat situasi terbelah atau membelah diri. Mulai dari perbedaan suku, agama, ras, sampai jumlah gebetan dan status jomblo, termasuk kadar playboy seseorang.

Dulu, semua itu dianggap sebagai kekayaan. Tapi sekarang tinggal disiram bensin bernama pilpres, pilkada, dan pil-pil lainnya, sehingga memunculkan intoleransi dan membuat bangsa ini terfragmentasi. Ada Cebongers, Ahokers, Jonruholic, sampai pencinta dan kelompok yang hobi nyasar di simpang susun Semanggi.

Rasanya hanya sedikit momen yang bisa bikin kita benar-benar bersatu. Sulit melihat negeri ini benar-benar fokus pada tujuan yang sama. Kalau kata Presiden Jokowi, kita seharusnya ‘kerja, kerja, kerja’, sementara sebagian orang justru lebih menantikan ‘gajian, gajian, gajian’. Kapan ketemunya?

Tapi, kali ini berbeda. Lha kok ya ndilalah momen persatuan itu justru diperoleh dari bantuan warga negara lain. Kan nggak elok? Sebab kita punya cara sendiri untuk mempersatukan bangsa. Misalnya dengan teriak-teriak ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila’.

Adalah pesta olahraga Asia Tenggara atau SEA Games 2017 di Malaysia, yang membantu kita mendadak cinta persatuan. Pertama, di cabang olahraga paling hits, sepak bola.

Berlokasi di Selangor, tim nasional sepak bola Indonesia U-22 berhadapan dengan Timor Leste. Di bawah bimbingan dan asuhan yang baik dari wasit Malaysia, skuad Timor Leste cukup sukses mengimbangi Indonesia yang dilatih Luis Milla, bule asal Spanyol.

Sepanjang 90 menit, ditunjang kompor ala Bung Kus, bangsa ini akhirnya berfokus pada satu nama: Filipe Oliveira. Makhluk hidup yang satu ini tampaknya kebanyakan nonton film Shaolin Soccer. Ia kerap mengeluarkan tendangan Kungfu yang tidak diganjar hukuman apapun oleh wasit.

Mulai dari putra Papua, Marinus, hingga putra Bandung, Febri Hariyadi, Filipe seolah sengaja mengincar segala suku bangsa Indonesia yang menjadi kekayaan negara ini. Betul tidak?

Puncaknya adalah insiden pada akhir pertandingan kala temannya ikut-ikutan main Kungfu dan mengenai Evan Dimas. Keributan terjadi dan bisa dipastikan tim nasional Indonesia sudah sangat siap untuk bal-balan dengan konfrontasi semacam itu. Sudah sangat biasa di Liga 1.

Filipe akhirnya diacungi kartu merah. Segera sesudah memperoleh kartu merah dan secepat kilat pasca pertandingan berakhir, Filipe menjadi sasaran tembak amunisi paling sadis dari Indonesia, yang boleh jadi mengalahkan ampuhnya peluru kendali Kim Jong-Un: amarah netizen!

Akun Instagram Filipe langsung dibom dengan komentar-komentar keji, kejam, tapi ada juga yang lucu atau sekadar jualan peninggi badan. Tidak sekadar foto terbaru yang jadi sasaran tembak, foto yang sudah diunggah sejak zaman batu pun kena amarah netizen.

Kondisi serupa juga terjadi pada akun-akun yang berbau Malaysia. Bahkan netizen – maaf saya belum terbiasa pakai istilah warganet – dengan kemampuan yang mumpuni mampu menjebol website orang. Seolah ini menjadi kebahagiaan hqq melebihi kebahagiaan jomblo yang disurvei BPS.

Nah, lucunya, bom komentar yang mayoritas isinya caci-maki itu berbanding lurus dengan popularitas. Saat akun IG-nya baru saja tersebar, jumlah follower-nya baru 1.000-an. Eh, dua jam kemudian, sudah jadi 3.000-an. Selain komentar yang menghiasi foto-fotonya, jumlah like juga tumbuh sejalan.

Ah, seandainya Filipe kuat iman untuk mengabaikan segala cacian itu dan membiarkan like dan follower bertambah, dia bisa sesegera mungkin dapat order endorse dari First Travel.

Netizen  memang sedang marah-marahnya. Tendangan Filipe seakan menjadi rangkaian insiden di SEA Games Malaysia, setelah bendera Indonesia dicetak terbalik menjadi putih merah.

Belum lagi soal sajian makanan untuk timnas Indonesia U-22. Saat timnas tiba di ruang makan, hanya terlihat makanan-makanan sisa di meja Hotel Royal Chulan, Kuala Lumpur.

Padahal, para pemain serta official sudah kelaparan, hingga akhirnya asisten pelatih timnas U-22, Bima Sakti, berinisiatif untuk mengambil beberapa roti sisa yang ada untuk para pemain.

Yang juga paling menonjol adalah insiden di cabor sepak takraw, yang katanya kita dicurangi secara terstruktur, sistematis, dan masif. Alhasil, amarah netizen Indonesia melebar kemana-mana.

Terlepas dari netizen yang marah itu pekok atau tidak, satu hal yang pasti adalah ternyata bisa lho seluruh netizen Indonesia bersatu demi satu nama: Indonesia.

Tak pelu riset panjang untuk mendalami fakta tersebut. Kalau kemarin sempat melihat foto Filipe yang kena bom komentar, silakan cek IG si komentator dan dengan mudah kita akan menemukan orientasi politik yang begitu berlainan.

Dengan mudah, kita mendapati netizen pro-Jokowi maupun anti-Jokowi bisa bersatu padu merundung Filipe dengan sangat militan. Cek juga foto-foto di IG yang marah-marah akibat bendera Merah Putih dibalik, tapi tidur nyenyak saat sejarah 1965 dibolak-balik.

Semua bani sama-sama marah. Kalau pria berakun Facebook Ringgo belum tercyduk, mungkin dia juga ikutan marah dan menggunakan Wi-Fi gratisan untuk merundung perhelatan SEA Games di Malaysia.

Poinnya adalah kita sebenarnya bisa bersatu. Tapi apa harus amarah yang mempersatukan kita?

Saya jadi punya ide. Bagaimana jika SEA Games 2019 yang katanya akan dihelat di Manila direparasi dengan memindahkan jadwalnya dekat-dekat pemilu di Indonesia. Plus, menugaskan lagi wasit asal Singapura yang katanya curang itu di pertandingan sepak takraw.

Ditambah dengan menambahkan klausul agar Filipe yang dua tahun lagi baru berusia 24 tahun bisa tetap bermain dan Indonesia dibuat satu grup lagi dengan Timor Leste. Dengan begitu, Filipe bisa menendang lagi secara membabi buta.

Kemudian, seluruh negeri ini kembali merundung dan pada akhirnya lupa merundung teman sebangsa yang berbeda pandangan politik. Bagaimana, akur bukan?

Oh ya, satu usul lagi, karena rasa gemas ini akan terus berlanjut, bagaimana kalau SEA Games diubah saja namanya jadi SEA Gemas? Sebab, rasa gemas yang sampai membuat kita lupa perolehan medali emas Indonesia saat ini. Kita itu ada di peringkat berapa, sih?